Senin, 28 Mei 2012

On the night like thiS

Malam tepat satu bulan setelah kejadian dipantai waktu itu. Bulan menampakan senyum tipisnya kepada bintang yang bersinar mengelilinginya, yang menemaninya menghabiskan malam. Aku duduk disebuah bangku taman kota, malam ini taman sangat ramai tak seperti biasanya banyak orang menghabiskan waktu sabtu malamnya disini terutama anak baru gede yang datang berbondong dengan teman-temannya untuk sekedar duduk mengobrol atau tebar pesona. Pemandangan taman sabtu malam ini sedikit asing bagiku karena aku dan dia tak suka tempar seramai ini bukan berarti aku dan dia selalu berada ditempat yang sepi tapi aku dan dia lebih suka menikmati suasana yang tenang dan tak terlalu ramai. Sebenarnya aku dan dia jarang seali pergi ketaman saat sabtu malam kami lebih senang menghabiskan waktu dengan keluargaku atau keluarganya walau hanya sekedar menonton film yang disewa dari rental film dekat rumahku.
15menit aku duduk dibangku taman. Aku menanti dia yang perg sejenak untuk membeli sesuatu entah apa namun kuharap itu sekotak rum raisin chocolate ice cream. 5 menit berlalu dia membawa sekantong belanjaan dan membongkarnya dihadapanku dan ternyata benar sekotak rum raisin chocolate ice cream. Aku meraih ice cream yang dia sodorkan padaku dan mulai menyendokan ice cream itu kemulutku.
“tumben mengajaku kesini atau tak punya list film yang bisa ditonton?”tanyaku membuka pembicaraan. Dia diam lalu mencoba menghabiskan ice cream coklat yang ada dimulutnya dengan cepat.
“tak apa Cuma ingin mencari suasanan yang beda dan aku nggak mau kalah dengan mereka” dia menunjuk seseorang dengan dagunya. Aku mengikuti arah yang dia tunjuk tepat beberapa meter didepanku sepasang kekasih  mungkin masih siswa sekolah menengah atas sedang memadu kasih . aku tersenyum terbayang beberapa tahun lalu disaat aku masih menjadi murid sekolah menengah atas. Aku tak seperti mereka. Aku lebih senang menghabiskan sabtu malamku dirumah nonton tv dengan ayah dan ibu atau mengganggu adikku hingga ia menangis.
“ternyata kau rindu mas lalumu?” godaku dan menggol pinggangnya dengan sikuku.
“aduh” dia mengaduh dan menatapku galak dan aku langsung memalingkan wajahku. Kupusatkan perhatian kekotak ice cream yang isinya hampir habis. Aku tak suka melihatnya ketika dia menatapku dengan tatapan itu kesanhangatyang biasa ada diraut wajahnya hilang seketika.
“hahhahaaa....”dia tertawa senang melihatku ketakutan. Aku manyun. Taman sudah tak terlalu ramai seperti waktu aku datang. Suara anak kecil yang berlarian riang kini sudah tak ada lagi hanya senda gurau dari abg yang masih bertahan ditaman.
“kapan berangkat?” dia bertanya seperti itu lagi
“masih beberapa minggu lagi” jawabku. Aku menunda keberangkatanku karena jadwal dijurusanku ditunda beberapa minggu.
“kau tahukan aku akan pergi lusa?” tanyanya tak yakin
“aku tahu semua hal kau ceritakan padaku entah itu penting atu tidak “ candaku yang cukup garing. Kami terdiam.
“bulannya indah namun seperti orang yang sedang sedih tersenyum.”kataku mencoba memecah suasana yang mulai bisu
“iya seperti senyum wanita tak biasa yang sedang tersenyum saat ini” katanya sambil menatapku dan tersenyum. Aku memandangnya curiga.
“siapa dia?”aku curiga
“aduh kenapa keluar lemotnya sih”dia gemes dengan reaksiku. Aku beranjak dari tempat aku duduk dan menghapiri sebuah tong sampah yang terletak lumayan jauh daari tempatku duduk
“jadi ini malam terakhir kita ketemu dikota ini?”tanyaku lagi kembali kepokok pembicaraan.
“sepertinya iya, besok tak mungkin ayah ibu dan cewe rese itu telah membooked untuk menemani mereka seharian”katanya dengan nada sedikit kecewa
“jujur banyak hal yang ingin aku katakan padamu  banyak yang ingin ku tunjukan padam. Aku berhenti. Kutarik nafas dan menghembuskannya perlahan”karena ketika berada disekitarku aku mersa aman nyaman dan aku merasa jatuh cinta setiap harinya namun seribu alasan tak bisa untuk menahanmu untuk menemaniku” aku berhenti berkata, entah apa lagi yang harus kuucapkan
“bukan hanya kau yang merasa seperti akupun begitu. Aku merasa mentari bersinar jauh lebih indah ketika aku mendengar suaramu ditelepon” dia tersenyum dan menatapku. Inilah yang akan aku rindukan saat dia tak ada. Saat dia menatapku dengan tatapannya yang menenangkan “dan aku janji ini tak akan lama hanya beberapa bulan lagi entah kau yang datang menemui aku atau aku yang datang menemuimu dan kau masih bisa melihat bisa sekarang teknologi sudah canggih kita bisa manfaatkan itu.” Katannya yakin dan masih menatapku. Dia merih tanganku dan digandengnya disepanjang perjalanan pulang

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...