Senin, 25 Februari 2013

curhatnya


Aku sedang sibuk dengan jejaring sosial ketika sebuah pesan masuk ke inbox ponsel
‘hay’ 
hanya tiga huruf isi pesan tersebut
‘hay juga’ 
balas aku, aku berpikir mungkin dia s ipengirim pesan sedang tak ada kerjaan
‘nggak malam mingguan sama pacar?’
pesan balasan yang aku dapat. Cukup menusuk bagiku karena diusiaku sekarang aku belum punya pacar
‘untuk sekarang cukup dengan laptop dan jejaring sosial, kamu sendiri?’
aku berkilah tak mau berbicara secara langsung jika aku sedang jomblo untuk sekarang.
‘saya jomblo jadi tak ada jadwal yang harus memaksa saya untuk malam mingguan’
aku tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh temanku ini, temanku yang satu ini memang sama sekali tak gengsi mengakui jika dia sedang jomblo
‘jadi sesama jomblo jangan saling ledek, so ada apa?’
balasku yang mulai ke inti ada apa gerangan temanku ini mengirimiku pesan
‘tak ada apa-apa, anggap saja keisengan jomblo dimalam minggu J
aku kembali tersenyum oleh temanku ini tak pernah kehabisan topik jika untuk bersms ria denganku. Aku tak langsung membalas pesan untuknya tapi mematikan laptop dan mencabut modem dan mengeluarkan kartu lalu aku masukkan ke ponsel kesayanganku
‘ ya dah klo gak da yang penting. Pulsaku habis ini nomer modemku. Asa.’
Tak sampai satu menit setelah pesan terkirim,sebuah panggilan masuk keponsel aku. Privat number tak ada keterangan siapa gerangan yang menelfon
“halo siapa ini, sekarang bukan jamanya privat number ya..” kata ku bengitu menekan tombol terima. Sebenarnya aku tahu siapa yang menelfonnya
“oh gitu ya gak kenal suaraku ok” suara disebrang sana merasa dikecewakan
“yaya aku tahu itu kamu jangan marah ya. Tumben nelfon biasane Cuma sms aja” kata aku sambil membuka buku yang sudah lama aku pending untuk dibaca
“hehee...” dia tertawa ”taulah kenapa aku nelfon alasan klise persamaan provider hahaa..” dia kembali tertawa
“itu dapat dimaklumi karena provider utamaku emang mahal. Sebenarnya ada apa nelfon” aku kembali kepokok pembicaraan ada gerangan
“ok langsung kepokok makulahnya aku mau minta maaf tentang dia yang melibatkanmu dalam urusanku dengannya”
“oo...makulah itu gak pa-pa kok mungkin resiko aku sering becandain kamu dijejaring sosial heehee..”
“tapi aku tetep aja gak enak sama kamu”
“benaran gak pa-pa kok lagian dia juga baik sama aku jadi gak mungkin aku jahat sama dia ditambah aku punya temen baru” jawabku mencoba untuk menenangkannya
“makasih oia aku boleh tahu dia ngapain aja?” aku mulai cerita semua yang terjadi antara orang yang mereka bicarakan dengan aku
“jadi dia penasaran banget tentang aku?” orang disebrang sana menarik kesimpulan
“iya banget malah.. ayo kamu harus tanggung jawab udah bikin anak orang penasaran” ledek aku. Bukan sebuah jawaban namun hanya sebuah tawa yang aku dapat
“sekarang gantian aku yang cerita” nada suarnya berubah dari awalnya yang terdengar ceria kini berubah menjadi serius dan dia mulai cerita bagaimana awalnya dia kenal dengan orang itu, kesan pertama dia berjumpa sampai akhirnya dia benar-benar dengan orang itu.
“oia dia pernah nanyain kamu lho..”
“hey aku tahu dia beberapa minggu yang lalu”
“iya, dia tanya ke aku gini ‘siapa asa? Pacar kamu?” jelasnya. Aku tertawa kaget kenapa sampai orang itu seperti ada kesan cemburu yang tertutupi
“ya bilang kamu temen aku tapi dia masih gak percaya dia malah tanya lagi aku suka sama kamu aku jawab iya suka karena kamu teman aku kita kan udah temenan dari lama lagian klo gak suka mana mungkin aku bakalan mau sms kamu telfon kamu nanggepin becandaan kamu yang kadang bikin kesel“ aku tertawa begitu mendengar kalimat terkahir yang dilontarkan temannya itu
“tenang aja ini bukan untuk pertama kalinya buat aku disangka pacar orang kok jadi santai saja selama sesuai dengan kenyataan tak masalah buatku. Hmm mungkin waktu dia tanya aku temen kamu atau pacar kamu trus aku bilang aku ini pacar kamu pasti bakalan rame yah kamu pasti dikejar-kejar sama temen-temen dia” aku tertawa, dia suka sekali bercanda dengan temannya yang satu ini
“kamu ini gitu banget sih, tapi satu yang gak aku suka kenapa selama aku deket dia selalu cerita sedih  diginiin temene digituin pacarelah pokoknya gak pernah cerita seneng”
“berarti dia nganggap kamu itu istimewa bisa jadi tempat berbagi susah tahu cwe nemuin tempat curhat apalagi buat cerita yang sedih-sedih” jelasku
“tapi kenapa sekarang dia menghindar dari aku, aku telfon tak diangkat lalu aku coba pake nomer lain pasti diangkat tapi langsung mati begitu dengar suaraku apa aku ini emang nakutin?” dia mencoba mencari penjelakun
“iya kamu nakutin aku dulu aja gak berani ngomong sama kamu” aku tertawa lalu melanjutkan lagi bicaraku “cwe itu sukanya cerita kesiapa aja lagi deket sama orang diceritain ketemen-temene, lah mungkin dia cerita dan teman-temannya nagsih saran lalu dia menarik kesimpulan dengan menjauhi kamu itu bisa saja tapi saranku coba terus hubungi dia jangan berhenti setelah kamu tahu orangnya seperti apa” aku menyarankan begitu
“ribet jadi pengen balik lagi kemaku SMA walaupun ketemu orang-orang yang sama tapi pasti punya cerita berbeda setiap harinya”
“iya benar aku juga sering banget pengen balik kemaku SMA dulu”
Obralan kini berubah topik menjadi reuni dadakan via telepon mengenang masa-masa sekaloh dulu
“makasih udah mau ndengerin penjelasanku sama makasih udah jadi teman berbagi kenangan waktu SMA”
“iya sama-sama mungkin itu resiko jadi orang yang suka ngisengin kamu” aku tertawa menandakan aku hanya bercanda
“udah malam barangkali kamu mau tidur”
“akhirnya kamu ngerti juga dari tadi udah ngantuk banget”
“ya udah selamat tidur jangan lupa mimpiin aku”
“yang ada kamu yang mimpiin aku karena selalu terbanyang dengan suaraku yang seksi dan wajahku yang manis ini” aku tertawa rasanya menyenangkan sekali menggoda dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...