Aku sedang sibuk dengan
jejaring sosial ketika sebuah pesan masuk ke inbox ponsel
‘hay’
hanya tiga huruf isi pesan tersebut
‘hay
juga’
balas aku, aku berpikir mungkin dia s ipengirim pesan sedang tak ada
kerjaan
‘nggak
malam mingguan sama pacar?’
pesan balasan yang aku dapat.
Cukup menusuk bagiku karena diusiaku sekarang aku belum punya pacar
‘untuk
sekarang cukup dengan laptop dan jejaring sosial, kamu sendiri?’
aku berkilah tak mau berbicara
secara langsung jika aku sedang jomblo untuk sekarang.
‘saya
jomblo jadi tak ada jadwal yang harus memaksa saya untuk malam mingguan’
aku tersenyum membaca pesan
yang dikirim oleh temanku ini, temanku yang satu ini memang sama sekali tak
gengsi mengakui jika dia sedang jomblo
‘jadi
sesama jomblo jangan saling ledek, so ada apa?’
balasku yang mulai ke inti ada
apa gerangan temanku ini mengirimiku pesan
‘tak
ada apa-apa, anggap saja keisengan jomblo dimalam minggu J’
aku kembali tersenyum oleh
temanku ini tak pernah kehabisan topik jika untuk bersms ria denganku. Aku tak
langsung membalas pesan untuknya tapi mematikan laptop dan mencabut modem dan
mengeluarkan kartu lalu aku masukkan ke ponsel kesayanganku
‘ ya
dah klo gak da yang penting. Pulsaku habis ini nomer modemku. Asa.’
Tak sampai satu menit setelah
pesan terkirim,sebuah panggilan masuk keponsel aku. Privat number tak ada
keterangan siapa gerangan yang menelfon
“halo
siapa ini, sekarang bukan jamanya privat number ya..” kata ku bengitu menekan
tombol terima. Sebenarnya aku tahu siapa yang menelfonnya
“oh
gitu ya gak kenal suaraku ok” suara disebrang sana merasa dikecewakan
“yaya
aku tahu itu kamu jangan marah ya. Tumben nelfon biasane Cuma sms aja” kata aku
sambil membuka buku yang sudah lama aku pending untuk dibaca
“hehee...”
dia tertawa ”taulah kenapa aku nelfon alasan klise persamaan provider hahaa..”
dia kembali tertawa
“itu
dapat dimaklumi karena provider utamaku emang mahal. Sebenarnya ada apa nelfon”
aku kembali kepokok pembicaraan ada gerangan
“ok
langsung kepokok makulahnya aku mau minta maaf tentang dia yang melibatkanmu
dalam urusanku dengannya”
“oo...makulah
itu gak pa-pa kok mungkin resiko aku sering becandain kamu dijejaring sosial
heehee..”
“tapi
aku tetep aja gak enak sama kamu”
“benaran
gak pa-pa kok lagian dia juga baik sama aku jadi gak mungkin aku jahat sama dia
ditambah aku punya temen baru” jawabku mencoba untuk menenangkannya
“makasih
oia aku boleh tahu dia ngapain aja?” aku mulai cerita semua yang terjadi antara
orang yang mereka bicarakan dengan aku
“jadi
dia penasaran banget tentang aku?” orang disebrang sana menarik kesimpulan
“iya
banget malah.. ayo kamu harus tanggung jawab udah bikin anak orang penasaran”
ledek aku. Bukan sebuah jawaban namun hanya sebuah tawa yang aku dapat
“sekarang
gantian aku yang cerita” nada suarnya berubah dari awalnya yang terdengar ceria
kini berubah menjadi serius dan dia mulai cerita bagaimana awalnya dia kenal
dengan orang itu, kesan pertama dia berjumpa sampai akhirnya dia benar-benar
dengan orang itu.
“oia
dia pernah nanyain kamu lho..”
“hey
aku tahu dia beberapa minggu yang lalu”
“iya,
dia tanya ke aku gini ‘siapa asa? Pacar kamu?” jelasnya. Aku tertawa kaget
kenapa sampai orang itu seperti ada kesan cemburu yang tertutupi
“ya
bilang kamu temen aku tapi dia masih gak percaya dia malah tanya lagi aku suka
sama kamu aku jawab iya suka karena kamu teman aku kita kan udah temenan dari
lama lagian klo gak suka mana mungkin aku bakalan mau sms kamu telfon kamu
nanggepin becandaan kamu yang kadang bikin kesel“ aku tertawa begitu mendengar
kalimat terkahir yang dilontarkan temannya itu
“tenang
aja ini bukan untuk pertama kalinya buat aku disangka pacar orang kok jadi
santai saja selama sesuai dengan kenyataan tak masalah buatku. Hmm mungkin
waktu dia tanya aku temen kamu atau pacar kamu trus aku bilang aku ini pacar
kamu pasti bakalan rame yah kamu pasti dikejar-kejar sama temen-temen dia” aku
tertawa, dia suka sekali bercanda dengan temannya yang satu ini
“kamu
ini gitu banget sih, tapi satu yang gak aku suka kenapa selama aku deket dia
selalu cerita sedih diginiin temene
digituin pacarelah pokoknya gak pernah cerita seneng”
“berarti
dia nganggap kamu itu istimewa bisa jadi tempat berbagi susah tahu cwe nemuin
tempat curhat apalagi buat cerita yang sedih-sedih” jelasku
“tapi
kenapa sekarang dia menghindar dari aku, aku telfon tak diangkat lalu aku coba
pake nomer lain pasti diangkat tapi langsung mati begitu dengar suaraku apa aku
ini emang nakutin?” dia mencoba mencari penjelakun
“iya
kamu nakutin aku dulu aja gak berani ngomong sama kamu” aku tertawa lalu
melanjutkan lagi bicaraku “cwe itu sukanya cerita kesiapa aja lagi deket sama
orang diceritain ketemen-temene, lah mungkin dia cerita dan teman-temannya
nagsih saran lalu dia menarik kesimpulan dengan menjauhi kamu itu bisa saja
tapi saranku coba terus hubungi dia jangan berhenti setelah kamu tahu orangnya
seperti apa” aku menyarankan begitu
“ribet
jadi pengen balik lagi kemaku SMA walaupun ketemu orang-orang yang sama tapi
pasti punya cerita berbeda setiap harinya”
“iya benar
aku juga sering banget pengen balik kemaku SMA dulu”
Obralan kini berubah topik
menjadi reuni dadakan via telepon mengenang masa-masa sekaloh dulu
“makasih
udah mau ndengerin penjelasanku sama makasih udah jadi teman berbagi kenangan
waktu SMA”
“iya sama-sama
mungkin itu resiko jadi orang yang suka ngisengin kamu” aku tertawa menandakan
aku hanya bercanda
“udah
malam barangkali kamu mau tidur”
“akhirnya
kamu ngerti juga dari tadi udah ngantuk banget”
“ya
udah selamat tidur jangan lupa mimpiin aku”
“yang
ada kamu yang mimpiin aku karena selalu terbanyang dengan suaraku yang seksi
dan wajahku yang manis ini” aku tertawa rasanya menyenangkan sekali menggoda
dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar