Kamis, 12 Desember 2013

Sahaba atau Pacar

Sahabat atau pacar
Sebuah pesan memasuki ponselku ketika aku masih asik mendentingkan senar gitar kesayanganku yang baru saja aku ganti

From ina
:’(
Tempat biasa

Pesan singkat yang membuatku langsung saja menyambar kunci motorku yang terletak dimeja dekatku. Tak seperti biasanya malam minggu sperti ini ina mengirimiku sebuah pesan mungkin ini yang pertama kalinya semenjak 6bulan yang lalu tepatnya semenjak ia mendapat kekasih yang baru.
Aku menyusuri jalanan yang padat tujuanku satu tempat aku dan ina biasa menghabiskan waktu bersama, sebuah kaffe yang cukup jauh dari pusat kota namun sangat terkenal akan racikan kopinya.  Aku parkirkan motorku begitu saja dan terburu-buru memasuki tempat itu mencari sosok yang sangat kukenal dan aku bernafas lega begitu aku melihatnya, dia duduk termenung dimeja faforit kami, aku menghampiri sahabatku itu sahabat yang telah sekian lama aku cintai namun tak berani aku mengatakannya karena aku terlalu takut semuanya menghancurkan apa yang telah terjadi selama ini.
Aku duduk dihadapannya tanpa berkata apapun. Dimeja sudah ada dua minuman faforit kami segelas capuccino hangat dengan sebotol soda dan segelas batu ice. ‘ini passti ada sesuatu yang terjadi’ batinku. Ina selalu melarangku meminum soda namun kali ini dia menyediakannya untuk pasti sesuatu terjadi
  “ada apa?” kataku sambil menuangkan soda dari botol kegelas. Tak ada jawaban dari ina, dia hanya menatap lampu kota yang terlihat indah dari ketinggian
  “ok kalau tak mau bicara aku juga tak mau memaksa” kataku mengambil ponsel dan memulai sesuatu dengan ponselku
  “seperti yang kau lihat” katanya sambil tak lepas dari pandangan kota malam hari
  “aku hanya bisa melihat kau yang melamun tak mengerti apa yang terjadi” aku jujur memang seperti itu. aku membiarkan dia agar bercerita dengan sendirinya
  “bagas, hari ini dia mendadak membatalkan janji kami” akhirnya dia memberitahuku apa yang meyebabkannya seeperti ini
  “ya sudahlah biarkan saja” kataku enteng
  “dia janji lebih dari seminggu yang lalu dan dia membatalkan semuanya 10menit sesudah aku berada disini dengan alasan dia diajak futsal oleh sahabatnya”
  “jadi ini yang membuatmu seperti ini?” aku menarik kesimpulan
  “kalau disuruh milih, antara pacar dan sahabat kau pilih mana?” pertanyaan klise yang sering terjadi saat hubungan dengan seseorang tercampuri oleh kata sahabat
  “kamu sendiri milih mana?” aku tidak memberikan jawaban namun pertanyaan agar ina menjawab apa yang dia tanyakan
  “sahabatlah. Sahabat tuh akan selalu ada buat kita. Sedang pacar terkadang Cuma datang kalau kebelet kangen”
  “berarti kamu dan bagas punya pemikiran yang sama lalu kenapa kamu mesti marah?” aku membalikan pertanyaan itu ke ina. Dia terdiam mungkin membenarkan semua perkataanku
  “kamu sendiri? Milih mana? Sahabat atau pacar?” pertanyaan yang sudah aku duga akan keluar dari mulut ina. Dengan satu tarikan nafas aku menjawab
  “antara sahabat dan pacar? Emm...” sejenak aku memutar otak “aku lebih memilih pacaran dengan sahabatku”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...