Kuarahkan 125ku kearah coffeshop dimana aku dan dia selalu menghabiskan waktu bersama, walau hanya sekedar duduk dan saling diam karena pekerjaan masing-masing. Aku pakirkan 125 disalah satu sudut ditempat coffeshop ini, sudut yang jarang terjamah oleh pengendara lain karena letaknya sedikit jauh dari bangunan kafe. Aku duduk ditempat biasa aku dan dia duduk, disalah satu sudut coffeshop dekat dengan taman serta kolam yang gemricik airnya, kali ini aku tidak menghabiri mini bar tempat barista yang sudah lama aku kenal meracik minuman andalannya. Aku hanya duduk dan diam menunggu seseorang menghampiriku.
“eh mba asa sendirian aja, mas awannya kemana?” danu pastry chef, pemilik coffeshop yang terkadang merangkap sebagai pelayan coffeshop ini menghampiriku
“lagi dines keluar kota” kataku singkat. Aku sedang tak ingin banyak bicara tentang awan yang beberapa hari ini terlalu dekat dengan pekerjaannya
“sepertinya mba asa sedang galau kangen mas awan ya?” godanya , ia berusaha mencairkan senyuman diwajahku dan itu cukup berhasil aku tersenyum mengiyakan apa yang danu tanyakan
“kalau begitu tunggu sebentar ya mba” danu pergi tanpa menanyakan apa yang ingin aku pesan tapi sudahlah ia hapal apa yang selalu aku pesan jika aku kesini. Aku membuka agendaku dan mulai mencatat perjalan beberapa hari lalu.
Danu datang, dia membawa sesuatu dinampan sepertinya sesuatu yang hangat dan manis serta sesuatu yang selalu membuatku tersenyum
“ini spesial buat mba asa” danu menyodorkan coklat panas dan sepotong stroberry cake lalu duduk didepanku
“kenapa coklat panas? Kan biasanya cappuchino?” aku bingung
“ini bisa merubah suasana hati dan ini juga minuman faforit mas awan” katanya, sepertinya dia lebih paham tentang awan dari pada diriku
“ya coklat panas, tapi dia selalu memesan moccachino jika bersamaku” aku berkata sambil memandang secangkir coklat panas dihadapanku
“itu karena mas awan dapat dua sekaligus. Kopi yang mba asa suka dengan coklat yang dia suka” jelas danu
“sepertinya kau lebih tahu banyak tentang awan?” tanyaku akhirnya
“kemarin mas awan kesini sendirian. Raut wajahnya sama sperti mba asa sekarang galau seperti ada sesuatu yang tak rela untuk ditinggalkan dan mas awan cerita semuanya kenapa mas awan suka coklat, betapa mas awan suka mba asa sampai kekhawatiran mas awan ketika mau pergi keluar kota. Mas awan takut mba asa bakalan kesepian saat sabtu malam seperti ini. Mas awan juga minta aku sama bian untuk menemani mba asa ngobrol jika mba asa kesini” danu bicara panjang lebar sepertinya apa yang awan katakan akan dia sampaikan padaku. Aku memotong stroberry cake dan danu mulai bercerita, dia mengatakan semua yang awan katakan padanya kepadaku
“..begitu mba kata mas awan” danu mengakhiri ceritanya tepat saat aku menghabiskan stroberry cake miliku
“terima kasih untuk malam ini, untuk cakenya yang selalu enak serta coklat panasnya” kataku sambil tersenyum
“sama-sama kalau coklat panasnya itu pesenan mas awan dia pesan kalau mba asa datang jangan kasih capuccino kasih coklat panas saja biar bisa tidur nyenyak malam ini” kata danu lagi. Aku tersenyum
“tak apa kau ngobrol denganku kafe sedang rame lho?”
“nggak apa mba, saya kan paling berkuasa disini” ia mulai mengeluarkan kesombongannya
“terima kasih” aku tersenyum lagi. Tak lama ia pergi seseorang memanggilnya untuk menyiapkan sesuatu dibalik layar dari kafe ini tepat seseorang menelfonku. Layar ponselku dipenuhi gambar wajahnya yang berhelm dan masker benar-benar tak terlihat wajah hanya sepasang matanya yang mempunyai tatapan yang tajam namun meneduhkan
“hay..” kataku gembira ya hatiku senang walau tak melihat wajahnya, suaranya pun cukup menangkan hati
“pasti lagi dikaffe biasa?”
“iya..”
“sendiri?”
“nggak kok, tadi danu nemenin dia crita semuanya yang kamu ceritakan ke dia”
“terima kasih untuk malam ini, aku pikir aku akan sendirian ternyata tidak dan terima kasih juga coklat panasnya setidaknya bisa mengobati kangenku dengan seseorang yang selama ini menyembunyikan sesuatu yang disukainya”
“sama-sama”
Pemalang, 15 oktober 2013
-untukmu penyuka coklat seperti aku-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar