Selasa, 15 Juli 2014

waktu bersama mika

Kami sampai disebuah taman didataran tinggi dikota kami. Aku, mika dan 12 orang team asuhan mika mengadakan piknik merayakan kemenangan sekaligus belajar untuk lebih solid lagi. Kami bukan hanya akan piknik kami juga akan akan outbound, pembentukan karakter untuk menjadi sebuah team yang solid
"Kalau kaya gini mirip ibu2 yang nganter 11anak laki2 bermain" keluhku karena kenyataan tak sesuai dengan apa yang diucapkan mika, beberapa hari sebelumnya mika memintaku menemaninya menemani team basket yang ia latih, awalnya aku pikir dua team yang akan ikut, team laki2 dan perempuan namun ternyata hanya team laki2 yang pergi dengan alasan hanya team laki2 yang menjuaraipertandingan antar sekolah minggu lalu
"Bukan 11ank laki2 tapi 10ank laki2 dan satu anak perempuan" timpalnya sambil mempercepat langkahnya, mungkin untuk mengurangi beban dari apa yang dia bawa
"Mana iput?" Aq berusaha menyamai langkahnya, walau sedikit susah dengan sekotak buah ditanganku. Aku mencari iput diantara rombongan anak laki2 yang berada didepan kami. Iput manager team basket yang selalu ada dimanapun team berkumpul, ia akan jadi paling cantik disetiap saatnya jika mika tidak memaksaku menemaninya.
Kami sampai disebuah gazebo yang dapat kenampung 10orang, mereka sudah siap dengan kotak nasi masing2. Aku tersenyum, aku teringat ketika aku dan mika pergi piknik dengan kedua ponakan kembarny yang masih berumur 5tahun sungguh merepotkan tapi sangat menyenangkan
"Mba udah pernah kerumah mas mika? Ketemu orang tuanya?" Gana yang duduk disebrangku tiba2 bertanya seperti itu
"Iya, udah ketemu ibunya mas mika juga" kataku sambil tersenyum menanggapi pertanyaan gana yang aneh
"Mas mika juga?" Kini gana menoleh kearah mika, mika mengangguk, mengiyakan pertanyaan gan
"Tinggak nunggu undangan nih" celetuk bagus yang terkenal iseng mulai menggoda aku dan mika disemua kesempatan. Semuanya tertawa, aku juga tersenyum hanya mika tak bereaksi tak seperti biasanya. Dia berdiri dan berkata
"Setengah jam lagi harus siap dan saatnya kita bersenang-senang" katanya dengan gaya khas jika itu sesuatu yang menyenangkan. Dia beranjak.akan pergi, akj penasqran ia hendak kemana
"Mau kemana?" Tanyaku
"Ketemu instruktur outbound, kamj disini awasi anak2 kita" candanya kembali, selalu bilang anak kita bila kami jadi yang tertua dari semua yang ada. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya dan menatap kepergiannya.
Semua telah bersiap untuk mulai bersenang-senang, mika dan seluruh team instruktur telah bersiap dilapangan yanv dikelilingi pohon pinus, hanya iput yang dari tadi asik dengan ponselnya
"Kamu gak ikutan?" Tanyaku begitu melihat iput hanya duduk tak mengikuti teman2nya kelapangan, ia menggelangkan kepalanya menandakan tidak. Aku melirik kotak nasi yanh tadi dibagikan masih belum tersentuh begitu dengan kotak makan berisi buah yang selalu dibawanya, belum ada setengah yang dia makan
"Kamu knapa? Patah hati?" Tanyaku mencari tahu ada apa gerangan dengan iput hari ini
"Gak pa2 kok mba lagi autis aja sama games baru" jawabnya, seperti menyangkal sebuah keadaan yang tak ingin orang lain ketahui
"Ya udah kalau gitu makan dlu" aku menyodorkan kotak nasi kepadanya
"Aku fruitarian mba" ia kembali beralasan agar tak memakan nasi kotak miliknya
"Aku juga fruitarian tapi aku juga makan yg lain karena aku tahun tubuh kita butuh sesuatu yang lain yang tak ada didqlam buah" jelasku "sekarang ayo makan" lanjutku. Iput menerima nasi kotak yang kusodorkan dan mulai memakannya
"Mba udah kenal mas mika lama?" Iput membuka pembicaraan, beberapa saat setelah menghabiskan nasi kotak miliknya dan mulai bergabung denganku, duduk direrumputan diawah pohon pinus didataran yang lebih tinggi dari tempat mika dan 11 anak buahnya
"Baru beberapa tahun sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Kamu kenal dia kapan?"
"Setahun lebihlah" jawab iput "ada yg berubah dari mas mika dari pertama mba kenal sampai sekarang?" Ada yang menarik dari mika dimata iput
"Tak ada yang berubah dari dia, dari pertama kenal hingga saat ini ya kecuali fisiknya" jelasku "kamu suka sama mas mika?" Godaku, siapa yang tak suka dengan orang sebaik dia
"Nanti mba dian marah? Cuma lagi suka cwo dan sikapnya mirip mas mika" kata iput seakan menerawang ke arah mereka yang tengah asik dengan permaianan
"Mungkin sebagian sama tapi ada yang beda, mas mika itu terkadang ceroboh"
"Ceroboh? Sepertinya nggak deh" iput mencoba menyangkal apa yang aku ucapkan
"Iya, sepertinya dia akan yang selalu terlibat masalah jika qta sedang bermain2 seperti ini, dlh pertama kali kami pergi keacara api unggun dia dia yg tak sengaja meminum minyak tanah, sekarang entah apa yang akan terjadi" aku menganalisa karena dia selalu yang terkena musibah.
Tak lama apa yang aku kira terjadi, mika berlari menjauh dari kerumunan, dia diikuti salah satu instruktruk dan afmi berlari membawa segelas air mineral lalu diberikan ke mika. Mika mulai mencuci matanya setelah instruktur matanya berusaha agar sesuatu yang masuk kematanya keluar. Afmi menghampiriku meminta sebuah tisu, aku menyodorkan sekotak tisu dan ia mengambil satu dan mulai berlari menghampiri mika. Aku mengukuti afmi menghampiri mika dan memperhatikan apa yang afmi lakukan, ia berusaha mengambil sesuatu dari mata mika menggunakan tisu
"Udah ah mba dian aja yang cewe" afmi menyerah, ia menyerahkan tisu yang dia pegang kepadaku. Aku menggandeng mika agar ketepi lapangan dan melihat apa yang masuk dimata mika. Kudapati sesuatu disudut matanya sepertinya bedak yang digunakan dalam permainan
"Tahan sebentar" aku mulai memcoba mengambil kotoran itu. Ia diam menuruti apa yang aku ucapkan
"Masih ada ini" ia protes, merasa masih ada yang mengganjal dimatanya
"Sabar ini tisunya terlalu besar" kataku sambil membuat tisu agar lebih meruncing. Perlahan dan kotoran itu berhasil keluar dari matanya, ia bernafas lega
"Terima kasih, kau selalu jadi penolongku dan selalu ada saat aku butuhkan" katanya sambil menangkup kedua pipiku dan menatapku lekat. Matanya kini kembali ceria tak seperti tadi walau kini sedikit merah
"Cieee, ehem, romantisnya.." anak2 mulai meledek kami, mungkin pemandangan seperti ini jarang mereka lihat atau jarang kami pertunjukan
"Udah diem" kata mika kesal, dia malu sama sepertiku
"Udah cuci matamu dlu lalu pakai tetes mata dikotak obat yang ditasku" aku meyodorkan air kemasan dalam gelas yang belum dibuka ke mika
"Makasih banget, kalau gak ada mereka udah tak peluk kamu" dia tersenyum, candanya yang terkadang berlebihan kembali keluar. Mika mencuci matanya dan pergi ke gazebo dan mengambil tetes mata lalu menghampiriku lagi memintaku membantunya meneteskan obat tetes mata ke matanya
"Mba dian sama mas mika bikin iri aja" iput memasang wajah iri dengan kedekatanku dengan mika
"Kamu juga, tanpa sadar kau dan bagus juga bikin yang lain iri" kataku tak mau kalah
"Yang mana?" Sepertinya iput benar-benar tak tahu dengan apa yang dilakukan dia denga bagus tempo hari
"Saat bagus membetulkan letak topimu, sepele tapi itu sebuah perhatian kecil yang terlihat sangat tulus"
"Mba benar, bagus terkadang terlalu perhatian dengan hal kecil padaku tapi kadang iput pengen lihat bagus staycool depan yang lain"
"Sekarah ketahuan siapa yg kamu suka, orang seperti mereka tak bisa staycool, contohnya mas mika waktu jemput mba dia bilang mau pasang image cool seharian ini tapi nyatanya gak bisa, mungkin klo dia menuruti apa yg diucapkan tadi pagi mungkin kejadian barusan gak bakal terjadi" kataku panjang lebar
"Dan foto romantis ini gak bakalan ada" kata iput sambil menunjukan beberapa fotoku bersama mika, mulai saat aku mencoba membersihkan mata mika hingga saat mika menangkupkan kedua tangannya dipipiku.

Ska, 19 juni 2014
Jangan berubah aku suka kau yang seperti itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...