Selasa, 15 Juli 2014

rindu dia

Kami telah berkumpul ditempat yang telah kami janjikan sebelumnya, aku berdiri was-was menanti kabar dari seseorang yang belum juga datang
"Dimana dia? Jadi ikut tidak?" Salah seorang dari kami bertanya padaku dengan kesal
"Sabar dia baru telat 15menit, tidak sepertimu, kami harus menunggumu lebih dari dua jam" aku menjawab dengan kesal, sekalian saja kulontarkan semua yang selama ini aku sembunyikan dari orang itu. Dia diam, menyadari kesalahannya beberapa waktu yang lalu. Ponselku berbunyi, aku tersenyum lega, akhirnya dia menghubungiku setelah beberapa pesan yang aku tinggalkan dan panggilan dariku yang dia abaikan
"Kamu dimana?" Tanyaku begitu mendengar suaranya
"Maaf aku tak bisa ikut" dia meminta maaf namun aku sudah terlanjur kesal
"Kenapa? Kamu udah janji denganku untuk pergi bersama aku dandan teman2ku hari ini" aku tumpahkan semua kesalku, dia diam tak mejawab "ok kalo kamu kaya gitu, mending bubaran aja wes" kesalku sudah memuncak, aku mematikan telfonnya darinya dan bersiap untuk berangkat
"Ok qta berangkat sekarang, temanku tak jadi ikut" kataku dengan nada yang masih kesal

Kami sampai disebuah pantai yang landai dengan pasir putih yang lembut. Kulihat semua temanku bergembira dan aku tersenyum yah semua kesalku hilang melihat pemandangan yang menakjubkan yang disuguhkan gratis oleh alam dohadapanku. qku duduk di tepi pantai, tepat dimana ombak pecah dan kembali membawa pasir2 yang halus. Ini bukan pertama kalinya aku kesini, ini sudah toga atau empat kalinya aku kesini.
"Sudah tak usah sedih masih banyak yang lain" seseorang tiba2 duduk disampingku dan mencoba menenangkanku. Aku tak peduli siapa yang dulu disampingku, aku terus saja menatap cakrawala yang memisahkan antara yang terlihat dan yang tidak terlihat
"Kau salah mengira, bukan seperti itu" jelasku dengan kalimat yang masih ambigu
"Lalu" dia bingung, dia benar2 tak mengerti aku
"Seharusnya aku disini menikmati laut, meantari dan bau khas pantai dengan dia yang lain bukan dengan yang aku marahi tadi juga bukan dirimu" jelasku
"Diam2 kau playgirl juga ya?" Dia menyimpulkan dengan seenaknya
"Boleh pinjam pundakmu?" Aku bertanya tanpa melihat wajahnya
"Silahkan" katanya memperbolehkan, aku langsung menyandarkan kepalaku dipundaknya, sebenarnya bukan pundak seperti ini yang aku rindukan saat ini. Aku merindukan menyadarkan kepalaku dipundaknya, aku rindu tawanya yang selalu ceria, aku rindu ucapannya yang terkadang tak terduga, aku rindu semua yang menyangkut dirinya saat ini
"Maaf untuk yang tadi aku hanya kesal temanku membatalkan janji begitu saja padahal yang lain sudah berbaik hati untuk menunggu" aku meminta maaf atas kekesalanku yang kutimpakan pada dia yang kini duduk disampingku
"Tak apa" jawabnya singkat, kami berdua terdian menikmati suasan keceriaan yang terjadi di pantai saat itu. Tiba2 saja dia menjentikan jarinya beberapa orang dari kami menghampiriku dan dia, dengan sigap dia dibantu yang lain membopongku dan meleparku kelaut. Kejutan yang tak terduga, seperti beberapa waktu yang lalu dipantai ini ketika aku datang bersama dia yaang kurindukan bukan dia yang menghubungiku sebelumnya juga bukan dia yang menceburkanku kali ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...