sebuah blog yang bisa dibilang tak bermanfaat bagi pembaca tapi sangat bermanfaat bagi sipenulis
Selasa, 09 Desember 2014
selalu ada kisah disetiap langkah
Selasa, 15 Juli 2014
kencan yang tertunda
From awan
Bersiaplah satu jam lebih awal dari biasanya, pakai senyaman mungkin dan jangan lupa jaket dan masker kalau perlu sarung tangan juga
Itu pesan yang awan kirim kepada asa dan seperti yang awan beritahukan lewat pesan singkatnya, satu jam lebih awal dari rutinitas biasanya, awan sudah ada didepan rumah asa. Kali ini bukan si hitam crv yang menemani awan melainkan matic yang dulu selalu menemani awan menembus jalanan kota yang padat
"kemana si hitam?" tanya asa begitu melihat awan dihalaman rumahnya dengan simatic
"digarasi, kali ini pake matic, lama dia gak keluar kandang" ujar awan sekenanya "kenapa tak mau pake si matic?" awan bertanya seperti meragukan asa yang mengesankan tak ingin pergi menggunakan matic hitam milik awan
"bukan begitu hanya tak biasa aja lagi pula sudah lama aku tak menaiki matic hitammu. Aku pikir kau lupa akan dia soalnya kau selalu pakai siitem" jelas asa meluruskan dugaan awan yang salah
"ini lebih sering dipakai bulan jd aku pakai siitem" awan beralasan "ayo jalan udah siang nih" awan menyalakan matic hitamnya dan asa telah bersiap dibelakangnya untuk menembus jalanam bersama matic hitam, serasa nostalgia beberapa tahun lalu ketika awan masih sangat setia dengan simatic hitam
"kita mau kemana?" asa bertanya dengan sedikit berteriak. Rasa penasaran asa muncul, hari ini asa tak tahu akan dibawa kemana, rasanya seperti diculik dengan persetujuan
"suatu tempat untuk mengganti kencan kita yang tak pernah terlaksana" jerit awan agar suaranya dapat terdengar oleh asa
"iya tapi dimana?" asa sedikit kesal karena awan seperti itu lagi, tak mau memberi tahu akan kemana mereka kali ini
"kau akan tahu jika kita sudah sampai" jawab awa yang membuat asa semakin kesal
"itu sama saja kau tak mau memberi tahuku kemana kita akan pergi"
"yang jelas disana kau bisa makan sesuatu yang kau suka sepuas hatimu mungkin sampai kau tak mau makan lagi yang penting sekarang jangan pegangang yang kuat dan banyak bicara" awan mempercepat laju motornya dan asa memeluk punggung awan sekuat mungkin karena itu satu-satunya cara asa untuk perpegangan.
Perjalanan jauh pertama kali mereka dengan matic hitam milik awan. Awan melajukan arah motornya menjauhi kota, lambat laun suasana berubah dari pemandangan kota yang kanan kiri dipenuhi dengan toko dan perumahan kini berbeda, sesekali mereka melewati sawah, hutan, desa. Sesuatu yang baru bagi asa yang hanya bisa menikmati yang membosankan dikesehariannya.
"yap kita sampai" awan menghentikan motornya tepat dipintu masuk salah satu resto kebun yang membuat asa tak berhenti tersenyum senang. Tak percuma perjalanan panjang mereka yang melewati jalan berliku selama hampir dua jam
"resto dan kebun stroberry?" gumam asa
"iya, disini kau bisa makan strobery sepuasmu" awan meyakinkan asa bahwa ditempat ini asa bisa makan yang ia suka sepuas hati
"sepuasku?" asa masih merasa ragu dengan ucapan awan dan awan mengangguk mantap meyakinkan asa
"makan sepuasmu. Tian tak akan masalah dia masih punya stok stroberry yang banyak untuk memenuhi kebutuhan restonya seharian" jelas awan "tapi saranku jangan terlalu banyak kau wajib mencoba menu spesial disini" awan menyarankan sesuatu yang membuat asa bimbang, mencoba sesuatu yang baru dari yang dia suka sepertinya cukup menarik bagi asa
"tian? Siapa dia?" asa penasaran dengan nama seseorang yang awan sebut
"tian dia temanku sekaligus pemilik resto ini"
Tak lama setelah mereka memakirkan matic hitam, seseorang menghampiri mereka dan menyalami awan
"gimana perjalanannya? Seru?" orang itu menanyakan bagaimana perjalanan yang asa dan awan lakukan
"sekali lebih menyenangkan daripada mengendarai mobil. Oia kenalkan ini asa dan asa ini tian temanku sekaligus pemilik tempat ini" awan memperkenalkan asa kesalah satu teman baiknya. Asa menyalami orang yang bernama tian itu
"jadi ini calonmu yang suka banget sama stroberry itu?" mereka tersenyum "beruntung kamu asa datang pagi masih banyak strobery yang belum dipetik sama pelanggan lainnya" kata tian sambil tersenyum
"terima kasih maaf merepotkan" kata asa sopan, sambil berusaha menahan senang
"gak pa2 santai saja oia aku siapin tempat digazebo paling luar dan maaf tak bisa menemani kalian soalnya harus cek diperkebunan lainya nanti ada ujo dia siap membantu kalian, ok aku tinggal dulu ya" dia pamit, awan dan asa kembali menyalami tian sebelum dia berlalu kemobilnya
Asa berjalan mengikuti awan, sepertinya awan sudah hafal akan tempat ini hingga dengan mudah awan menemukan tempat yang tian maksud. Sebuah gazebo kecil terpisah dari lainnya, letaknya lebih dekat dengan kebun strobery dan teh dengan pemandangan yang indah. Semuanya cukup untuk membayar rasa capek perjalanan panjang tadi
"terima kasih" ucap asa tulus sambil tak lepas menatap apa yang alam sajikan dihadapannya
"untuk?" awan bertanya seakan tak mengerti untuk apa asa berterima kasih
"untuk semuanya, untuk kencan tertunda kita"
ska, tgl dan bulannya Lupa
waktu bersama mika
"Kalau kaya gini mirip ibu2 yang nganter 11anak laki2 bermain" keluhku karena kenyataan tak sesuai dengan apa yang diucapkan mika, beberapa hari sebelumnya mika memintaku menemaninya menemani team basket yang ia latih, awalnya aku pikir dua team yang akan ikut, team laki2 dan perempuan namun ternyata hanya team laki2 yang pergi dengan alasan hanya team laki2 yang menjuaraipertandingan antar sekolah minggu lalu
"Bukan 11ank laki2 tapi 10ank laki2 dan satu anak perempuan" timpalnya sambil mempercepat langkahnya, mungkin untuk mengurangi beban dari apa yang dia bawa
"Mana iput?" Aq berusaha menyamai langkahnya, walau sedikit susah dengan sekotak buah ditanganku. Aku mencari iput diantara rombongan anak laki2 yang berada didepan kami. Iput manager team basket yang selalu ada dimanapun team berkumpul, ia akan jadi paling cantik disetiap saatnya jika mika tidak memaksaku menemaninya.
Kami sampai disebuah gazebo yang dapat kenampung 10orang, mereka sudah siap dengan kotak nasi masing2. Aku tersenyum, aku teringat ketika aku dan mika pergi piknik dengan kedua ponakan kembarny yang masih berumur 5tahun sungguh merepotkan tapi sangat menyenangkan
"Mba udah pernah kerumah mas mika? Ketemu orang tuanya?" Gana yang duduk disebrangku tiba2 bertanya seperti itu
"Iya, udah ketemu ibunya mas mika juga" kataku sambil tersenyum menanggapi pertanyaan gana yang aneh
"Mas mika juga?" Kini gana menoleh kearah mika, mika mengangguk, mengiyakan pertanyaan gan
"Tinggak nunggu undangan nih" celetuk bagus yang terkenal iseng mulai menggoda aku dan mika disemua kesempatan. Semuanya tertawa, aku juga tersenyum hanya mika tak bereaksi tak seperti biasanya. Dia berdiri dan berkata
"Setengah jam lagi harus siap dan saatnya kita bersenang-senang" katanya dengan gaya khas jika itu sesuatu yang menyenangkan. Dia beranjak.akan pergi, akj penasqran ia hendak kemana
"Mau kemana?" Tanyaku
"Ketemu instruktur outbound, kamj disini awasi anak2 kita" candanya kembali, selalu bilang anak kita bila kami jadi yang tertua dari semua yang ada. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya dan menatap kepergiannya.
Semua telah bersiap untuk mulai bersenang-senang, mika dan seluruh team instruktur telah bersiap dilapangan yanv dikelilingi pohon pinus, hanya iput yang dari tadi asik dengan ponselnya
"Kamu gak ikutan?" Tanyaku begitu melihat iput hanya duduk tak mengikuti teman2nya kelapangan, ia menggelangkan kepalanya menandakan tidak. Aku melirik kotak nasi yanh tadi dibagikan masih belum tersentuh begitu dengan kotak makan berisi buah yang selalu dibawanya, belum ada setengah yang dia makan
"Kamu knapa? Patah hati?" Tanyaku mencari tahu ada apa gerangan dengan iput hari ini
"Gak pa2 kok mba lagi autis aja sama games baru" jawabnya, seperti menyangkal sebuah keadaan yang tak ingin orang lain ketahui
"Ya udah kalau gitu makan dlu" aku menyodorkan kotak nasi kepadanya
"Aku fruitarian mba" ia kembali beralasan agar tak memakan nasi kotak miliknya
"Aku juga fruitarian tapi aku juga makan yg lain karena aku tahun tubuh kita butuh sesuatu yang lain yang tak ada didqlam buah" jelasku "sekarang ayo makan" lanjutku. Iput menerima nasi kotak yang kusodorkan dan mulai memakannya
"Mba udah kenal mas mika lama?" Iput membuka pembicaraan, beberapa saat setelah menghabiskan nasi kotak miliknya dan mulai bergabung denganku, duduk direrumputan diawah pohon pinus didataran yang lebih tinggi dari tempat mika dan 11 anak buahnya
"Baru beberapa tahun sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Kamu kenal dia kapan?"
"Setahun lebihlah" jawab iput "ada yg berubah dari mas mika dari pertama mba kenal sampai sekarang?" Ada yang menarik dari mika dimata iput
"Tak ada yang berubah dari dia, dari pertama kenal hingga saat ini ya kecuali fisiknya" jelasku "kamu suka sama mas mika?" Godaku, siapa yang tak suka dengan orang sebaik dia
"Nanti mba dian marah? Cuma lagi suka cwo dan sikapnya mirip mas mika" kata iput seakan menerawang ke arah mereka yang tengah asik dengan permaianan
"Mungkin sebagian sama tapi ada yang beda, mas mika itu terkadang ceroboh"
"Ceroboh? Sepertinya nggak deh" iput mencoba menyangkal apa yang aku ucapkan
"Iya, sepertinya dia akan yang selalu terlibat masalah jika qta sedang bermain2 seperti ini, dlh pertama kali kami pergi keacara api unggun dia dia yg tak sengaja meminum minyak tanah, sekarang entah apa yang akan terjadi" aku menganalisa karena dia selalu yang terkena musibah.
Tak lama apa yang aku kira terjadi, mika berlari menjauh dari kerumunan, dia diikuti salah satu instruktruk dan afmi berlari membawa segelas air mineral lalu diberikan ke mika. Mika mulai mencuci matanya setelah instruktur matanya berusaha agar sesuatu yang masuk kematanya keluar. Afmi menghampiriku meminta sebuah tisu, aku menyodorkan sekotak tisu dan ia mengambil satu dan mulai berlari menghampiri mika. Aku mengukuti afmi menghampiri mika dan memperhatikan apa yang afmi lakukan, ia berusaha mengambil sesuatu dari mata mika menggunakan tisu
"Udah ah mba dian aja yang cewe" afmi menyerah, ia menyerahkan tisu yang dia pegang kepadaku. Aku menggandeng mika agar ketepi lapangan dan melihat apa yang masuk dimata mika. Kudapati sesuatu disudut matanya sepertinya bedak yang digunakan dalam permainan
"Tahan sebentar" aku mulai memcoba mengambil kotoran itu. Ia diam menuruti apa yang aku ucapkan
"Masih ada ini" ia protes, merasa masih ada yang mengganjal dimatanya
"Sabar ini tisunya terlalu besar" kataku sambil membuat tisu agar lebih meruncing. Perlahan dan kotoran itu berhasil keluar dari matanya, ia bernafas lega
"Terima kasih, kau selalu jadi penolongku dan selalu ada saat aku butuhkan" katanya sambil menangkup kedua pipiku dan menatapku lekat. Matanya kini kembali ceria tak seperti tadi walau kini sedikit merah
"Cieee, ehem, romantisnya.." anak2 mulai meledek kami, mungkin pemandangan seperti ini jarang mereka lihat atau jarang kami pertunjukan
"Udah diem" kata mika kesal, dia malu sama sepertiku
"Udah cuci matamu dlu lalu pakai tetes mata dikotak obat yang ditasku" aku meyodorkan air kemasan dalam gelas yang belum dibuka ke mika
"Makasih banget, kalau gak ada mereka udah tak peluk kamu" dia tersenyum, candanya yang terkadang berlebihan kembali keluar. Mika mencuci matanya dan pergi ke gazebo dan mengambil tetes mata lalu menghampiriku lagi memintaku membantunya meneteskan obat tetes mata ke matanya
"Mba dian sama mas mika bikin iri aja" iput memasang wajah iri dengan kedekatanku dengan mika
"Kamu juga, tanpa sadar kau dan bagus juga bikin yang lain iri" kataku tak mau kalah
"Yang mana?" Sepertinya iput benar-benar tak tahu dengan apa yang dilakukan dia denga bagus tempo hari
"Saat bagus membetulkan letak topimu, sepele tapi itu sebuah perhatian kecil yang terlihat sangat tulus"
"Mba benar, bagus terkadang terlalu perhatian dengan hal kecil padaku tapi kadang iput pengen lihat bagus staycool depan yang lain"
"Sekarah ketahuan siapa yg kamu suka, orang seperti mereka tak bisa staycool, contohnya mas mika waktu jemput mba dia bilang mau pasang image cool seharian ini tapi nyatanya gak bisa, mungkin klo dia menuruti apa yg diucapkan tadi pagi mungkin kejadian barusan gak bakal terjadi" kataku panjang lebar
"Dan foto romantis ini gak bakalan ada" kata iput sambil menunjukan beberapa fotoku bersama mika, mulai saat aku mencoba membersihkan mata mika hingga saat mika menangkupkan kedua tangannya dipipiku.
Ska, 19 juni 2014
Jangan berubah aku suka kau yang seperti itu
rindu dia
"Dimana dia? Jadi ikut tidak?" Salah seorang dari kami bertanya padaku dengan kesal
"Sabar dia baru telat 15menit, tidak sepertimu, kami harus menunggumu lebih dari dua jam" aku menjawab dengan kesal, sekalian saja kulontarkan semua yang selama ini aku sembunyikan dari orang itu. Dia diam, menyadari kesalahannya beberapa waktu yang lalu. Ponselku berbunyi, aku tersenyum lega, akhirnya dia menghubungiku setelah beberapa pesan yang aku tinggalkan dan panggilan dariku yang dia abaikan
"Kamu dimana?" Tanyaku begitu mendengar suaranya
"Maaf aku tak bisa ikut" dia meminta maaf namun aku sudah terlanjur kesal
"Kenapa? Kamu udah janji denganku untuk pergi bersama aku dandan teman2ku hari ini" aku tumpahkan semua kesalku, dia diam tak mejawab "ok kalo kamu kaya gitu, mending bubaran aja wes" kesalku sudah memuncak, aku mematikan telfonnya darinya dan bersiap untuk berangkat
"Ok qta berangkat sekarang, temanku tak jadi ikut" kataku dengan nada yang masih kesal
Kami sampai disebuah pantai yang landai dengan pasir putih yang lembut. Kulihat semua temanku bergembira dan aku tersenyum yah semua kesalku hilang melihat pemandangan yang menakjubkan yang disuguhkan gratis oleh alam dohadapanku. qku duduk di tepi pantai, tepat dimana ombak pecah dan kembali membawa pasir2 yang halus. Ini bukan pertama kalinya aku kesini, ini sudah toga atau empat kalinya aku kesini.
"Sudah tak usah sedih masih banyak yang lain" seseorang tiba2 duduk disampingku dan mencoba menenangkanku. Aku tak peduli siapa yang dulu disampingku, aku terus saja menatap cakrawala yang memisahkan antara yang terlihat dan yang tidak terlihat
"Kau salah mengira, bukan seperti itu" jelasku dengan kalimat yang masih ambigu
"Lalu" dia bingung, dia benar2 tak mengerti aku
"Seharusnya aku disini menikmati laut, meantari dan bau khas pantai dengan dia yang lain bukan dengan yang aku marahi tadi juga bukan dirimu" jelasku
"Diam2 kau playgirl juga ya?" Dia menyimpulkan dengan seenaknya
"Boleh pinjam pundakmu?" Aku bertanya tanpa melihat wajahnya
"Silahkan" katanya memperbolehkan, aku langsung menyandarkan kepalaku dipundaknya, sebenarnya bukan pundak seperti ini yang aku rindukan saat ini. Aku merindukan menyadarkan kepalaku dipundaknya, aku rindu tawanya yang selalu ceria, aku rindu ucapannya yang terkadang tak terduga, aku rindu semua yang menyangkut dirinya saat ini
"Maaf untuk yang tadi aku hanya kesal temanku membatalkan janji begitu saja padahal yang lain sudah berbaik hati untuk menunggu" aku meminta maaf atas kekesalanku yang kutimpakan pada dia yang kini duduk disampingku
"Tak apa" jawabnya singkat, kami berdua terdian menikmati suasan keceriaan yang terjadi di pantai saat itu. Tiba2 saja dia menjentikan jarinya beberapa orang dari kami menghampiriku dan dia, dengan sigap dia dibantu yang lain membopongku dan meleparku kelaut. Kejutan yang tak terduga, seperti beberapa waktu yang lalu dipantai ini ketika aku datang bersama dia yaang kurindukan bukan dia yang menghubungiku sebelumnya juga bukan dia yang menceburkanku kali ini.
senyum arya
Hari itu, prisa datang terlambat. Dia datang terburu dengan sekotak makanan ditangannya, sudah menjadi kebiasaannya saat bertemu dengan kami. Kali ini ia datang jalan kaki, ia tak ditemani matic putih kesayangannya
"Kok jalan kaki sa?" Tanyaku ke prisa, aku melihatnya mengatur nafasnya
"Tadi aku lihat jalan depan kantor macet jadi jalan deh untung aja deket" jawabnya begitu nafasnya mulai teratur, prisa menyerahkan kotak yang dibawanya kesalah satu dari kami dan disabut suka cita oleh yang lain
"Mas arya kok kesini lagi" tanya afmi yang melihat arya kembali setelah beberapa saat yang lalu pamit pergi. Prisa yang mendengar nama arya disebut langsung membalikkan badan dan salah tingkah, semua yang ada paham apa yang terjadi. Prisa yang selalu mengungkapkan apa yang dia rasakan itu terpesona dengan senyum arya yang menawan. Wajahnya merah padam dan mulai mencubit siapa saja yang mencoba menggodanya termasuk afmi yang mencoba memberi tahu arya kalau prisa tertarik padanya
"Mau kasih tahu sama semuanya kalau ditunggu jali dtempat makan biasa" kata arya sambil tersenyum melihat apa yang terjadi, mungkin arya paham dengan situasi yang terjadi dan prisa semakin salah tingkah, ia sudah jatuh hati pada senyuman arya saat pertama melihat arya tersenyum dibalik kemudi saat kami berlibur bersama.
Semua bersiap dengan kendaraan masing2 termasuk arya dengan motor pinjaman
"Mas arya, mba prisa minta diboncengin nih" celetuk afmi yang tak kapok dengan cubitan prisa masih tetap menggoda prisa, prisa yang sudah terlanjur malu mendekati aman
"Aman, anterin aku balik kekantor ya?" Pinta prisa
"Ini baru mau berangkat kenapa harus balik kekantor?" Aku yang didekat prisa mencoba meyakinkan untuk ikut
"Ini sabtu lho?" Uni juga menambahkan dengan menyebutkan hari itu hari libur, karena hampir semua dari kami memiliki waktu 5 hari kerja termasuk prisa
"Ada pelatihan dikantor dan aku penanggung jawab pelatihan" prisa beralasan agar semua paham akan kondisinya sekarang
"Kalau gitu kenapa kesini?" Aman yang bingung kenapa prisa cabut dari tangung jawabnya
"Aku hanya gak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu kalian minggu ini dan setengah jam lagi pelatihan dimulai jadi antar aku sekarang" kata prisa yang sudah siap dibocengan motor aman
"Kamu sama siapa?" Arya yang ada didekatku bertanya dengan siapa aku akan pergi ketujuan
"Aku dengan siapa aja yang masih kosong" jawabku karena aku seorang nebenger jadi harus siap siapa saja yang akan menjadi sopir relawan untukku
"Sama aku saja, aku kosong kok" aku kaget mendengar jawaban arya yang menawarkan boncengan kepadaku. Aku tak tahu harus senang atau tidak, aku senang ya karena ada yang sukarela menjadi supirku hari itu, aku tidak senang karena aku merebut kesempatan prisa untuk lebih dekat dengan arya
Kami melaju, prisa dan aman berada didepan sedang aku dan arya dibelakang mereka, lalu lintas yang padat membuat siapapun yang jeli bisa mendahului yang lain begitupun aku dan arya begitu melihat kesempatan arya mempercepat gas motornya dan mendahului prisa dan aman. Prisa kaget melihatku dibonceng arya sedang aman tersenyum melihat ekspresi prisa dari kaca spion. Aku yang duduk menyamping karena aku menggunakan rok panjanh dengan leluasa menghadap keprisa dan tersenyum kearah prisa. Akumemberikan kode agar aku dan dia bertukar tempat agar dia bisa dibonceng arya namun ia menolak tanggung jawabnya memaksanya merelakan kesempatan emas untuk dibonceng orang yang membuatnya terpesona meski ia sudah punya kekasih.
Kami sampai dirumah makan langganan kami saat kami berkumpul untuk makan. Aku berdiri disamping arya, menunggu yang lain
"Kalian berdua kaya pasangan aja" celetuk afmi yang tak kupahami siapa kalian disini "bajunya sampai couple gitu" aku mencari tahu siapa yang memakai baju yang mirip hari itu. Aku dandan arya tertawa menyadari apa yang diucapkan afmi, kemeja arya senada dengan long dress yang aku pakai hari itu
"Jangan bilang gitu nanti ada yang kecewa berat tadi aja pas lihat udah kaya mau pingsan kok" ujarku yang disambut tawa oleh yang lain yang paham dengan apa yang aku ucapkam
Jumat, 17 Januari 2014
Hujan
Sudah 10 menit asa memandang kearah luar dari beranda lanatai dua rumahnya. Tangan nya terlipat didadanya berusaha agar badannya tetap hangat dari hawa dingin akibat cuaca yang kurang mendukung. Asa selalu kesal ketika hujan turun, bukan karena cucian yang tak akan kering dengan cepat atau bukan karena ada air dimana
“sudahlah jangan kesal terus” awan menghampiri asa dan menyodorkan segelas teh hangat kepada asa. Asa menerimanya dan dengan segera ia menangkupkan kedua telapak tangannya di mug yang hangat itu
“aki bukan kesal tapi aku hanya tak suka ketika hujan” jelas asa lalu menyeruput teh hangatnya
“pembelaan yang sama. Dari kenal kamu dulu sampai sekarang kamu tuh selalu kesal ketika hujan, kenapa?” tanya awan yang belum tahu kenapa asa tak suka akan hujan
“hujan itu tak menyenangkan” jawab asa singkat
“kenapa?” awan kembali penasaran
“semuanya basah air dimana-mana, dingin, semuanya serba repot, semuanya terhambat dan tak ada matahari ketika hujan” jelas
“oo hanya kerena semua itu kamu tak suka hujan” awan kembali menimpali jawaban asa tanpa lepas pandangannya dari hujan yang mengguyur rumah mereka
“bukan hanya itu karena hujan aku tak bisa menikmati matahari aku tak bebas berjalan diluar semauku” tambah asa
“tak selamanya hujan itu tak indah, bagi sebagian mereka dapat menghasilkan sesuatu ketika hujan katanya suara tetesan air dapat membuat pikiran tenang” jelas aawan
“itu bagi orang lain kalau bagiku beda” sanggah asa “jika disuruh memilih lebih baik mana hujan atau hari penuh dengan matahari?”
“yang jelas kau akan memilih hari yang penuh akan matahari” awan melirik asa dan asa mengangguk “aku lebih memilih hujan karena..” awan tak melanjutkan perkataannya. Ia menarik tangan asa menuju sofa yang menghadap keluar, kearah hujan yang masih setia membasahi bumi, lalu duduk disana “karena aku bisa menikmati lebih banyak waktu bersamamu. Berdua bersamamu tanpa ada yang lain tanpa hingar bingar hanya ada kamu aku dan ketenangan” lanjut awan yang disambut senyum dari asa.
Pemalang, 18 januari 2014
Rindu akan hangat mentari
Rabu, 15 Januari 2014
Kau yg numpang singgah
kau, kau yang sempat singgah untuk beberapa waktu ditahun yang lalu, terima kasih untuk semua obrolan kita
waktu itu. terhitung singkat memang namun mempunyai makna tersendiri yang terkadang membuatku terpojok
oleh apapun yang kita bicarakan, aku juga tak mengerti kenapa sampai seperti itu mungkin karena aku terlalu terbawa akan suasana obrolan kita.
kini, aku mulai berbenah setelah obrolan kita selesai dan kau mulai lagi melanjutkan pencarian. aku berbenah
untuk siapa saja yang akan mampir singgah ditempatku untuk ngobrol sambil minum teh dan menikmati peralihan yang penuh akan jingga.
selamat jalan, semoga kau berhasil dalam pencarianmu. tetap ingat untuk sesekali berhenti karena ada pemberhentian dalam setiap pencarian kau bisa duduk sejenak menikmati pagi dengan secangkir kopi ditempat singgahmu yang lain atau kau bisa datang dipersinggahanku jika kau mau karena aku akan selalu menerimamu dengan senang hati.
ska, 8 januari 2014
ingat ada pemberhentian dalam pencarian
Semua seimbang
mungkin tak banyak orang yang mengalami yang aku alami, 3x hari yang seimbang, bukan hari yang selalu sial atau hari yang selalu beruntung tapi benar2 hari yang seimbang antara keduanya.
hari pertama, aku pikir hari itu sial, aku dan temanku pergi kesebuah biaskop disalah satu mall untung mendapatkan voucher gratis nonton. kami berangkat
menerjang gerimis yang tak kunjung henti dari pagi dan mengantri cukup lama namun kami keabisan voucher tapi
ternyata tidak aku mendapatkan apa yang aku cari untuk kado ibuku kami mendapat kesempatan untuk menikmati
waktu promosi salah satu fastfood dan kami juga berkesempatan bagaimana para penggiat sekaten mempersiapkan semua peralatan yang diperlukan untuk
memeriahkan acara itu.
hari kedua, berbekal poin dari salah satu provaider ponselku aku mencoba lagi ketempat yang sama, kali ini dengan mudahnya kami mendapat voucher nonton, tak perlu mengantri panjang seperti sebelumnya. hari yang beruntung? ternyata tidak. kami kehabisan bus dan angkutan kota, kami harus berjalan jauh untuk mendapatkan taksi yang lebih murah dibandingkan
ditempat kami nonton.
hari ketiga, kami kembali berniatan untuk nonton lagi kali ini kami tak mengandalkan voucher gratisan lagi karena film yang akan kami tonton tidak masuk syarat yang diperbolehkan oleh voucher nonton, namun film yang akan kami tonton telah tergusur dari list pemutaran, sial tidak juga, kami malah menonton film dengan setting sebagian besar dikota paling romantis, paris, katanya.
semuanya seimbang tak ada yang lebih disalah satu sisi dan ada makna dibalik semuanya seperti hari pertama kami mengerti bagaimana harus berjuang demi kehidupan. hari kedua kami diberi kesempatan untuk menikmati suasana malam, mulai dari sepi ramai dan sepi
lagi. dan dihari ketiga kami diberi kesempatan agar orang lain berbuat kebaikan ketika dengan tak sengaja aku meninggalkan roti untuk ulang tahun temanku disalah satu halte bis kota dan dengan baik hatinya penjaga itu
mengantarkan roti itu untuk kami serta kami juga diberi waktu untuk menikmati senja dengan jingganya dan lalulalang lalu lintas sore itu.
Berhenti jadi dia
raut wajahnya tak berubah semenjak perdebatan terakhir mereka, awan masih dengan emosinya yang sebisa ditahan agar tak meledak ditempat mereka berada sedang asa masih tertunduk menahan tangis agar tak tertumpah, asa tak suka situasi seperti ini, sangat menakutkan, ekspresi awan yang seperti ini selalu membuat asa takut untuk menatap mata awan yang selalu ia suka karena dari sana asa bisa melihat keteduhan yang menenangkan
"sudah aku bilang jangan samakan aku dengan tokoh dalam khayalanmu itu" awan sedikit meledak. asa masih terdiam. awan menarik nafas dan menghembuskan dengan berat
"aku hanya berkata sekali kalau kau semakin mirip dengan tokoh khayalanku, hanya sekali" bela asa
"tapi tetap saja kau menyamakan aku dengan awan tokoh khayalanmu itu lagi pula apa sih romantisnya?"
"khayalanku selalu punya cara sendiri dalam memberi kejutan ke perempuannya" asa kembali membela sendiri, asa paham tak bisa ia melawan awan dalam keadaan yang seperti ini
"jadi kau ingin aku ingin aku seperti awan dikhayalanmu itu?" tantang awan
"tidak karena aku yakin setiap orang punya sisi romantisnya sendiri begitupun kau"
"jadi kalu begitu jangan samakan aku dengan dia kami beda" ucapnya tegas. kali ini giliran asa yang menarik nafas panjang. raut wajah asa berubah seperti ribuan keberanian datang seketika dalam dirinya
"kalau kau tak mau aku samakan dengan awan khayalanku berhenti berlaku seperti dia karena aku telah memberimu semua tulisanku" kata asa dengan sedikit emosi lalu pergi beranjak dari hadapan awan.
pemalang, 15 januari 2014
awan, berhentilah menangis dan coba tersenyum agar semua orng tahu bagaimana hangatnya dirimu
pohon mangga depan rumah
Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...
-
Aku sedang sibuk dengan jejaring sosial ketika sebuah pesan masuk ke inbox ponsel ‘hay’ hanya tiga huruf isi pesan tersebut ‘hay j...
-
Hari kian larut Bulan muncul berbalutkan gaun bertabur bintang Pangeran malam pun menggodanya Angin mengganggu mereka Dengan sapuan dingin m...
-
mungkin tak banyak orang yang mengalami yang aku alami, 3x hari yang seimbang, bukan hari yang selalu sial atau hari yang selalu beruntung t...