Kamis, 07 September 2017

pohon mangga depan rumah


Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena sudah beberapa kali dimusim penghujan tahun ini, air hujan yang dulu tak sampai teras rumah kini sudah muali masuk rumah. Ini terjadi semenjak peninggian jalan depan rumah yang tak dibarengi dengan perbaikan selokan yang mulai menyempit ditambah selokan disebrang jalan yang mulai terbendung
"Ditinggiin brapa cm yah?" Aku yang selalu penasaran dengan apa yang ayahku lakukan tak melewatkan kesempatan "10cm, nanti halaman sekalian biar sehabis banjir gak ada lumpur" "Nanti pinggir dikasih resapan air pake kerikil kecil gitu" usulku "Dan nanti skalian ini pohon ditebang aja, udah terlalu tua, terlalu besar juga klo ada angin bahaya" lanjut ayah menanggapi usulanku
Aku mendengar perkataan ayah hanya diam, ada rasa gak rela, pohon mangga terenak yang pernah makan akan tak ada lagi jejaknya.

Belasan tahun yang lalu, ya belasan tahun yang lalu sebelum aku mendapat sepeda pertamaku, Saat pohon mangga depan rumah masih sangat rindang dan sepenggal kisah lucu itu terjadi. Aku masih kecil entah usia berapa aku saat itu. Pohon mangga depan rumah berbuah lebat, pohon mangga yg usianya jauh lebih tua dari umurku atau mungkin lebih tua dari ayahku. Seperti anak kecil lainya, aku yang selalu pergi bermain sepulang sekolahdan pualng disore harinya. Namun hari itu ditengah permainnya ibu memanggilku atau aku yang pulang sendiri aku tak terlalu ingat yang selalu aku ingat aku menangis sejadi2nya melihat pohon mangga didepan rumah yang tengah berbuah lebat ditebas buahnya, bahasa lainnya dijual begitulah. Aku menangis sampai mengancam akan membunuh tukang tebasnya, bisa dibayangkan bagaimana marahnya aku saat itu sampai akhirnya aku capek menangis dan diungsikan ke pasar ke tempat neneku berjualan waktu itu dan akhirnya esok paginya aku mendapat sepeda pertamaku, sepeda warna ungu yang sampai sekarang masih tersimpan meski ada digudang, ibu tak berani menjual sepeda pertamaku mungkin takut melihat aku yang menangis histeris tak rela mangga paling enak dari semua mangga yang pernah aku makan sampai saat ini dijual.

Minggu, 28 Juni 2015

Karena Seperti Mereka Sudah Terlalu Biasa

Karena seperti mereka sudah terlalu biasa
Hari sudah mulai terang, para pencari sunrise sudah mulai resah apa yang dinanti sudah akan hilang pesona. Aku masih setia dengan sleepingbag pinjaman dari eko sehari hari sebelumnya, aku tak suka udara dingin dipagi hari itu akan membuatku tak berhenti untuk bersin. Aku bukan mereka para pencari sunrise yang datang jauh dari tempat mereka berada hanya untuk menikmati keindahan yang sekejap, aku lebih suka mentari yang bersinar penuh karena aku bisa menghangatkan tubuhku sepuas hatiku.
"Keluar bentar lg sunrise habis" ujar jali yang melihatku masih berbalut sleeping bag sambil duduk memeluk lututku. Tanpa banyak komentar aku keluar dr sleepingbagq, melipatnya dan memasukan kekantongnya kembali lalu menyambar ranselku mengambil sarung milik ayah yg kubawa kemana2 jika aku menginap dan dua kantong tisu basah dan kering.
Aku keluar tenda dan meregangkan tubuhku sejenak dan berlalu kearah lain jaih dari kumpulan tenda berdiri
"Kemana?" Ujar deni bertanya
"Nandain wilayah" jawabku asal mereka paham apa yang aku maksudkan
"PAntesan aja wajahnya suwung bgt dr tadi" sayup2 yg lain menimpali kespresiku ketika menahan pipis.
AKu kembali dengan wajah sumringah lega, apa yang seharusnya pergi sudah aku relakan dan tak berharap itu akan kembali
"Ayo brangkat" jali mengomando yang lain agar segera melanjutkan perjalanan kepuncak
"AKu belum sarapan" keluhku tanpa jawaban dr yg lain juli melempar sebuah ransel kecil padaku kubuka isinya satu bungkus roti, madu coklat, air kelapa dalam kemasan dan sebotol air minum. Aku tersenyum dan mulai mengikuti mereka.
Langkah demi langkah, aku semakin jauh. Tempatku menginap semalam terlihat seperti kumpulan titik warna warni dari jauh
"Semalam kita disana?" Aku bertanya pada jali yang duduk disampingku saat kami sampai dipuncak. Ia mengangguk tanpa sepatah kata yang terucap
"Kemana?" TAnyanya melihatku beranjak dari sisinya
"Cari tempat teduh panas nih"
AKu mendapat tempat berteduh bukan dibawah pohon rindang tapi semak belukar, aku merebahkan tubuhku dan memandang langit tak ada bisa cara lain menikmati keindahan ciptaan-NYA selain duduk dan merenung.
Aku terjaga dengan kaget, aku ketiduran diantara lamunanku. Tak perlu waktu lama aku menemukan gerembolanku, kuhampiri jali yg masih setia duduk dan menikmati pemandangan.
"Gak foto2?" Ia bertanya padaku dan aku mengalihkan pandanganku kesekitar
"Masim musim foto2 dipuncak gunung sambil bawa kertas yah?" Aku balik bertanya padanya, dia tertawa seketika
"Iya lg tren foto sambil bawa kertas, km gak ikutan biar punya bukti buat pamer kalo udah naik gunung"
"Tak perlu foto kau mau nunjukin bukti udah naik gunung"
"Tp km kan gak bisa uplod Foto klo km udah naik gunung apalagi ini yang pertama lho"
"Gak masalah klo gak bisa diuplod"
"Sepertinya apa yang jd alasanmu menarik, jelaskan padaku kenapa km gak seperti mereka yg berfoto dengan mententang tulisan2 itu"
Jali, seorang yg jauh lebih ekspert dalam mendaki gunung daripada aku meminta penjelasan kenapa aku tak seperti mereka
"Ini memang puncak gunung pertama yg kuinjak mungkin satu2 kalo aku tak punya kesempatan lagi. Kenapa aku tak mau berfoto seperti mereka? Karena ada beberapa alasan pertama semua itu merubah niatmu, niat yang awalnya melakukan perjalanan untuk menikmati keindahan ciptaannya berubah jd akan foto dipuncak gunung sambil bawa tulisan2 itu"
"Kau benar, rasa bersyukur yg spontan berubah dengan langsung mengeluarkan kamera"
"Kedua, jika aku seperti mereka, aku akan lupa dengan sekitarku, ada hamparan hijau yg luas yg bisa kita dilihat tanpa melalui kotak hitam kecil itu, ketiga mereka bisa kehilangan apa yg mereka abadikan sedang aku tidak"
"Maksudnya?"
"Seperti kita, merekam dengan mata dan menyimpan di otak kita. Kamera tercanggih yang tak bisa dikalahkan kamera manusia dan memory terbesar dari yang dibayangkan manusia. Keempat mereka tak punya cerita seperti kita, kalau ditanya dipuncak ngapain . Yg lain jawab denga satu kata dan kita jawab dengan satu cerita, kalau diminta bukti ajak langsung kesini biar juga bisa lihat langsung tak cuma lewat foto dan yang terakhir apa yg mereka lakukan terlalu mainstream. Mending yg kaya aku antimainstrem hahahahaa...." aku mengkahiri ceritaku
"Klo semua orang kaya kamu pasti puncak ini bersih gak kaya sekarang, penuh dengan kertas yang ditinggalkan begitu saja, tapi gak ada salahnyakan sekali atau dua kali foto?" Jali mengajakku foto bersama dengan gerombolan.

Selasa, 09 Desember 2014

selalu ada kisah disetiap langkah

selalu ada kisah disetiap langkah

selalu ada cerita dibalik sebuah perjalanan. seperti saat itu, tak berdasar pada sebuah rencana aku berangkat. kalau tidak sekarang kapan lagi? menjadi penentu keputusanku untuk melakukan perjalanan saat itu. Dan sebuah cerita dimulai saat aku melangkahkan kaki dari zona nyaman, zona nyaman dengan hangat peluk selimut dan wangi alam dari pengharum ruangan. Sejenak aku tinggalkan semua itu untuk mencari hangat dan wangi alam yang sesungguhnya ditemani 7 orang yang baru aku kenal saat aku melangkah dari zona nyaman dan seorang yang kukenal baik 4 tahun belakangan.

Aku memulai dengan langkah kecil untuk mencapai sebuah puncak, langkah2 yang mengingatkanku akan arti sebuah perjuangan, rasa kebersamaan dan langkah yang semakin menyadarkanku betapa kecilnya diri ini ditengah alam yang kujelajahi.

Setapak demi setapak kaki ini melangkah dengan sesekali menggapai uluran tangan dari mereka yang senang sekali membantuku melewati tanjakan terjal walau aku baru dikenal oleh mereka beberapa jam sebelumnya.

Sampai puncak atau tidak tak terpikir olehku, yang terlintas hanya rasa bersyukur sudah sejauh ini kakiku melangkah meninggalkan pelukan sleepingbag dan hangatnya minuman panas dimalam sebelumnya. "Jika disini saja sudah seindah ini apalagi saat dipuncak?" otakku mulai berdialog dengan diriku, mengajak insting manusia yang selalu merasa tak cukup untuk mendapatkan lebih dari yang ditawarkan saat diperjalanan, dialog sederhana penggugah semangat saat badan dirasa tak sanggup lagi untuk melanjutkan langkah.

Yap yang ditawarkan dipuncak jauh lebih indah tapi tak lantas membuat lupa apa yang menemaniku disepanjang perjalanan dari saat aku melangkah keluar dari zona nyaman hingga berdiri ditanah tertinggi nomer 9 dipulau jawa, ah bukan aku tidak berdiri dipuncak merbabu aku hanya duduk dan menikmati suasana dengan caraku yang berbeda dari yang lain. Disaat yang lain merayakan akhir perjalanan mereka dengan berfoto yang pasti akan diperlihatkan semuanya kalau sudah pernah berada disalah satu puncak gunung dijawa tengah, sedang aku hanya duduk lalu tertidur tak tepikir untuk foto2 lalu memajangnya difacebook, instagram atau path. Aku selalu punya cara tersendiri menikmati sesuatu, merekamnya dengan kamera terhebat dan tercanggih yang tak akan pernah dikalahkan oleh manusia yang mulai aku kaburkan lensanya dan dengan memory terbesar mengalahkan memory super komputer yang cpunya gedenya minta ampun, atau cuma duduk termangu bersyukur dengan keindahan alam yang masih bisa aku nikmati.

Mungkin ini paragraft terakhir, paragraft dimana aku mengucapkan terima kasih untuk 7 orang baru dan seorang teman baik. Terima kasih Edi, Agung, Brenda, Gosan, Gio, Amir, dan Eko, team pendaki dari fisika uns 2010, terima kasih dengan sabar menemani orang dengan tampilan petualang abis tapi baru ngrasain bagaimana berpetualanganya sebenarnya dan terima kasih untuk semua uluran tangan kalian lain kali jangan kapok untuk mengajaku lagi. Terima kasih Deni, tanpamu mungkin aku gak bisa merasakan bagaimana berpetualang yang sebenarnya. Untuk semuanya terima kasih untuk pengalaman yg seru.

merbabu, 23 November 2014

Selasa, 15 Juli 2014

kencan yang tertunda

Pagi belum benar-benar muncul. Embun juga masih menanti waktu untuk membasahi rerumputan tapi awan telah mengirimi asa sebuah pesan agar asa bersiap lebih awal. Asa tak mengerti kenapa awan menyuruhnya seperti itu yang dapat asa pahami, hari ini pasti akan ada sesuatu yang terjadi.
From awan
Bersiaplah satu jam lebih awal dari biasanya, pakai senyaman mungkin dan jangan lupa jaket dan masker kalau perlu sarung tangan juga
Itu pesan yang awan kirim kepada asa dan seperti yang awan beritahukan lewat pesan singkatnya, satu jam lebih awal dari rutinitas biasanya, awan sudah ada didepan rumah asa. Kali ini bukan si hitam crv yang menemani awan melainkan matic yang dulu selalu menemani awan menembus jalanan kota yang padat
"kemana si hitam?" tanya asa begitu melihat awan dihalaman rumahnya dengan simatic
"digarasi, kali ini pake matic, lama dia gak keluar kandang" ujar awan sekenanya "kenapa tak mau pake si matic?" awan bertanya seperti meragukan asa yang mengesankan tak ingin pergi menggunakan matic hitam milik awan
"bukan begitu hanya tak biasa aja lagi pula sudah lama aku tak menaiki matic hitammu. Aku pikir kau lupa akan dia soalnya kau selalu pakai siitem" jelas asa meluruskan dugaan awan yang salah
"ini lebih sering dipakai bulan jd aku pakai siitem" awan beralasan "ayo jalan udah siang nih" awan menyalakan matic hitamnya dan asa telah bersiap dibelakangnya untuk menembus jalanam bersama matic hitam, serasa nostalgia beberapa tahun lalu ketika awan masih sangat setia dengan simatic hitam
"kita mau kemana?" asa bertanya dengan sedikit berteriak. Rasa penasaran asa muncul, hari ini asa tak tahu akan dibawa kemana, rasanya seperti diculik dengan persetujuan
"suatu tempat untuk mengganti kencan kita yang tak pernah terlaksana" jerit awan agar suaranya dapat terdengar oleh asa
"iya tapi dimana?" asa sedikit kesal karena awan seperti itu lagi, tak mau memberi tahu akan kemana mereka kali ini
"kau akan tahu jika kita sudah sampai" jawab awa yang membuat asa semakin kesal
"itu sama saja kau tak mau memberi tahuku kemana kita akan pergi"
"yang jelas disana kau bisa makan sesuatu yang kau suka sepuas hatimu mungkin sampai kau tak mau makan lagi yang penting sekarang jangan pegangang yang kuat dan banyak bicara" awan mempercepat laju motornya dan asa memeluk punggung awan sekuat mungkin karena itu satu-satunya cara asa untuk perpegangan.
Perjalanan jauh pertama kali mereka dengan matic hitam milik awan. Awan melajukan arah motornya menjauhi kota, lambat laun suasana berubah dari pemandangan kota yang kanan kiri dipenuhi dengan toko dan perumahan kini berbeda, sesekali mereka melewati sawah, hutan, desa. Sesuatu yang baru bagi asa yang hanya bisa menikmati yang membosankan dikesehariannya.
"yap kita sampai" awan menghentikan motornya tepat dipintu masuk salah satu resto kebun yang membuat asa tak berhenti tersenyum senang. Tak percuma perjalanan panjang mereka yang melewati jalan berliku selama hampir dua jam
"resto dan kebun stroberry?" gumam asa
"iya, disini kau bisa makan strobery sepuasmu" awan meyakinkan asa bahwa ditempat ini asa bisa makan yang ia suka sepuas hati
"sepuasku?" asa masih merasa ragu dengan ucapan awan dan awan mengangguk mantap meyakinkan asa
"makan sepuasmu. Tian tak akan masalah dia masih punya stok stroberry yang banyak untuk memenuhi kebutuhan restonya seharian" jelas awan "tapi saranku jangan terlalu banyak kau wajib mencoba menu spesial disini" awan menyarankan sesuatu yang membuat asa bimbang, mencoba sesuatu yang baru dari yang dia suka sepertinya cukup menarik bagi asa
"tian? Siapa dia?" asa penasaran dengan nama seseorang yang awan sebut
"tian dia temanku sekaligus pemilik resto ini"
Tak lama setelah mereka memakirkan matic hitam, seseorang menghampiri mereka dan menyalami awan
"gimana perjalanannya? Seru?" orang itu menanyakan bagaimana perjalanan yang asa dan awan lakukan
"sekali lebih menyenangkan daripada mengendarai mobil. Oia kenalkan ini asa dan asa ini tian temanku sekaligus pemilik tempat ini" awan memperkenalkan asa kesalah satu teman baiknya. Asa menyalami orang yang bernama tian itu
"jadi ini calonmu yang suka banget sama stroberry itu?" mereka tersenyum "beruntung kamu asa datang pagi masih banyak strobery yang belum dipetik sama pelanggan lainnya" kata tian sambil tersenyum
"terima kasih maaf merepotkan" kata asa sopan, sambil berusaha menahan senang
"gak pa2 santai saja oia aku siapin tempat digazebo paling luar dan maaf tak bisa menemani kalian soalnya harus cek diperkebunan lainya nanti ada ujo dia siap membantu kalian, ok aku tinggal dulu ya" dia pamit, awan dan asa kembali menyalami tian sebelum dia berlalu kemobilnya
Asa berjalan mengikuti awan, sepertinya awan sudah hafal akan tempat ini hingga dengan mudah awan menemukan tempat yang tian maksud. Sebuah gazebo kecil terpisah dari lainnya, letaknya lebih dekat dengan kebun strobery dan teh dengan pemandangan yang indah. Semuanya cukup untuk membayar rasa capek perjalanan panjang tadi
"terima kasih" ucap asa tulus sambil tak lepas menatap apa yang alam sajikan dihadapannya
"untuk?" awan bertanya seakan tak mengerti untuk apa asa berterima kasih
"untuk semuanya, untuk kencan tertunda kita"
ska, tgl dan bulannya Lupa

waktu bersama mika

Kami sampai disebuah taman didataran tinggi dikota kami. Aku, mika dan 12 orang team asuhan mika mengadakan piknik merayakan kemenangan sekaligus belajar untuk lebih solid lagi. Kami bukan hanya akan piknik kami juga akan akan outbound, pembentukan karakter untuk menjadi sebuah team yang solid
"Kalau kaya gini mirip ibu2 yang nganter 11anak laki2 bermain" keluhku karena kenyataan tak sesuai dengan apa yang diucapkan mika, beberapa hari sebelumnya mika memintaku menemaninya menemani team basket yang ia latih, awalnya aku pikir dua team yang akan ikut, team laki2 dan perempuan namun ternyata hanya team laki2 yang pergi dengan alasan hanya team laki2 yang menjuaraipertandingan antar sekolah minggu lalu
"Bukan 11ank laki2 tapi 10ank laki2 dan satu anak perempuan" timpalnya sambil mempercepat langkahnya, mungkin untuk mengurangi beban dari apa yang dia bawa
"Mana iput?" Aq berusaha menyamai langkahnya, walau sedikit susah dengan sekotak buah ditanganku. Aku mencari iput diantara rombongan anak laki2 yang berada didepan kami. Iput manager team basket yang selalu ada dimanapun team berkumpul, ia akan jadi paling cantik disetiap saatnya jika mika tidak memaksaku menemaninya.
Kami sampai disebuah gazebo yang dapat kenampung 10orang, mereka sudah siap dengan kotak nasi masing2. Aku tersenyum, aku teringat ketika aku dan mika pergi piknik dengan kedua ponakan kembarny yang masih berumur 5tahun sungguh merepotkan tapi sangat menyenangkan
"Mba udah pernah kerumah mas mika? Ketemu orang tuanya?" Gana yang duduk disebrangku tiba2 bertanya seperti itu
"Iya, udah ketemu ibunya mas mika juga" kataku sambil tersenyum menanggapi pertanyaan gana yang aneh
"Mas mika juga?" Kini gana menoleh kearah mika, mika mengangguk, mengiyakan pertanyaan gan
"Tinggak nunggu undangan nih" celetuk bagus yang terkenal iseng mulai menggoda aku dan mika disemua kesempatan. Semuanya tertawa, aku juga tersenyum hanya mika tak bereaksi tak seperti biasanya. Dia berdiri dan berkata
"Setengah jam lagi harus siap dan saatnya kita bersenang-senang" katanya dengan gaya khas jika itu sesuatu yang menyenangkan. Dia beranjak.akan pergi, akj penasqran ia hendak kemana
"Mau kemana?" Tanyaku
"Ketemu instruktur outbound, kamj disini awasi anak2 kita" candanya kembali, selalu bilang anak kita bila kami jadi yang tertua dari semua yang ada. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya dan menatap kepergiannya.
Semua telah bersiap untuk mulai bersenang-senang, mika dan seluruh team instruktur telah bersiap dilapangan yanv dikelilingi pohon pinus, hanya iput yang dari tadi asik dengan ponselnya
"Kamu gak ikutan?" Tanyaku begitu melihat iput hanya duduk tak mengikuti teman2nya kelapangan, ia menggelangkan kepalanya menandakan tidak. Aku melirik kotak nasi yanh tadi dibagikan masih belum tersentuh begitu dengan kotak makan berisi buah yang selalu dibawanya, belum ada setengah yang dia makan
"Kamu knapa? Patah hati?" Tanyaku mencari tahu ada apa gerangan dengan iput hari ini
"Gak pa2 kok mba lagi autis aja sama games baru" jawabnya, seperti menyangkal sebuah keadaan yang tak ingin orang lain ketahui
"Ya udah kalau gitu makan dlu" aku menyodorkan kotak nasi kepadanya
"Aku fruitarian mba" ia kembali beralasan agar tak memakan nasi kotak miliknya
"Aku juga fruitarian tapi aku juga makan yg lain karena aku tahun tubuh kita butuh sesuatu yang lain yang tak ada didqlam buah" jelasku "sekarang ayo makan" lanjutku. Iput menerima nasi kotak yang kusodorkan dan mulai memakannya
"Mba udah kenal mas mika lama?" Iput membuka pembicaraan, beberapa saat setelah menghabiskan nasi kotak miliknya dan mulai bergabung denganku, duduk direrumputan diawah pohon pinus didataran yang lebih tinggi dari tempat mika dan 11 anak buahnya
"Baru beberapa tahun sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Kamu kenal dia kapan?"
"Setahun lebihlah" jawab iput "ada yg berubah dari mas mika dari pertama mba kenal sampai sekarang?" Ada yang menarik dari mika dimata iput
"Tak ada yang berubah dari dia, dari pertama kenal hingga saat ini ya kecuali fisiknya" jelasku "kamu suka sama mas mika?" Godaku, siapa yang tak suka dengan orang sebaik dia
"Nanti mba dian marah? Cuma lagi suka cwo dan sikapnya mirip mas mika" kata iput seakan menerawang ke arah mereka yang tengah asik dengan permaianan
"Mungkin sebagian sama tapi ada yang beda, mas mika itu terkadang ceroboh"
"Ceroboh? Sepertinya nggak deh" iput mencoba menyangkal apa yang aku ucapkan
"Iya, sepertinya dia akan yang selalu terlibat masalah jika qta sedang bermain2 seperti ini, dlh pertama kali kami pergi keacara api unggun dia dia yg tak sengaja meminum minyak tanah, sekarang entah apa yang akan terjadi" aku menganalisa karena dia selalu yang terkena musibah.
Tak lama apa yang aku kira terjadi, mika berlari menjauh dari kerumunan, dia diikuti salah satu instruktruk dan afmi berlari membawa segelas air mineral lalu diberikan ke mika. Mika mulai mencuci matanya setelah instruktur matanya berusaha agar sesuatu yang masuk kematanya keluar. Afmi menghampiriku meminta sebuah tisu, aku menyodorkan sekotak tisu dan ia mengambil satu dan mulai berlari menghampiri mika. Aku mengukuti afmi menghampiri mika dan memperhatikan apa yang afmi lakukan, ia berusaha mengambil sesuatu dari mata mika menggunakan tisu
"Udah ah mba dian aja yang cewe" afmi menyerah, ia menyerahkan tisu yang dia pegang kepadaku. Aku menggandeng mika agar ketepi lapangan dan melihat apa yang masuk dimata mika. Kudapati sesuatu disudut matanya sepertinya bedak yang digunakan dalam permainan
"Tahan sebentar" aku mulai memcoba mengambil kotoran itu. Ia diam menuruti apa yang aku ucapkan
"Masih ada ini" ia protes, merasa masih ada yang mengganjal dimatanya
"Sabar ini tisunya terlalu besar" kataku sambil membuat tisu agar lebih meruncing. Perlahan dan kotoran itu berhasil keluar dari matanya, ia bernafas lega
"Terima kasih, kau selalu jadi penolongku dan selalu ada saat aku butuhkan" katanya sambil menangkup kedua pipiku dan menatapku lekat. Matanya kini kembali ceria tak seperti tadi walau kini sedikit merah
"Cieee, ehem, romantisnya.." anak2 mulai meledek kami, mungkin pemandangan seperti ini jarang mereka lihat atau jarang kami pertunjukan
"Udah diem" kata mika kesal, dia malu sama sepertiku
"Udah cuci matamu dlu lalu pakai tetes mata dikotak obat yang ditasku" aku meyodorkan air kemasan dalam gelas yang belum dibuka ke mika
"Makasih banget, kalau gak ada mereka udah tak peluk kamu" dia tersenyum, candanya yang terkadang berlebihan kembali keluar. Mika mencuci matanya dan pergi ke gazebo dan mengambil tetes mata lalu menghampiriku lagi memintaku membantunya meneteskan obat tetes mata ke matanya
"Mba dian sama mas mika bikin iri aja" iput memasang wajah iri dengan kedekatanku dengan mika
"Kamu juga, tanpa sadar kau dan bagus juga bikin yang lain iri" kataku tak mau kalah
"Yang mana?" Sepertinya iput benar-benar tak tahu dengan apa yang dilakukan dia denga bagus tempo hari
"Saat bagus membetulkan letak topimu, sepele tapi itu sebuah perhatian kecil yang terlihat sangat tulus"
"Mba benar, bagus terkadang terlalu perhatian dengan hal kecil padaku tapi kadang iput pengen lihat bagus staycool depan yang lain"
"Sekarah ketahuan siapa yg kamu suka, orang seperti mereka tak bisa staycool, contohnya mas mika waktu jemput mba dia bilang mau pasang image cool seharian ini tapi nyatanya gak bisa, mungkin klo dia menuruti apa yg diucapkan tadi pagi mungkin kejadian barusan gak bakal terjadi" kataku panjang lebar
"Dan foto romantis ini gak bakalan ada" kata iput sambil menunjukan beberapa fotoku bersama mika, mulai saat aku mencoba membersihkan mata mika hingga saat mika menangkupkan kedua tangannya dipipiku.

Ska, 19 juni 2014
Jangan berubah aku suka kau yang seperti itu

rindu dia

Kami telah berkumpul ditempat yang telah kami janjikan sebelumnya, aku berdiri was-was menanti kabar dari seseorang yang belum juga datang
"Dimana dia? Jadi ikut tidak?" Salah seorang dari kami bertanya padaku dengan kesal
"Sabar dia baru telat 15menit, tidak sepertimu, kami harus menunggumu lebih dari dua jam" aku menjawab dengan kesal, sekalian saja kulontarkan semua yang selama ini aku sembunyikan dari orang itu. Dia diam, menyadari kesalahannya beberapa waktu yang lalu. Ponselku berbunyi, aku tersenyum lega, akhirnya dia menghubungiku setelah beberapa pesan yang aku tinggalkan dan panggilan dariku yang dia abaikan
"Kamu dimana?" Tanyaku begitu mendengar suaranya
"Maaf aku tak bisa ikut" dia meminta maaf namun aku sudah terlanjur kesal
"Kenapa? Kamu udah janji denganku untuk pergi bersama aku dandan teman2ku hari ini" aku tumpahkan semua kesalku, dia diam tak mejawab "ok kalo kamu kaya gitu, mending bubaran aja wes" kesalku sudah memuncak, aku mematikan telfonnya darinya dan bersiap untuk berangkat
"Ok qta berangkat sekarang, temanku tak jadi ikut" kataku dengan nada yang masih kesal

Kami sampai disebuah pantai yang landai dengan pasir putih yang lembut. Kulihat semua temanku bergembira dan aku tersenyum yah semua kesalku hilang melihat pemandangan yang menakjubkan yang disuguhkan gratis oleh alam dohadapanku. qku duduk di tepi pantai, tepat dimana ombak pecah dan kembali membawa pasir2 yang halus. Ini bukan pertama kalinya aku kesini, ini sudah toga atau empat kalinya aku kesini.
"Sudah tak usah sedih masih banyak yang lain" seseorang tiba2 duduk disampingku dan mencoba menenangkanku. Aku tak peduli siapa yang dulu disampingku, aku terus saja menatap cakrawala yang memisahkan antara yang terlihat dan yang tidak terlihat
"Kau salah mengira, bukan seperti itu" jelasku dengan kalimat yang masih ambigu
"Lalu" dia bingung, dia benar2 tak mengerti aku
"Seharusnya aku disini menikmati laut, meantari dan bau khas pantai dengan dia yang lain bukan dengan yang aku marahi tadi juga bukan dirimu" jelasku
"Diam2 kau playgirl juga ya?" Dia menyimpulkan dengan seenaknya
"Boleh pinjam pundakmu?" Aku bertanya tanpa melihat wajahnya
"Silahkan" katanya memperbolehkan, aku langsung menyandarkan kepalaku dipundaknya, sebenarnya bukan pundak seperti ini yang aku rindukan saat ini. Aku merindukan menyadarkan kepalaku dipundaknya, aku rindu tawanya yang selalu ceria, aku rindu ucapannya yang terkadang tak terduga, aku rindu semua yang menyangkut dirinya saat ini
"Maaf untuk yang tadi aku hanya kesal temanku membatalkan janji begitu saja padahal yang lain sudah berbaik hati untuk menunggu" aku meminta maaf atas kekesalanku yang kutimpakan pada dia yang kini duduk disampingku
"Tak apa" jawabnya singkat, kami berdua terdian menikmati suasan keceriaan yang terjadi di pantai saat itu. Tiba2 saja dia menjentikan jarinya beberapa orang dari kami menghampiriku dan dia, dengan sigap dia dibantu yang lain membopongku dan meleparku kelaut. Kejutan yang tak terduga, seperti beberapa waktu yang lalu dipantai ini ketika aku datang bersama dia yaang kurindukan bukan dia yang menghubungiku sebelumnya juga bukan dia yang menceburkanku kali ini.

senyum arya

Kami berkumpul, ya aku dan teman2ku suka sekali berkumpul entah itu untuk pergi ke suatu tempat atau hanya untuk sekedar mengobrol dan saling tukar pikiran. Kali ini kami berkumpul untuk merayakan sesuatu yang patut dirayakan, ada semuanya dari perkumpulan kami, dari yang baru bergabung hingga yang bisa dibilang terlalu senior. Ada satu orang yang baru sekali aku lihat mungkin beberapa kali ikut berkumpul bersama kami, seseorang membawanya kemari, sebut saja dia arya, cwo yang tak terlalu tinggi namu lebih tinggi dari diriku, badannya tak gendut juga tak kurus, kaca mata berframe hitam tebal selalu bertengger dihidung mancungnya, senyumnya menawan sampai aku sempat terpesona olehnya, dia dibawa oleh jali atau mungkin lebih tepatnya diseret oleh jali masuk keperkumpulan kami.
Hari itu, prisa datang terlambat. Dia datang terburu dengan sekotak makanan ditangannya, sudah menjadi kebiasaannya saat bertemu dengan kami. Kali ini ia datang jalan kaki, ia tak ditemani matic putih kesayangannya
"Kok jalan kaki sa?" Tanyaku ke prisa, aku melihatnya mengatur nafasnya
"Tadi aku lihat jalan depan kantor macet jadi jalan deh untung aja deket" jawabnya begitu nafasnya mulai teratur, prisa menyerahkan kotak yang dibawanya kesalah satu dari kami dan disabut suka cita oleh yang lain
"Mas arya kok kesini lagi" tanya afmi yang melihat arya kembali setelah beberapa saat yang lalu pamit pergi. Prisa yang mendengar nama arya disebut langsung membalikkan badan dan salah tingkah, semua yang ada paham apa yang terjadi. Prisa yang selalu mengungkapkan apa yang dia rasakan itu terpesona dengan senyum arya yang menawan. Wajahnya merah padam dan mulai mencubit siapa saja yang mencoba menggodanya termasuk afmi yang mencoba memberi tahu arya kalau prisa tertarik padanya
"Mau kasih tahu sama semuanya kalau ditunggu jali dtempat makan biasa" kata arya sambil tersenyum melihat apa yang terjadi, mungkin arya paham dengan situasi yang terjadi dan prisa semakin salah tingkah, ia sudah jatuh hati pada senyuman arya saat pertama melihat arya tersenyum dibalik kemudi saat kami berlibur bersama.
Semua bersiap dengan kendaraan masing2 termasuk arya dengan motor pinjaman
"Mas arya, mba prisa minta diboncengin nih" celetuk afmi yang tak kapok dengan cubitan prisa masih tetap menggoda prisa, prisa yang sudah terlanjur malu mendekati aman
"Aman, anterin aku balik kekantor ya?" Pinta prisa
"Ini baru mau berangkat kenapa harus balik kekantor?" Aku yang didekat prisa mencoba meyakinkan untuk ikut
"Ini sabtu lho?" Uni juga menambahkan dengan menyebutkan hari itu hari libur, karena hampir semua dari kami memiliki waktu 5 hari kerja termasuk prisa
"Ada pelatihan dikantor dan aku penanggung jawab pelatihan" prisa beralasan agar semua paham akan kondisinya sekarang
"Kalau gitu kenapa kesini?" Aman yang bingung kenapa prisa cabut dari tangung jawabnya
"Aku hanya gak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu kalian minggu ini dan setengah jam lagi pelatihan dimulai jadi antar aku sekarang" kata prisa yang sudah siap dibocengan motor aman
"Kamu sama siapa?" Arya yang ada didekatku bertanya dengan siapa aku akan pergi ketujuan
"Aku dengan siapa aja yang masih kosong" jawabku karena aku seorang nebenger jadi harus siap siapa saja yang akan menjadi sopir relawan untukku
"Sama aku saja, aku kosong kok" aku kaget mendengar jawaban arya yang menawarkan boncengan kepadaku. Aku tak tahu harus senang atau tidak, aku senang ya karena ada yang sukarela menjadi supirku hari itu, aku tidak senang karena aku merebut kesempatan prisa untuk lebih dekat dengan arya
Kami melaju, prisa dan aman berada didepan sedang aku dan arya dibelakang mereka, lalu lintas yang padat membuat siapapun yang jeli bisa mendahului yang lain begitupun aku dan arya begitu melihat kesempatan arya mempercepat gas motornya dan mendahului prisa dan aman. Prisa kaget melihatku dibonceng arya sedang aman tersenyum melihat ekspresi prisa dari kaca spion. Aku yang duduk menyamping karena aku menggunakan rok panjanh dengan leluasa menghadap keprisa dan tersenyum kearah prisa. Akumemberikan kode agar aku dan dia bertukar tempat agar dia bisa dibonceng arya namun ia menolak tanggung jawabnya memaksanya merelakan kesempatan emas untuk dibonceng orang yang membuatnya terpesona meski ia sudah punya kekasih.
Kami sampai dirumah makan langganan kami saat kami berkumpul untuk makan. Aku berdiri disamping arya, menunggu yang lain
"Kalian berdua kaya pasangan aja" celetuk afmi yang tak kupahami siapa kalian disini "bajunya sampai couple gitu" aku mencari tahu siapa yang memakai baju yang mirip hari itu. Aku dandan arya tertawa menyadari apa yang diucapkan afmi, kemeja arya senada dengan long dress yang aku pakai hari itu
"Jangan bilang gitu nanti ada yang kecewa berat tadi aja pas lihat udah kaya mau pingsan kok" ujarku yang disambut tawa oleh yang lain yang paham dengan apa yang aku ucapkam

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...