Kami sampai disebuah taman didataran tinggi dikota kami. Aku, mika dan
12 orang team asuhan mika mengadakan piknik merayakan kemenangan
sekaligus belajar untuk lebih solid lagi. Kami bukan hanya akan piknik
kami juga akan akan outbound, pembentukan karakter untuk menjadi sebuah
team yang solid
"Kalau kaya gini mirip ibu2 yang nganter 11anak laki2 bermain"
keluhku karena kenyataan tak sesuai dengan apa yang diucapkan mika,
beberapa hari sebelumnya mika memintaku menemaninya menemani team basket
yang ia latih, awalnya aku pikir dua team yang akan ikut, team laki2
dan perempuan namun ternyata hanya team laki2 yang pergi dengan alasan
hanya team laki2 yang menjuaraipertandingan antar sekolah minggu lalu
"Bukan 11ank laki2 tapi 10ank laki2 dan satu anak perempuan"
timpalnya sambil mempercepat langkahnya, mungkin untuk mengurangi beban
dari apa yang dia bawa
"Mana iput?" Aq berusaha menyamai langkahnya, walau sedikit susah
dengan sekotak buah ditanganku. Aku mencari iput diantara rombongan anak
laki2 yang berada didepan kami. Iput manager team basket yang selalu
ada dimanapun team berkumpul, ia akan jadi paling cantik disetiap
saatnya jika mika tidak memaksaku menemaninya.
Kami sampai disebuah gazebo yang dapat kenampung 10orang, mereka
sudah siap dengan kotak nasi masing2. Aku tersenyum, aku teringat ketika
aku dan mika pergi piknik dengan kedua ponakan kembarny yang masih
berumur 5tahun sungguh merepotkan tapi sangat menyenangkan
"Mba udah pernah kerumah mas mika? Ketemu orang tuanya?" Gana yang duduk disebrangku tiba2 bertanya seperti itu
"Iya, udah ketemu ibunya mas mika juga" kataku sambil tersenyum menanggapi pertanyaan gana yang aneh
"Mas mika juga?" Kini gana menoleh kearah mika, mika mengangguk, mengiyakan pertanyaan gan
"Tinggak nunggu undangan nih" celetuk bagus yang terkenal iseng
mulai menggoda aku dan mika disemua kesempatan. Semuanya tertawa, aku
juga tersenyum hanya mika tak bereaksi tak seperti biasanya. Dia berdiri
dan berkata
"Setengah jam lagi harus siap dan saatnya kita bersenang-senang"
katanya dengan gaya khas jika itu sesuatu yang menyenangkan. Dia
beranjak.akan pergi, akj penasqran ia hendak kemana
"Mau kemana?" Tanyaku
"Ketemu instruktur outbound, kamj disini awasi anak2 kita" candanya
kembali, selalu bilang anak kita bila kami jadi yang tertua dari semua
yang ada. Aku mengangguk mengiyakan perkataannya dan menatap
kepergiannya.
Semua telah bersiap untuk mulai bersenang-senang, mika dan seluruh
team instruktur telah bersiap dilapangan yanv dikelilingi pohon pinus,
hanya iput yang dari tadi asik dengan ponselnya
"Kamu gak ikutan?" Tanyaku begitu melihat iput hanya duduk tak
mengikuti teman2nya kelapangan, ia menggelangkan kepalanya menandakan
tidak. Aku melirik kotak nasi yanh tadi dibagikan masih belum tersentuh
begitu dengan kotak makan berisi buah yang selalu dibawanya, belum ada
setengah yang dia makan
"Kamu knapa? Patah hati?" Tanyaku mencari tahu ada apa gerangan dengan iput hari ini
"Gak pa2 kok mba lagi autis aja sama games baru" jawabnya, seperti menyangkal sebuah keadaan yang tak ingin orang lain ketahui
"Ya udah kalau gitu makan dlu" aku menyodorkan kotak nasi kepadanya
"Aku fruitarian mba" ia kembali beralasan agar tak memakan nasi kotak miliknya
"Aku juga fruitarian tapi aku juga makan yg lain karena aku tahun
tubuh kita butuh sesuatu yang lain yang tak ada didqlam buah" jelasku
"sekarang ayo makan" lanjutku. Iput menerima nasi kotak yang kusodorkan
dan mulai memakannya
"Mba udah kenal mas mika lama?" Iput membuka pembicaraan, beberapa
saat setelah menghabiskan nasi kotak miliknya dan mulai bergabung
denganku, duduk direrumputan diawah pohon pinus didataran yang lebih
tinggi dari tempat mika dan 11 anak buahnya
"Baru beberapa tahun sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Kamu kenal dia kapan?"
"Setahun lebihlah" jawab iput "ada yg berubah dari mas mika dari
pertama mba kenal sampai sekarang?" Ada yang menarik dari mika dimata
iput
"Tak ada yang berubah dari dia, dari pertama kenal hingga saat ini
ya kecuali fisiknya" jelasku "kamu suka sama mas mika?" Godaku, siapa
yang tak suka dengan orang sebaik dia
"Nanti mba dian marah? Cuma lagi suka cwo dan sikapnya mirip mas
mika" kata iput seakan menerawang ke arah mereka yang tengah asik dengan
permaianan
"Mungkin sebagian sama tapi ada yang beda, mas mika itu terkadang ceroboh"
"Ceroboh? Sepertinya nggak deh" iput mencoba menyangkal apa yang aku ucapkan
"Iya, sepertinya dia akan yang selalu terlibat masalah jika qta
sedang bermain2 seperti ini, dlh pertama kali kami pergi keacara api
unggun dia dia yg tak sengaja meminum minyak tanah, sekarang entah apa
yang akan terjadi" aku menganalisa karena dia selalu yang terkena
musibah.
Tak lama apa yang aku kira terjadi, mika berlari menjauh dari
kerumunan, dia diikuti salah satu instruktruk dan afmi berlari membawa
segelas air mineral lalu diberikan ke mika. Mika mulai mencuci matanya
setelah instruktur matanya berusaha agar sesuatu yang masuk kematanya
keluar. Afmi menghampiriku meminta sebuah tisu, aku menyodorkan sekotak
tisu dan ia mengambil satu dan mulai berlari menghampiri mika. Aku
mengukuti afmi menghampiri mika dan memperhatikan apa yang afmi lakukan,
ia berusaha mengambil sesuatu dari mata mika menggunakan tisu
"Udah ah mba dian aja yang cewe" afmi menyerah, ia menyerahkan tisu
yang dia pegang kepadaku. Aku menggandeng mika agar ketepi lapangan dan
melihat apa yang masuk dimata mika. Kudapati sesuatu disudut matanya
sepertinya bedak yang digunakan dalam permainan
"Tahan sebentar" aku mulai memcoba mengambil kotoran itu. Ia diam menuruti apa yang aku ucapkan
"Masih ada ini" ia protes, merasa masih ada yang mengganjal dimatanya
"Sabar ini tisunya terlalu besar" kataku sambil membuat tisu agar
lebih meruncing. Perlahan dan kotoran itu berhasil keluar dari matanya,
ia bernafas lega
"Terima kasih, kau selalu jadi penolongku dan selalu ada saat aku
butuhkan" katanya sambil menangkup kedua pipiku dan menatapku lekat.
Matanya kini kembali ceria tak seperti tadi walau kini sedikit merah
"Cieee, ehem, romantisnya.." anak2 mulai meledek kami, mungkin
pemandangan seperti ini jarang mereka lihat atau jarang kami pertunjukan
"Udah diem" kata mika kesal, dia malu sama sepertiku
"Udah cuci matamu dlu lalu pakai tetes mata dikotak obat yang
ditasku" aku meyodorkan air kemasan dalam gelas yang belum dibuka ke
mika
"Makasih banget, kalau gak ada mereka udah tak peluk kamu" dia
tersenyum, candanya yang terkadang berlebihan kembali keluar. Mika
mencuci matanya dan pergi ke gazebo dan mengambil tetes mata lalu
menghampiriku lagi memintaku membantunya meneteskan obat tetes mata ke
matanya
"Mba dian sama mas mika bikin iri aja" iput memasang wajah iri dengan kedekatanku dengan mika
"Kamu juga, tanpa sadar kau dan bagus juga bikin yang lain iri" kataku tak mau kalah
"Yang mana?" Sepertinya iput benar-benar tak tahu dengan apa yang dilakukan dia denga bagus tempo hari
"Saat bagus membetulkan letak topimu, sepele tapi itu sebuah perhatian kecil yang terlihat sangat tulus"
"Mba benar, bagus terkadang terlalu perhatian dengan hal kecil
padaku tapi kadang iput pengen lihat bagus staycool depan yang lain"
"Sekarah ketahuan siapa yg kamu suka, orang seperti mereka tak bisa
staycool, contohnya mas mika waktu jemput mba dia bilang mau pasang
image cool seharian ini tapi nyatanya gak bisa, mungkin klo dia menuruti
apa yg diucapkan tadi pagi mungkin kejadian barusan gak bakal terjadi"
kataku panjang lebar
"Dan foto romantis ini gak bakalan ada" kata iput sambil menunjukan
beberapa fotoku bersama mika, mulai saat aku mencoba membersihkan mata
mika hingga saat mika menangkupkan kedua tangannya dipipiku.
Ska, 19 juni 2014
Jangan berubah aku suka kau yang seperti itu