satu jam sudah kegelapan menyelimutiku hanya seberkas cahaya dari sepotong lilin kecil yang menemaniku menarikan kata-kata yang tak indah ini. diluar hujan telah berganti dengan gerimis yang menyejukan. ribuan tetes-tetes kecil air berlomba basahi apa yang ada dijumpainya tak terkecuali mereka yang tengah asik menyusuri jalanan yang penuh maple yang bingung akankah mengubah daunya jadi hijau atau akan tetap merah seperti jingga pada senja dimusim panas. kegelapan kian mencekam. lilin kecil tak sanggup lagi berikan cahayanya untuk terangi ruangan dimanan ia berada. ia lemah. ia lelah. ia tak punya apa lagi untuk bertahan
sebuah blog yang bisa dibilang tak bermanfaat bagi pembaca tapi sangat bermanfaat bagi sipenulis
Rabu, 17 Oktober 2012
Kamis, 27 September 2012
ramadhan 21
Teringat
kembali akan kejadian sehari tepat sebelum bulan puasa tahun lalu. Aku tak tahu
setan apa yang merasukiku pagi itu yang ku tahu begitu aku bangun dari tidurku
kudapati rumah dalam keadaan sepi hanya ada mbahku yang tiduran dikursi depan
televisi. entah kenapa aku langsung tak berminat membagi suaraku dengan
siapapun dengan mbahku sekalipun. benar-benar yang sepatah katapun keluar dari
mulutku. Itu akhir dari hari-hariku yang penuh kebosanan. Setahun berselang
ramadhan ke 21 aku mendapat telepon agar aku cepat kembali kekota asalku entah
kenapa sepertinya ada sesautu yang seharusnya aku tahu namun mereka tak
menceritakan padaku. sesampainya dikota asalku, aku dijemput sepupuku, sepupuku
yang malam sebelumnya berjanji akan menjemputku walaupun aku tahu saat itu dia
hanya bercanda denganku saja. dan betapa terkejutnya aku begitu sampai aku
dipelataran rumah. Banyak orang didepan rumahku dan aku aku tahu ketika aku
memasuki rumah. beliau yang biasanya menyambutku sambil duduk dibangku
didepan televisi kini tak ada. beliau menyembutku sambil tidur dengan
wajah yang yang tenang sangat tenang bahkan melebihi ketenangannya saat tidur
tak kuasa kubendung air mata ini ya beliau sudah sempurna dalam menjalani hidup
ini. beliau sudah menjalani takdir terkahirnya sebagai manusia. semoga beliau
tenang disisi Dia. Dia penguasa seluruh isi alam ini.
Proposal
Proposal
Malam
itu aku duduk dengan awan disalah satu bangku ditaman kota. Awan bukanlah orang
baru dalam kehidupanku. Dia sudah 18 bulan menemani hari-hariku walau harus
dengan sebuah media yang memperingkat jarak dan waktu. Dia sebenarnya kawan
lama, rekan kerja saat kami masih menjadi anak sekolahan. Dia pendiam dan
penyendiri sama sepertiku namun itu mulai berubah ketika kami mulai intens
berkomunikasi, walau terkadang dia masih suka irit dalam berbicara.
“cewe tuh ribet yah!” komentnya sambil menyendokan ice cream
coklat kemulutnya
“nggak ah! Biasa aja tuh!” aku menyangkalnya karena aku ini
perempuan
“tuh buktinya mesti ada acara bikin pipi, bibir, sama mata
dimerah-merah segala ditambah tuh sepatu yang bikin jalan kaya keong aja kenapa
nggakpake egrang aja sekalia!” sindirnya tepat sasaran. Malam itu memang aku
berdadan ekstra ini juga karena dia yang mengajaku keacara pernikahan
sepupunya.
“ini biasa kalau keacara formal” protesku
“tapikan bisa lebih simpelbiar nggak bikin orang nunggu
lama” dia mengungkapkan penyebab dia menyindirku
“salahmu dateng kecepetan” aku tak mau disalahkan
“kamu tuh yang dandannya lama! Aku udah dateng mepet masih
aja nunggu kamu!” dia tak mau kalah
“helo kamu mau gandeng cewe jelek didepan keluarga besar
kamu?” aku tak memberi jawaban namun pertanyaan agar dia mengerti kenapa dia
harus menunggu. Dia terdiam tak ada jawaban darinya.
“sepertinya seru kalau hidupku seperti di film” aku memecah
suasana hening yang tercipta diantara kami.
“hei kamu nglindur?” dia menggoyang bahuku mencoba
membangunkanku yang tak tertidur
“enak aja aku masih sadar ya..”
“kayaknya cewe punya hobi mengkhayal yah?” tanyanya
“emang “ jawabku ” hampir semua perempuan mempunyai khayalan
yang sama. Selalu pingin punya cowo ganteng, alim, tajir. Pengen ketempat yang
romantis. Pingin dilamar di tempat yang indah banget. Pingin dipernikahanya
diiringi lagu romantis yang terkenal sepanjang masa dan pingin selalu
bahagia”jelasku panjang lebar sampai-sampai aku tak sadar ada awan disampingku
“ah pasti itu khayalamu
saja kan?”
“kalau tak percaya tanya setiap perempuan yang ada di sini.
Kalau aku pingin dilamar ditaman penuh dengan bunga pas malam hari yang penuh
bintang sepertinya seru deh” jawabku
“oia satu lagi aku pengen punya suami yang nggak ngelarang aku buat kerja”
“aku ngebolehin kamu kerja tapi nggak boleh lebih dari jam
kerja aku jadi setiap aku pulang kerja ada yang menyambutku dirumah”
“maksudnya?” aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan.
Kulihat raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. Bungkus ice cream kini
sudah berpindah tempat ke kotak sampah yang kebetulan ada disamping bangku yang
kami duduki. Dia meraih tanganku dan digenggamnya. Ditatapnya mataku
dalam-dalam.
“aku mau kau jadi istriku, jadi ibu dari anak-anaku nanti
dan jadi ratu di istanaku kelak” katanya mantap
“tapi aku masih kuliah belum lulus lagian aku juga mau kerja
dulu “ ujarku memberi pendapat
“kita nikah nggak sekarang tiga atau empat tahun lagi dan
kamu boleh kerja seperti yang aku bilang tadi”ujarnya meyakinkan.
“kalau gitu aku mau”jawabku singkat. Dia merogoh saku jasnya
dan mengeluarkan sebuah cincin dan menyematkan cincin itu dijari
manisku.kulihat cincin perak atau emas putih atau monel aku tak tahu dari apa
cincin itu terbuat yang jelas cincin itu melingkar cantik dijari manisku.
“ayo pulang, aku harus memberi tahu orang rumah dengan
berita bahagia ini” kataku semangat sambil beranjak meninggalkan awa.
“nanti saja.., kita jalan-jalan dulu lagi pula ayahmu sudah
mengetahuinya”katanya sambil mendahuluiku. Aku bengong dengan apa yang dia
ucapkan dan berfikir kejutan apa lagi yang akan di berikan setelah ini.
Senin, 03 September 2012
Sabtu malam dikedai kopi
Sabtu malam dikedai kopi
Sabtu malam sebelum hari keberangkatanku. Aku
pergi menenangkan diri bukan kaarena dia yang pergi meninggalkanku sendiri
dikota ini namun aku hanya menikmati suasana kotaku saat sabtu malam. Akhirnya
aku duduk disebuah hamapran tikar dikedai kopi yang ada disalah satu emperan
toko dikota ini. Kedai ini kedai kopi pertama dan terramai dikotaku.
Pengunjungnya hampir dari segala kalangan namun umumnya anak muda yang memang
benar-benar suka akan kopi atau hanya mengikuti tuntutan gaya hidup saja.
kupesan iced vanilla latte dan otak-otak goreng setelah bimbang apa yang harus
kutuliskan pada kertas kosong yang disodorkan oleh penjual. Jalanan sangat
ramai berbanding terbalik dengan diriku yang sedang merindukan dia. Aku kembali
teringat kenangan aku dan dia saat dikedai ini. Sebelumya aku tak pernah
sendiriketika kedai ini dia atau sahabatku
selalu menemaniku. Jika dikedai ini dia selalu mmemesan mocchacino entah itu
panas atau dingin yang penting baginya dia mendapatkan dua hal yang dia suka
yaitu kopi dan coklat.
Malam semakin larut, meja disbelah kanan
semakin ramai dengan obrolan khas anak muda dan aku semakin sendiri. Aku
benar-benar sendiri. Semua pengunjung datang dengan pasukan masing-masing
berbeda denganku yang datang dengan diriku sendiri.
Dering ponsel menghentikan kegiatanku
mengaduk-aduk iced vanilla latte dihadapanku. Sebuah pesan datang dari dia yang
berada diluar kota sana.
Hai sedang apa?
Aku tersenyum membaca pesan daarinya walau ia
tak menyapa dengan sapaan khasnya
‘lagi ngopi dikedai kopi biasa’
kutulis pesan balasan untuknya. Tak lebih
dari 5 menit pesan kembali memasuki inbox ponselku
sama siapa? Sama nay atau sendiri? Aku kangen mocchacino tempat itu walau tak
seenak buatanmu
kukembali tersenyum oleh pujian yang berikan.
Dia selalu menganggap mocchacino buatanku selalu yang terenak entah itu terlalu
pahit atau terlalu manis.
‘sendiri, nay tak bisa menemani, kau sedang
apa?’
‘bbq sama anak-anak diatap kontrakan tapi
kurang lengkap tak ada kau disini’
‘sama sepertiku
tak lengkap tak ada kau. Aku rindu minum kopi bersamamu dikedai ini’
‘i miss you so
much. Jadi berangkat besok? Sudah packing?’
‘iya. Aku malas
packing klo untuk kekota itu.’
‘jangan begitu,
semua demi masa depan kamu. Besok aku jemput atau tidak?’
‘hmmm..liat
situasi saja dulu kalo tak memungkinkan kekost sendiri ya terpaksa aku minta
bantuanmu’
Dia
tak membalas pesan dariku. Kualihkan perhatianku ke segelas ice vanilla latte
dihadapanku yang kini tinggal setengah penuh. Jalanan sudah mulai lengang
karena malam sudah mulai larut. Aku masih enggan untuk beranjak dari kedai itu.
Ponselku berdering kembali sebuah pesan kembali memenuhi inbox.
‘masih dikedai kopi?’
'Masih belum bosan aku menikmati sabtu malam walau sendiri.’
‘sudah malam
pulang saja nanti ketempat itu lagi bersamaku ketika kita kembali kekota kita.’
Kulirik
jam dipergelangan tangan kiriku, hampir pukul 11 malam pantas saja dia
menyuruhku untuk segera pulang. Kumasukan segala isi tas yang tak sengaja aku
keluarkan semua itu kembali ketasku. Kukenakan jaket dan kuhampiri berobak yang
disulap menjadi dapur dadakan kedai kopi itu lalu kestarter motor dan menuju
arah jalan pulang dengan senyum diwajahku.
Sabtu
malam ini tak lagi menjadi sabtu malam yang sepi. Sabtu malam yang penuh senyum
karena aku tahu dia menungguku dikota itu.
Minggu, 05 Agustus 2012
Setia
Hari
itu bukan sabtu malam namun kotaku sangat ramai mungkin karena masih musim anak
sekolah liburan. Mereka seperti aku yang sedang berlibur sejenak dari rutinitas
diluar kota yang mulai semakin menggila. Malam itu aku iseng keluar rumah. Ada
sesuatu yang mengganggu pikiranku jadi kuputuskan untuk mencari suasana yang
berbeda. Kususuri jalanan yang cukup ramai aku tak tau hendak kemana
dipikiranku saat ini adalah keluar rumah. Tak lama aku terjebak disebuah
pertigaan dan disitulah aku putuskan untuk ketempat makan yang biasa disambangi
anak muda dikotaku, jaraknya tak jauh cukup butuh waktu 5 menit perjalanan naik
motor dari pertigaan besar dikotaku. Tempat makan itu sebenarnya tak besar
namun menawarkan suasana yang menenangkan walau letaknya ditepi jalan utama
kotaku.
Aku
memilih sebuah tempat dipojok ruangan semi outdoor karena masih ternaungi atap
yang masih menyatu dengan bangunan utama hanya saja tak berdinding hanya
tanaman dan kolam yang difungsikan untuk membatasi dengan area lainnya. Baru ku
duduk di kursi yang tersedia dipojok ruangan itu dan ping sebuah pesan masuk
keponselku
‘kau dimana?aku butuh teman curhat ina tak bisa
pulang’
Isi
pesan yang setia kirim. Setia disini tak ada sangkut pautnya dengan nama band
atau sebuah komitmen untuk tak ada yang lain dalam sebuah hubungan, dia temanku
semenjak aku kelas xi sekolah menengah atas dan dia murid pindahan dari luar
kota.
‘disalah satu tempat makan didaerah ayani,
paling selatan’
Ping
tak lama pesan masuk lagi
’15 menit lagi aku sampai’
Kuletakan
ponsel dimeja lalu kubuka buku menu yang disodorkan pelayan kepadaku. Milk
shake vanilla dan otak-otak bakaar menggodaku untuk menemaniku sambil menunggu
setia.
Sesuai
yang tertulis dipesannya 15 menit kemudian setia datang bersamaan dengan
pesananku. Dia memarkirkan motor balapnya, disamping 125ccku karena memang
sebelah 125ku lah yang kosong. Dilepaskannya helm dan diletakannya di kaca
spion lalu mengacak-acak rambutnya yang lepek karena helm yang dipakainya sepanjang
perjalanan tadi lalu dia berjalan kearahku. Iseng kulihat segerombolan anak
perempuan usia sekolah mereka saling berbisik tanpa mengalihkan pandangan dari
setia, aku hanya tersenyum , wajar saja setia punya badan yang bagus, dia
tinggi paling tidak 170 lebihlah, dadanya bidang, kulitnya coklat terang,
wajahnya mulus tanpa ada bekas jerawat, rambutnya tidak panjang juga tidak
pendek dan yang terpenting dia punya senyuman yang melelehkan perempuan yang
memandangnya.
Dia
duduk didepanku. Tak bicara. Akupun diam karena kali ini aku sebagai pendengar.
10menit berlalu kami masih berdiam satu sama lain sampai ia meminum softdrink
pesanannya dan mulailah ia berbicara
“pacarku
minta putus”keluhnya. Wajahnya menyiratkan bahwa ia tak rela dengan hal itu.
“ya
udah terima aja lalu cari yang lain masih banyak yang cantik”kataku asal karena
sebenarnya saat ini aku tak siap untuk jadi tempat curhat karena aku bukan
penasehat yang baik, aku pendengar yang baik.
“nggak
segampang itu”sergahnaya
“hey
buka mata dan bercerminlah dengan penampilanmu dan wajahmu itu kau bisa dengan
mudah mendapatkan yang baru, yang perlu kau lakukan samperin tuh perampuan ajak
kenalan minta nomer telfon ato pin BB lalu ajak kencan beres”solusi yang sangat
bagus bagi setia yang di kenal playboy semasa sekolah dulu
“hey
tapi ini beda sangat jarang orang seperti dia mungkin sat-satunya didunia ini.
Dia sangat spesial dan terlebih dia limited editon”ujarnya
“menurutku dina tak masuk semua yang kau bilang tadi
bahkan bella masih lebih cantik dan baik dibanding dina”komentku santai
“hey
aku nggak ngomongin dina aku ngomongin pacarku yang terakhir setelah dina”dia
mulain gemes
“seingatku
pacar terakhirmu itu dina setelah itu kau tak pernah cerita yang lain apalagi
mengenalkannya padaku dan ina”aku mulai bingung siapa yang dimaksud pada
pembicaraan ini
“aku
lupa ngenalin kekamu sama ina”ekspresinya berubah seketika
“trus
siapa dia sekarang dan bagaimana orangnya?”tanyaku
Dia
tak menjawab namun mengambil ponselnya mengutak atik sebentar lalu menyodorkan
ponselnya padaku. Aku menerimanya dan melihat foto yang ia tunjukan, foto
dirinya dengan seseorang seusia kami namun sangat mesra bukan mesra yang
sengaja dibuat oleh teman-temanku ini benar-benar mesra auranya terpancar dari
kedua wajah yang sangat bahagia itu
“dia
pacarku” katanya santai” namanya....”
Belum
sempat ia menyebutkan nama pacarnya aku memotong bicaranya dengan suara yang
kubuat sekecil mungkin agar hanya aku dan dia yang mendengar
“kamu
gay?”
“bukan
aku tapi pacarku”katanya cukup keras lalu meninggalkanku dengan wajahnya yang
marah sedang aku masih duduk terdiam tak percaya.
Senin, 28 Mei 2012
On the night like thiS
Malam
tepat satu bulan setelah kejadian dipantai waktu itu. Bulan menampakan senyum
tipisnya kepada bintang yang bersinar mengelilinginya, yang menemaninya
menghabiskan malam. Aku duduk disebuah bangku taman kota, malam ini taman
sangat ramai tak seperti biasanya banyak orang menghabiskan waktu sabtu
malamnya disini terutama anak baru gede yang datang berbondong dengan
teman-temannya untuk sekedar duduk mengobrol atau tebar pesona. Pemandangan
taman sabtu malam ini sedikit asing bagiku karena aku dan dia tak suka tempar
seramai ini bukan berarti aku dan dia selalu berada ditempat yang sepi tapi aku
dan dia lebih suka menikmati suasana yang tenang dan tak terlalu ramai.
Sebenarnya aku dan dia jarang seali pergi ketaman saat sabtu malam kami lebih
senang menghabiskan waktu dengan keluargaku atau keluarganya walau hanya
sekedar menonton film yang disewa dari rental film dekat rumahku.
15menit
aku duduk dibangku taman. Aku menanti dia yang perg sejenak untuk membeli
sesuatu entah apa namun kuharap itu sekotak rum raisin chocolate ice cream. 5
menit berlalu dia membawa sekantong belanjaan dan membongkarnya dihadapanku dan
ternyata benar sekotak rum raisin chocolate ice cream. Aku meraih ice cream
yang dia sodorkan padaku dan mulai menyendokan ice cream itu kemulutku.
“tumben
mengajaku kesini atau tak punya list film yang bisa ditonton?”tanyaku membuka
pembicaraan. Dia diam lalu mencoba menghabiskan ice cream coklat yang ada
dimulutnya dengan cepat.
“tak
apa Cuma ingin mencari suasanan yang beda dan aku nggak mau kalah dengan
mereka” dia menunjuk seseorang dengan dagunya. Aku mengikuti arah yang dia
tunjuk tepat beberapa meter didepanku sepasang kekasih mungkin masih siswa sekolah menengah atas
sedang memadu kasih . aku tersenyum terbayang beberapa tahun lalu disaat aku
masih menjadi murid sekolah menengah atas. Aku tak seperti mereka. Aku lebih
senang menghabiskan sabtu malamku dirumah nonton tv dengan ayah dan ibu atau
mengganggu adikku hingga ia menangis.
“ternyata
kau rindu mas lalumu?” godaku dan menggol pinggangnya dengan sikuku.
“aduh”
dia mengaduh dan menatapku galak dan aku langsung memalingkan wajahku. Kupusatkan
perhatian kekotak ice cream yang isinya hampir habis. Aku tak suka melihatnya
ketika dia menatapku dengan tatapan itu kesanhangatyang biasa ada diraut
wajahnya hilang seketika.
“hahhahaaa....”dia
tertawa senang melihatku ketakutan. Aku manyun. Taman sudah tak terlalu ramai
seperti waktu aku datang. Suara anak kecil yang berlarian riang kini sudah tak
ada lagi hanya senda gurau dari abg yang masih bertahan ditaman.
“kapan
berangkat?” dia bertanya seperti itu lagi
“masih
beberapa minggu lagi” jawabku. Aku menunda keberangkatanku karena jadwal
dijurusanku ditunda beberapa minggu.
“kau
tahukan aku akan pergi lusa?” tanyanya tak yakin
“aku
tahu semua hal kau ceritakan padaku entah itu penting atu tidak “ candaku yang
cukup garing. Kami terdiam.
“bulannya
indah namun seperti orang yang sedang sedih tersenyum.”kataku mencoba memecah
suasana yang mulai bisu
“iya
seperti senyum wanita tak biasa yang sedang tersenyum saat ini” katanya sambil
menatapku dan tersenyum. Aku memandangnya curiga.
“siapa
dia?”aku curiga
“aduh
kenapa keluar lemotnya sih”dia gemes dengan reaksiku. Aku beranjak dari tempat
aku duduk dan menghapiri sebuah tong sampah yang terletak lumayan jauh daari
tempatku duduk
“jadi
ini malam terakhir kita ketemu dikota ini?”tanyaku lagi kembali kepokok
pembicaraan.
“sepertinya
iya, besok tak mungkin ayah ibu dan cewe rese itu telah membooked untuk
menemani mereka seharian”katanya dengan nada sedikit kecewa
“jujur
banyak hal yang ingin aku katakan padamu
banyak yang ingin ku tunjukan padam. Aku berhenti. Kutarik nafas dan
menghembuskannya perlahan”karena ketika berada disekitarku aku mersa aman
nyaman dan aku merasa jatuh cinta setiap harinya namun seribu alasan tak bisa
untuk menahanmu untuk menemaniku” aku berhenti berkata, entah apa lagi yang
harus kuucapkan
“bukan hanya kau yang merasa seperti akupun
begitu. Aku merasa mentari bersinar jauh lebih indah ketika aku mendengar
suaramu ditelepon” dia tersenyum dan menatapku. Inilah yang akan aku rindukan saat
dia tak ada. Saat dia menatapku dengan tatapannya yang menenangkan “dan aku
janji ini tak akan lama hanya beberapa bulan lagi entah kau yang datang menemui
aku atau aku yang datang menemuimu dan kau masih bisa melihat bisa sekarang
teknologi sudah canggih kita bisa manfaatkan itu.” Katannya yakin dan masih
menatapku. Dia merih tanganku dan digandengnya disepanjang perjalanan pulang
Selasa, 17 April 2012
belum berjudul
Aku duduk menikmatai apa yang ada disekitarku sambil memandang langit yang penuh akan bintangsambil menunggu pagi yang indah akan datang menjemput sang malam. Angin berhembus perlahan,kurapatkan jaket yang kukenakan, api unggun yang ada dihadapanku tak banyak berpengaruh hawa pantai malam hari namun itu tak surutkan keceriaan disekitarku. Aku sedang berada diforum tak resmi yang sedang mengadakan makrab lebih tepatnya menginap bersama disebuah panati dikotaku. Aku masih menikmati malam yang indah sambil sesekali tersenyum melihat kelakuan temanku yang terkadang tak bisa disangka.
“hei kok diam aja?”dia yang kukenal beberapa bulan yang lalu semenjak ia masuk diforum ini. Sebenarnya ia telah mengenalku sejak sekolah menengah pertama namun aku saja yang tak suka berkeliaran diluar kelas.
“tak apa Cuma menikmati suasana sambil merekam smuanya dengan ini”aku menganggapinya sambil menunjuk mata. Aku lebih suka mengamati daripada harus berbicara karena aku pikir itu bukan aku banget. Dia tersenyum.
“kapan berangakat?”dia memancngku untuk berbicara lagi setelah sejenak kami saling diam.
“mungkin dua minggu lagi itu jujur bohong kalau aku bilang takkan berangkat lagi kesana”kataku berbelit.
“masih dua minggu lagi masih bisa menjelajahi kota ini sampaii pelosoknya.”katanya menghiburku karena dia tahu aku suka sekali berkeliling kota dimana aku dilahirkan. Kota ini tak pernah membosankan walaupun aku sudah menjelajahinya berulang kali
“sepertinya menarik namun sayang sekali aku sedang tak ingin berjelajahi aku hanya ingin menikmati suasana seperti ini ramai walau aku hanya berdiam diri, hangat, sangat berbeda dengan suasana saat kita ada diluar kota. Pokoknya suasana yang sangat kurindukan setelah suasana rumah yang sepi namun tak membosankan”ucapku panjang lebar. Dia kembali tersenyum. Kulirik dia sedang memandang langit malam.
“malam yang indah yah walau bulan tak penuh”ucapnya sambil tetap memandang langit malam.
“iya lebih indah jika kau nikmati dari ketinggian”jawabku sambil menatap langit malam. Kami terdiam. Kudengar dia menghembuskan nafas dengan berat seakan ada sesuatu yang tertahan.
“kau pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Ceritakan padaku”dia bertanya sambil tetap menatap langit. Angin berhembus menerpa wajahku rasa dinginnya membuaatku semakin susah untuk berpikir. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“kau pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Ceritakan padaku”dia bertanya sambil tetap menatap langit. Angin berhembus menerpa wajahku rasa dinginnya membuaatku semakin susah untuk berpikir. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“kata nidji kau bisa mendengar nyanyian dewa-dewi, bulan akan datang menemanimu melwati malam yang dingin ada juga yang bilang seperti ada kupu-kupu menari dalam perutmu, ada yang bilang kau benci tapi kau butuh dirinya namun menurutku ada sesuatu yang tak bisa disebutkan bagaimana apa dan mengapa yang jelas kau tak bisa jelaskan semuanya”jelasku panjang”kau sedang mengalaminya?”lanjutku. kulihat senyum tersungging dibibirnya itu sudah menjelaskan bahwa ia sedang mengalami hal itu.
“ya beberapa minggu ini aku merasakan smua yang kau bicarakan tadi”katanya singkat
“siapa dia beruntung sekali orang itu ayo ceritakan padaku”aku memaksa untuk memberi tahu siapa perempuan itu.
“dia tak terlalu cantik namun sangat menarik bagiku senyumnya sangaat tulus. Dia berbeda dari semua perempuan yang kukenal. dia baik tak sungkan walau terkadang awalnya dia menolak tapi tetap saja ia akan membantumu aku mengerti kenapa dia begitu karena sesuatu itu sulit baginya”dia terdiam sejenak menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat seolah menandakan rasa bersalah”namun aku selalu menghubunginya jika aku perlu bantuannya. Bukan berarti aku ingat dia karena aku butuh dia tapi karena aku bingung bagaimana aku harus memulai terkadang aku menyiapkan pesan yang kukirim tapi semuanya hanya menumpuk drafts pesan dihandphone”dia berhenti dan tertunduk lemas
“kau harus berani tak banyak perempuan seperti itu dan kau akan sangat menyesal jika kau sampai kehilangannya”aku mencoba memberinya semangat
“sepertinya aku akan bialng malam ini sebelum ia tenggelam dengan kesibukannya”katanya penuh semangat namun tiba-tiba dia tertunduk lemas kembali”aku tak yakin bisa dapatkan nnya mana mungkin pria biasa sepertiku ini dapatkan wanita tak biasa seperti dia”
“jangan patah semangat dulu donk ah”aku kembali memberinya semangat. Ini bukan dia yang kukenal selama ini. Dari aku bertemu dengannya beberapa bulan lalu tak pernah aku melihatnya seperti saat ini sangat tak bersemangat serta sangat tak berani ”atau kau mau berlatih dulu sebelum kau mengatakannya jadi kau siap apapun jawaban yang dia berikan bagaimana?”tawarku yang sangat ngaco.
“sepertinya menarik”kata singkat dan bersiap”aku suka kau, kau mau jadi pacarku?”katanya singkat dan langsung pada intinya. Aku terdiam mampu berkata. Ada sesuatu yang aneh terjadi padaku.
“nggak”jawabku spontan tak semapt aku memikirkan apa yang tengah kurasakan dan dia tertunduk lemas kembali sepertinya aku salah memberi respo
“kau saja tidak mau apa lagi dia”katanya semakin tak bersemangat”aku butuh respon yang positif agar aku lebih bersemangat”. Aku menganggukan kepala dan dia kembali berbicara
“aku suka kau, kau mau jadi pacarku?”
“aku juga suka kau dan aku mau jadi pacaarmu”aku menjawab setelah meyakinkan perasaanku ini bukan untukku dan aku hanya membantunya. Kami terdiam kulirik dia kini tersenyum sambil menatap langit. Wajahnya kembali tenang seperti seakan semua beban telah hilang darinya.
“hei aku kau belum memberitahuku siapa perempuan itu dan kapan kau akan mengatakan smua itu?”aku teringat dia belum memberitahuku siapa perempuan itu.
“aku sudah mengatakannya dan dia ada disampingku”katanya sambil menatapku dan tersenyum lalu bangkit untuk bergabung dengan mereka yang tengah asik berdendang ria disebrang api ungggun dan aku hanya masih tak percaya....
Langganan:
Postingan (Atom)
pohon mangga depan rumah
Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...
-
Aku sedang sibuk dengan jejaring sosial ketika sebuah pesan masuk ke inbox ponsel ‘hay’ hanya tiga huruf isi pesan tersebut ‘hay j...
-
Hari kian larut Bulan muncul berbalutkan gaun bertabur bintang Pangeran malam pun menggodanya Angin mengganggu mereka Dengan sapuan dingin m...
-
mungkin tak banyak orang yang mengalami yang aku alami, 3x hari yang seimbang, bukan hari yang selalu sial atau hari yang selalu beruntung t...


