Malam
tepat satu bulan setelah kejadian dipantai waktu itu. Bulan menampakan senyum
tipisnya kepada bintang yang bersinar mengelilinginya, yang menemaninya
menghabiskan malam. Aku duduk disebuah bangku taman kota, malam ini taman
sangat ramai tak seperti biasanya banyak orang menghabiskan waktu sabtu
malamnya disini terutama anak baru gede yang datang berbondong dengan
teman-temannya untuk sekedar duduk mengobrol atau tebar pesona. Pemandangan
taman sabtu malam ini sedikit asing bagiku karena aku dan dia tak suka tempar
seramai ini bukan berarti aku dan dia selalu berada ditempat yang sepi tapi aku
dan dia lebih suka menikmati suasana yang tenang dan tak terlalu ramai.
Sebenarnya aku dan dia jarang seali pergi ketaman saat sabtu malam kami lebih
senang menghabiskan waktu dengan keluargaku atau keluarganya walau hanya
sekedar menonton film yang disewa dari rental film dekat rumahku.
15menit
aku duduk dibangku taman. Aku menanti dia yang perg sejenak untuk membeli
sesuatu entah apa namun kuharap itu sekotak rum raisin chocolate ice cream. 5
menit berlalu dia membawa sekantong belanjaan dan membongkarnya dihadapanku dan
ternyata benar sekotak rum raisin chocolate ice cream. Aku meraih ice cream
yang dia sodorkan padaku dan mulai menyendokan ice cream itu kemulutku.
“tumben
mengajaku kesini atau tak punya list film yang bisa ditonton?”tanyaku membuka
pembicaraan. Dia diam lalu mencoba menghabiskan ice cream coklat yang ada
dimulutnya dengan cepat.
“tak
apa Cuma ingin mencari suasanan yang beda dan aku nggak mau kalah dengan
mereka” dia menunjuk seseorang dengan dagunya. Aku mengikuti arah yang dia
tunjuk tepat beberapa meter didepanku sepasang kekasih mungkin masih siswa sekolah menengah atas
sedang memadu kasih . aku tersenyum terbayang beberapa tahun lalu disaat aku
masih menjadi murid sekolah menengah atas. Aku tak seperti mereka. Aku lebih
senang menghabiskan sabtu malamku dirumah nonton tv dengan ayah dan ibu atau
mengganggu adikku hingga ia menangis.
“ternyata
kau rindu mas lalumu?” godaku dan menggol pinggangnya dengan sikuku.
“aduh”
dia mengaduh dan menatapku galak dan aku langsung memalingkan wajahku. Kupusatkan
perhatian kekotak ice cream yang isinya hampir habis. Aku tak suka melihatnya
ketika dia menatapku dengan tatapan itu kesanhangatyang biasa ada diraut
wajahnya hilang seketika.
“hahhahaaa....”dia
tertawa senang melihatku ketakutan. Aku manyun. Taman sudah tak terlalu ramai
seperti waktu aku datang. Suara anak kecil yang berlarian riang kini sudah tak
ada lagi hanya senda gurau dari abg yang masih bertahan ditaman.
“kapan
berangkat?” dia bertanya seperti itu lagi
“masih
beberapa minggu lagi” jawabku. Aku menunda keberangkatanku karena jadwal
dijurusanku ditunda beberapa minggu.
“kau
tahukan aku akan pergi lusa?” tanyanya tak yakin
“aku
tahu semua hal kau ceritakan padaku entah itu penting atu tidak “ candaku yang
cukup garing. Kami terdiam.
“bulannya
indah namun seperti orang yang sedang sedih tersenyum.”kataku mencoba memecah
suasana yang mulai bisu
“iya
seperti senyum wanita tak biasa yang sedang tersenyum saat ini” katanya sambil
menatapku dan tersenyum. Aku memandangnya curiga.
“siapa
dia?”aku curiga
“aduh
kenapa keluar lemotnya sih”dia gemes dengan reaksiku. Aku beranjak dari tempat
aku duduk dan menghapiri sebuah tong sampah yang terletak lumayan jauh daari
tempatku duduk
“jadi
ini malam terakhir kita ketemu dikota ini?”tanyaku lagi kembali kepokok
pembicaraan.
“sepertinya
iya, besok tak mungkin ayah ibu dan cewe rese itu telah membooked untuk
menemani mereka seharian”katanya dengan nada sedikit kecewa
“jujur
banyak hal yang ingin aku katakan padamu
banyak yang ingin ku tunjukan padam. Aku berhenti. Kutarik nafas dan
menghembuskannya perlahan”karena ketika berada disekitarku aku mersa aman
nyaman dan aku merasa jatuh cinta setiap harinya namun seribu alasan tak bisa
untuk menahanmu untuk menemaniku” aku berhenti berkata, entah apa lagi yang
harus kuucapkan
“bukan hanya kau yang merasa seperti akupun
begitu. Aku merasa mentari bersinar jauh lebih indah ketika aku mendengar
suaramu ditelepon” dia tersenyum dan menatapku. Inilah yang akan aku rindukan saat
dia tak ada. Saat dia menatapku dengan tatapannya yang menenangkan “dan aku
janji ini tak akan lama hanya beberapa bulan lagi entah kau yang datang menemui
aku atau aku yang datang menemuimu dan kau masih bisa melihat bisa sekarang
teknologi sudah canggih kita bisa manfaatkan itu.” Katannya yakin dan masih
menatapku. Dia merih tanganku dan digandengnya disepanjang perjalanan pulang