Rabu, 17 Oktober 2012

gelap


satu jam sudah kegelapan menyelimutiku hanya seberkas cahaya dari sepotong lilin kecil yang menemaniku menarikan kata-kata yang tak indah ini. diluar hujan telah berganti dengan gerimis yang menyejukan. ribuan tetes-tetes kecil air berlomba basahi apa yang ada dijumpainya tak terkecuali mereka yang tengah asik menyusuri jalanan yang penuh maple yang bingung akankah mengubah daunya jadi hijau atau akan tetap merah seperti jingga pada senja dimusim panas. kegelapan kian mencekam. lilin kecil tak sanggup lagi berikan cahayanya untuk terangi ruangan dimanan ia berada. ia lemah. ia lelah. ia tak punya apa lagi untuk bertahan



Kamis, 27 September 2012

ramadhan 21


Teringat kembali akan kejadian sehari tepat sebelum bulan puasa tahun lalu. Aku tak tahu setan apa yang merasukiku pagi itu yang ku tahu begitu aku bangun dari tidurku kudapati rumah dalam keadaan sepi hanya ada mbahku yang tiduran dikursi depan televisi. entah kenapa aku langsung tak berminat membagi suaraku dengan siapapun dengan mbahku sekalipun. benar-benar yang sepatah katapun keluar dari mulutku. Itu akhir dari hari-hariku yang penuh kebosanan. Setahun berselang ramadhan ke 21 aku mendapat telepon agar aku cepat kembali kekota asalku entah kenapa sepertinya ada sesautu yang seharusnya aku tahu namun mereka tak menceritakan padaku. sesampainya dikota asalku, aku dijemput sepupuku, sepupuku yang malam sebelumnya berjanji akan menjemputku walaupun aku tahu saat itu dia hanya bercanda denganku saja. dan betapa terkejutnya aku begitu sampai aku dipelataran rumah. Banyak orang didepan rumahku dan aku aku tahu ketika aku memasuki rumah. beliau yang biasanya menyambutku sambil duduk dibangku  didepan televisi kini tak ada. beliau menyembutku sambil tidur dengan wajah yang yang tenang sangat tenang bahkan melebihi ketenangannya saat tidur tak kuasa kubendung air mata ini ya beliau sudah sempurna dalam menjalani hidup ini. beliau sudah menjalani takdir terkahirnya sebagai manusia. semoga beliau tenang disisi Dia. Dia penguasa seluruh isi alam ini.

Proposal


Proposal
Malam itu aku duduk dengan awan disalah satu bangku ditaman kota. Awan bukanlah orang baru dalam kehidupanku. Dia sudah 18 bulan menemani hari-hariku walau harus dengan sebuah media yang memperingkat jarak dan waktu. Dia sebenarnya kawan lama, rekan kerja saat kami masih menjadi anak sekolahan. Dia pendiam dan penyendiri sama sepertiku namun itu mulai berubah ketika kami mulai intens berkomunikasi, walau terkadang dia masih suka irit dalam berbicara.
“cewe tuh ribet yah!” komentnya sambil menyendokan ice cream coklat kemulutnya
“nggak ah! Biasa aja tuh!” aku menyangkalnya karena aku ini perempuan
“tuh buktinya mesti ada acara bikin pipi, bibir, sama mata dimerah-merah segala ditambah tuh sepatu yang bikin jalan kaya keong aja kenapa nggakpake egrang aja sekalia!” sindirnya tepat sasaran. Malam itu memang aku berdadan ekstra ini juga karena dia yang mengajaku keacara pernikahan sepupunya.
“ini biasa kalau keacara formal” protesku
“tapikan bisa lebih simpelbiar nggak bikin orang nunggu lama” dia mengungkapkan penyebab dia menyindirku
“salahmu dateng kecepetan” aku tak mau disalahkan
“kamu tuh yang dandannya lama! Aku udah dateng mepet masih aja nunggu kamu!” dia tak mau kalah
“helo kamu mau gandeng cewe jelek didepan keluarga besar kamu?” aku tak memberi jawaban namun pertanyaan agar dia mengerti kenapa dia harus menunggu. Dia terdiam tak ada jawaban darinya.
“sepertinya seru kalau hidupku seperti di film” aku memecah suasana hening yang tercipta diantara kami.
“hei kamu nglindur?” dia menggoyang bahuku mencoba membangunkanku yang tak tertidur
“enak aja aku masih sadar ya..”
“kayaknya cewe punya hobi mengkhayal yah?” tanyanya
“emang “ jawabku ” hampir semua perempuan mempunyai khayalan yang sama. Selalu pingin punya cowo ganteng, alim, tajir. Pengen ketempat yang romantis. Pingin dilamar di tempat yang indah banget. Pingin dipernikahanya diiringi lagu romantis yang terkenal sepanjang masa dan pingin selalu bahagia”jelasku panjang lebar sampai-sampai aku tak sadar ada awan disampingku
“ah pasti itu khayalamu  saja kan?”
“kalau tak percaya tanya setiap perempuan yang ada di sini. Kalau aku pingin dilamar ditaman penuh dengan bunga pas malam hari yang penuh bintang sepertinya seru  deh” jawabku “oia satu lagi aku pengen punya suami yang nggak ngelarang aku buat kerja”
“aku ngebolehin kamu kerja tapi nggak boleh lebih dari jam kerja aku jadi setiap aku pulang kerja ada yang menyambutku dirumah”
“maksudnya?” aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan. Kulihat raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. Bungkus ice cream kini sudah berpindah tempat ke kotak sampah yang kebetulan ada disamping bangku yang kami duduki. Dia meraih tanganku dan digenggamnya. Ditatapnya mataku dalam-dalam.
“aku mau kau jadi istriku, jadi ibu dari anak-anaku nanti dan jadi ratu di istanaku kelak” katanya mantap
“tapi aku masih kuliah belum lulus lagian aku juga mau kerja dulu “ ujarku memberi pendapat
“kita nikah nggak sekarang tiga atau empat tahun lagi dan kamu boleh kerja seperti yang aku bilang tadi”ujarnya meyakinkan.
“kalau gitu aku mau”jawabku singkat. Dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah cincin dan menyematkan cincin itu dijari manisku.kulihat cincin perak atau emas putih atau monel aku tak tahu dari apa cincin itu terbuat yang jelas cincin itu melingkar cantik dijari manisku.
“ayo pulang, aku harus memberi tahu orang rumah dengan berita bahagia ini” kataku semangat sambil beranjak meninggalkan awa.
“nanti saja.., kita jalan-jalan dulu lagi pula ayahmu sudah mengetahuinya”katanya sambil mendahuluiku. Aku bengong dengan apa yang dia ucapkan dan berfikir kejutan apa lagi yang akan di berikan setelah ini.  

Senin, 03 September 2012

Sabtu malam dikedai kopi


Sabtu malam dikedai kopi
Sabtu malam sebelum hari keberangkatanku. Aku pergi menenangkan diri bukan kaarena dia yang pergi meninggalkanku sendiri dikota ini namun aku hanya menikmati suasana kotaku saat sabtu malam. Akhirnya aku duduk disebuah hamapran tikar dikedai kopi yang ada disalah satu emperan toko dikota ini. Kedai ini kedai kopi pertama dan terramai dikotaku. Pengunjungnya hampir dari segala kalangan namun umumnya anak muda yang memang benar-benar suka akan kopi atau hanya mengikuti tuntutan gaya hidup saja. kupesan iced vanilla latte dan otak-otak goreng setelah bimbang apa yang harus kutuliskan pada kertas kosong yang disodorkan oleh penjual. Jalanan sangat ramai berbanding terbalik dengan diriku yang sedang merindukan dia. Aku kembali teringat kenangan aku dan dia saat dikedai ini. Sebelumya aku tak pernah sendiriketika kedai ini  dia atau sahabatku selalu menemaniku. Jika dikedai ini dia selalu mmemesan mocchacino entah itu panas atau dingin yang penting baginya dia mendapatkan dua hal yang dia suka yaitu kopi dan coklat.
Malam semakin larut, meja disbelah kanan semakin ramai dengan obrolan khas anak muda dan aku semakin sendiri. Aku benar-benar sendiri. Semua pengunjung datang dengan pasukan masing-masing berbeda denganku yang datang dengan diriku sendiri.
Dering ponsel menghentikan kegiatanku mengaduk-aduk iced vanilla latte dihadapanku. Sebuah pesan datang dari dia yang berada diluar kota sana.
Hai sedang apa?
Aku tersenyum membaca pesan daarinya walau ia tak menyapa dengan sapaan khasnya
lagi ngopi dikedai kopi biasa
kutulis pesan balasan untuknya. Tak lebih dari 5 menit pesan kembali memasuki inbox ponselku
sama siapa?  Sama nay atau sendiri?  Aku kangen mocchacino tempat itu walau tak seenak buatanmu
kukembali tersenyum oleh pujian yang berikan. Dia selalu menganggap mocchacino buatanku selalu yang terenak entah itu terlalu pahit atau terlalu manis.
sendiri, nay tak bisa menemani, kau sedang apa?
bbq sama anak-anak diatap kontrakan tapi kurang lengkap tak ada kau disini
sama sepertiku tak lengkap tak ada kau. Aku rindu minum kopi bersamamu dikedai ini
i miss you so much. Jadi berangkat besok? Sudah packing?
iya. Aku malas packing klo untuk kekota itu.
jangan begitu, semua demi masa depan kamu. Besok aku jemput atau tidak?
hmmm..liat situasi saja dulu kalo tak memungkinkan kekost sendiri ya terpaksa aku minta bantuanmu
Dia tak membalas pesan dariku. Kualihkan perhatianku ke segelas ice vanilla latte dihadapanku yang kini tinggal setengah penuh. Jalanan sudah mulai lengang karena malam sudah mulai larut. Aku masih enggan untuk beranjak dari kedai itu. Ponselku berdering kembali sebuah pesan kembali memenuhi inbox.
masih dikedai kopi?
'Masih belum bosan aku menikmati sabtu malam walau sendiri.
sudah malam pulang saja nanti ketempat itu lagi bersamaku ketika kita kembali kekota kita.
Kulirik jam dipergelangan tangan kiriku, hampir pukul 11 malam pantas saja dia menyuruhku untuk segera pulang. Kumasukan segala isi tas yang tak sengaja aku keluarkan semua itu kembali ketasku. Kukenakan jaket dan kuhampiri berobak yang disulap menjadi dapur dadakan kedai kopi itu lalu kestarter motor dan menuju arah jalan pulang dengan senyum diwajahku.
Sabtu malam ini tak lagi menjadi sabtu malam yang sepi. Sabtu malam yang penuh senyum karena aku tahu dia menungguku dikota itu.

Minggu, 05 Agustus 2012

Setia



Hari itu bukan sabtu malam namun kotaku sangat ramai mungkin karena masih musim anak sekolah liburan. Mereka seperti aku yang sedang berlibur sejenak dari rutinitas diluar kota yang mulai semakin menggila. Malam itu aku iseng keluar rumah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku jadi kuputuskan untuk mencari suasana yang berbeda. Kususuri jalanan yang cukup ramai aku tak tau hendak kemana dipikiranku saat ini adalah keluar rumah. Tak lama aku terjebak disebuah pertigaan dan disitulah aku putuskan untuk ketempat makan yang biasa disambangi anak muda dikotaku, jaraknya tak jauh cukup butuh waktu 5 menit perjalanan naik motor dari pertigaan besar dikotaku. Tempat makan itu sebenarnya tak besar namun menawarkan suasana yang menenangkan walau letaknya ditepi jalan utama kotaku.
Aku memilih sebuah tempat dipojok ruangan semi outdoor karena masih ternaungi atap yang masih menyatu dengan bangunan utama hanya saja tak berdinding hanya tanaman dan kolam yang difungsikan untuk membatasi dengan area lainnya. Baru ku duduk di kursi yang tersedia dipojok ruangan itu dan ping sebuah pesan masuk keponselku
‘kau dimana?aku butuh teman curhat ina tak bisa pulang’
Isi pesan yang setia kirim. Setia disini tak ada sangkut pautnya dengan nama band atau sebuah komitmen untuk tak ada yang lain dalam sebuah hubungan, dia temanku semenjak aku kelas xi sekolah menengah atas dan dia murid pindahan dari luar kota.
‘disalah satu tempat makan didaerah ayani, paling selatan’
Ping tak lama pesan masuk lagi
’15 menit lagi aku sampai’
Kuletakan ponsel dimeja lalu kubuka buku menu yang disodorkan pelayan kepadaku. Milk shake vanilla dan otak-otak bakaar menggodaku untuk menemaniku sambil menunggu setia.
Sesuai yang tertulis dipesannya 15 menit kemudian setia datang bersamaan dengan pesananku. Dia memarkirkan motor balapnya, disamping 125ccku karena memang sebelah 125ku lah yang kosong. Dilepaskannya helm dan diletakannya di kaca spion lalu mengacak-acak rambutnya yang lepek karena helm yang dipakainya sepanjang perjalanan tadi lalu dia berjalan kearahku. Iseng kulihat segerombolan anak perempuan usia sekolah mereka saling berbisik tanpa mengalihkan pandangan dari setia, aku hanya tersenyum , wajar saja setia punya badan yang bagus, dia tinggi paling tidak 170 lebihlah, dadanya bidang, kulitnya coklat terang, wajahnya mulus tanpa ada bekas jerawat, rambutnya tidak panjang juga tidak pendek dan yang terpenting dia punya senyuman yang melelehkan perempuan yang memandangnya.
Dia duduk didepanku. Tak bicara. Akupun diam karena kali ini aku sebagai pendengar. 10menit berlalu kami masih berdiam satu sama lain sampai ia meminum softdrink pesanannya dan mulailah ia berbicara
“pacarku minta putus”keluhnya. Wajahnya menyiratkan bahwa ia tak rela dengan hal itu.
“ya udah terima aja lalu cari yang lain masih banyak yang cantik”kataku asal karena sebenarnya saat ini aku tak siap untuk jadi tempat curhat karena aku bukan penasehat yang baik, aku pendengar yang baik.
“nggak segampang itu”sergahnaya
“hey buka mata dan bercerminlah dengan penampilanmu dan wajahmu itu kau bisa dengan mudah mendapatkan yang baru, yang perlu kau lakukan samperin tuh perampuan ajak kenalan minta nomer telfon ato pin BB lalu ajak kencan beres”solusi yang sangat bagus bagi setia yang di kenal playboy semasa sekolah dulu
“hey tapi ini beda sangat jarang orang seperti dia mungkin sat-satunya didunia ini. Dia sangat spesial dan terlebih dia limited editon”ujarnya
“menurutku dina tak masuk semua yang kau bilang tadi bahkan bella masih lebih cantik dan baik dibanding dina”komentku santai
“hey aku nggak ngomongin dina aku ngomongin pacarku yang terakhir setelah dina”dia mulain gemes
“seingatku pacar terakhirmu itu dina setelah itu kau tak pernah cerita yang lain apalagi mengenalkannya padaku dan ina”aku mulai bingung siapa yang dimaksud pada pembicaraan ini
“aku lupa ngenalin kekamu sama ina”ekspresinya berubah seketika
“trus siapa dia sekarang dan bagaimana orangnya?”tanyaku
Dia tak menjawab namun mengambil ponselnya mengutak atik sebentar lalu menyodorkan ponselnya padaku. Aku menerimanya dan melihat foto yang ia tunjukan, foto dirinya dengan seseorang seusia kami namun sangat mesra bukan mesra yang sengaja dibuat oleh teman-temanku ini benar-benar mesra auranya terpancar dari kedua wajah yang sangat bahagia itu
“dia pacarku” katanya santai” namanya....”
Belum sempat ia menyebutkan nama pacarnya aku memotong bicaranya dengan suara yang kubuat sekecil mungkin agar hanya aku dan dia yang mendengar
“kamu gay?”
“bukan aku tapi pacarku”katanya cukup keras lalu meninggalkanku dengan wajahnya yang marah sedang aku masih duduk terdiam tak percaya.

Senin, 28 Mei 2012

On the night like thiS

Malam tepat satu bulan setelah kejadian dipantai waktu itu. Bulan menampakan senyum tipisnya kepada bintang yang bersinar mengelilinginya, yang menemaninya menghabiskan malam. Aku duduk disebuah bangku taman kota, malam ini taman sangat ramai tak seperti biasanya banyak orang menghabiskan waktu sabtu malamnya disini terutama anak baru gede yang datang berbondong dengan teman-temannya untuk sekedar duduk mengobrol atau tebar pesona. Pemandangan taman sabtu malam ini sedikit asing bagiku karena aku dan dia tak suka tempar seramai ini bukan berarti aku dan dia selalu berada ditempat yang sepi tapi aku dan dia lebih suka menikmati suasana yang tenang dan tak terlalu ramai. Sebenarnya aku dan dia jarang seali pergi ketaman saat sabtu malam kami lebih senang menghabiskan waktu dengan keluargaku atau keluarganya walau hanya sekedar menonton film yang disewa dari rental film dekat rumahku.
15menit aku duduk dibangku taman. Aku menanti dia yang perg sejenak untuk membeli sesuatu entah apa namun kuharap itu sekotak rum raisin chocolate ice cream. 5 menit berlalu dia membawa sekantong belanjaan dan membongkarnya dihadapanku dan ternyata benar sekotak rum raisin chocolate ice cream. Aku meraih ice cream yang dia sodorkan padaku dan mulai menyendokan ice cream itu kemulutku.
“tumben mengajaku kesini atau tak punya list film yang bisa ditonton?”tanyaku membuka pembicaraan. Dia diam lalu mencoba menghabiskan ice cream coklat yang ada dimulutnya dengan cepat.
“tak apa Cuma ingin mencari suasanan yang beda dan aku nggak mau kalah dengan mereka” dia menunjuk seseorang dengan dagunya. Aku mengikuti arah yang dia tunjuk tepat beberapa meter didepanku sepasang kekasih  mungkin masih siswa sekolah menengah atas sedang memadu kasih . aku tersenyum terbayang beberapa tahun lalu disaat aku masih menjadi murid sekolah menengah atas. Aku tak seperti mereka. Aku lebih senang menghabiskan sabtu malamku dirumah nonton tv dengan ayah dan ibu atau mengganggu adikku hingga ia menangis.
“ternyata kau rindu mas lalumu?” godaku dan menggol pinggangnya dengan sikuku.
“aduh” dia mengaduh dan menatapku galak dan aku langsung memalingkan wajahku. Kupusatkan perhatian kekotak ice cream yang isinya hampir habis. Aku tak suka melihatnya ketika dia menatapku dengan tatapan itu kesanhangatyang biasa ada diraut wajahnya hilang seketika.
“hahhahaaa....”dia tertawa senang melihatku ketakutan. Aku manyun. Taman sudah tak terlalu ramai seperti waktu aku datang. Suara anak kecil yang berlarian riang kini sudah tak ada lagi hanya senda gurau dari abg yang masih bertahan ditaman.
“kapan berangkat?” dia bertanya seperti itu lagi
“masih beberapa minggu lagi” jawabku. Aku menunda keberangkatanku karena jadwal dijurusanku ditunda beberapa minggu.
“kau tahukan aku akan pergi lusa?” tanyanya tak yakin
“aku tahu semua hal kau ceritakan padaku entah itu penting atu tidak “ candaku yang cukup garing. Kami terdiam.
“bulannya indah namun seperti orang yang sedang sedih tersenyum.”kataku mencoba memecah suasana yang mulai bisu
“iya seperti senyum wanita tak biasa yang sedang tersenyum saat ini” katanya sambil menatapku dan tersenyum. Aku memandangnya curiga.
“siapa dia?”aku curiga
“aduh kenapa keluar lemotnya sih”dia gemes dengan reaksiku. Aku beranjak dari tempat aku duduk dan menghapiri sebuah tong sampah yang terletak lumayan jauh daari tempatku duduk
“jadi ini malam terakhir kita ketemu dikota ini?”tanyaku lagi kembali kepokok pembicaraan.
“sepertinya iya, besok tak mungkin ayah ibu dan cewe rese itu telah membooked untuk menemani mereka seharian”katanya dengan nada sedikit kecewa
“jujur banyak hal yang ingin aku katakan padamu  banyak yang ingin ku tunjukan padam. Aku berhenti. Kutarik nafas dan menghembuskannya perlahan”karena ketika berada disekitarku aku mersa aman nyaman dan aku merasa jatuh cinta setiap harinya namun seribu alasan tak bisa untuk menahanmu untuk menemaniku” aku berhenti berkata, entah apa lagi yang harus kuucapkan
“bukan hanya kau yang merasa seperti akupun begitu. Aku merasa mentari bersinar jauh lebih indah ketika aku mendengar suaramu ditelepon” dia tersenyum dan menatapku. Inilah yang akan aku rindukan saat dia tak ada. Saat dia menatapku dengan tatapannya yang menenangkan “dan aku janji ini tak akan lama hanya beberapa bulan lagi entah kau yang datang menemui aku atau aku yang datang menemuimu dan kau masih bisa melihat bisa sekarang teknologi sudah canggih kita bisa manfaatkan itu.” Katannya yakin dan masih menatapku. Dia merih tanganku dan digandengnya disepanjang perjalanan pulang

Selasa, 17 April 2012

belum berjudul

Aku duduk menikmatai apa yang ada disekitarku sambil memandang langit yang penuh akan bintangsambil menunggu pagi yang indah akan datang menjemput sang malam. Angin berhembus perlahan,kurapatkan jaket yang kukenakan, api unggun yang ada dihadapanku tak banyak berpengaruh hawa pantai malam hari namun itu tak surutkan keceriaan disekitarku. Aku sedang berada diforum tak resmi yang sedang mengadakan makrab lebih tepatnya menginap bersama disebuah panati dikotaku. Aku masih menikmati malam yang indah sambil sesekali tersenyum melihat kelakuan temanku yang terkadang tak bisa disangka.
“hei kok diam aja?”dia yang kukenal beberapa bulan yang lalu semenjak ia masuk diforum ini. Sebenarnya ia telah mengenalku sejak sekolah menengah pertama namun aku saja yang tak suka berkeliaran diluar kelas.
“tak apa Cuma menikmati suasana sambil merekam smuanya dengan ini”aku menganggapinya sambil menunjuk mata. Aku lebih suka mengamati daripada harus berbicara karena aku pikir itu bukan aku banget. Dia tersenyum.
“kapan berangakat?”dia memancngku untuk berbicara lagi setelah sejenak kami saling diam.
“mungkin dua minggu lagi itu jujur bohong kalau aku bilang takkan berangkat lagi kesana”kataku berbelit.
“masih dua minggu lagi masih bisa menjelajahi kota ini sampaii pelosoknya.”katanya menghiburku karena dia tahu aku suka sekali berkeliling kota dimana aku dilahirkan. Kota ini tak pernah membosankan walaupun aku sudah menjelajahinya berulang kali
“sepertinya menarik namun sayang sekali aku sedang tak ingin berjelajahi aku hanya ingin menikmati suasana seperti ini ramai walau aku hanya berdiam diri, hangat, sangat berbeda dengan suasana saat kita ada diluar kota. Pokoknya suasana yang sangat kurindukan setelah suasana rumah yang sepi namun tak membosankan”ucapku panjang lebar. Dia kembali tersenyum. Kulirik dia sedang memandang langit malam.
“malam yang indah yah walau bulan tak penuh”ucapnya sambil tetap memandang langit malam.
“iya lebih indah jika kau nikmati dari ketinggian”jawabku sambil menatap langit malam. Kami terdiam. Kudengar dia menghembuskan nafas dengan berat seakan ada sesuatu yang tertahan.
“kau pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Ceritakan padaku”dia bertanya sambil tetap menatap langit. Angin berhembus menerpa wajahku rasa dinginnya membuaatku semakin susah untuk berpikir. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“kata nidji kau bisa mendengar nyanyian dewa-dewi, bulan akan datang menemanimu melwati malam yang dingin ada juga yang bilang seperti ada kupu-kupu menari dalam perutmu, ada yang bilang kau benci tapi kau butuh dirinya namun menurutku ada sesuatu yang tak bisa disebutkan bagaimana apa dan mengapa yang jelas kau tak bisa jelaskan semuanya”jelasku panjang”kau sedang mengalaminya?”lanjutku. kulihat senyum tersungging dibibirnya itu sudah menjelaskan bahwa ia sedang mengalami hal itu.
“ya beberapa minggu ini aku merasakan smua yang kau bicarakan tadi”katanya singkat
“siapa dia beruntung sekali orang itu ayo ceritakan padaku”aku memaksa untuk memberi tahu  siapa perempuan itu.
“dia tak terlalu cantik namun sangat menarik bagiku senyumnya sangaat tulus. Dia  berbeda dari semua perempuan yang kukenal. dia baik tak sungkan walau terkadang awalnya dia menolak tapi tetap saja ia akan membantumu aku mengerti kenapa dia begitu karena sesuatu itu sulit baginya”dia terdiam sejenak menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat seolah menandakan rasa bersalah”namun aku selalu menghubunginya jika aku perlu bantuannya. Bukan berarti aku ingat dia karena aku butuh dia tapi karena aku bingung bagaimana aku harus memulai terkadang aku menyiapkan pesan yang kukirim tapi semuanya hanya menumpuk drafts pesan dihandphone”dia berhenti  dan tertunduk lemas
“kau harus berani tak banyak perempuan seperti itu dan kau akan sangat menyesal jika kau sampai kehilangannya”aku mencoba memberinya semangat
“sepertinya aku akan bialng malam ini sebelum ia tenggelam dengan kesibukannya”katanya penuh semangat namun tiba-tiba dia tertunduk lemas kembali”aku tak yakin bisa dapatkan nnya mana mungkin pria biasa sepertiku ini dapatkan wanita tak biasa seperti dia”
“jangan patah semangat dulu donk ah”aku kembali memberinya semangat. Ini bukan dia yang kukenal selama ini. Dari aku bertemu dengannya beberapa bulan lalu tak pernah aku melihatnya seperti saat ini sangat tak bersemangat serta sangat tak berani ”atau kau mau berlatih dulu sebelum kau mengatakannya jadi kau siap apapun jawaban yang dia berikan bagaimana?”tawarku yang sangat ngaco.
“sepertinya menarik”kata singkat dan bersiap”aku suka kau, kau mau jadi pacarku?”katanya singkat dan langsung pada intinya. Aku terdiam mampu berkata. Ada sesuatu yang aneh terjadi padaku.
“nggak”jawabku spontan tak semapt aku memikirkan apa yang tengah kurasakan dan dia tertunduk lemas kembali sepertinya aku salah memberi respo
“kau saja tidak mau apa lagi dia”katanya semakin tak bersemangat”aku butuh respon yang positif agar aku lebih bersemangat”. Aku menganggukan kepala dan dia kembali berbicara
“aku suka kau, kau mau jadi pacarku?”
“aku juga suka kau dan aku mau jadi pacaarmu”aku menjawab setelah meyakinkan perasaanku ini bukan untukku dan aku hanya membantunya. Kami terdiam kulirik dia kini tersenyum sambil menatap langit. Wajahnya kembali tenang seperti seakan semua beban telah hilang darinya.
“hei aku kau belum memberitahuku siapa perempuan itu dan kapan kau akan mengatakan smua itu?”aku teringat dia belum memberitahuku siapa perempuan itu.
“aku sudah mengatakannya dan dia ada disampingku”katanya sambil menatapku dan tersenyum lalu bangkit untuk bergabung dengan mereka yang tengah asik berdendang ria disebrang api ungggun dan aku hanya masih tak percaya....

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...