adzan subuh sayup-sayup terdengar memecah keheningan dini hari itu. aku masih terjaga entah karena apa malam itu aku tak bisa memejamkan mataku. aku tak berniat beranjak meninggalkan tempat tidurku untuk menyapa pagi yang masih benar-benar buta. aku tak tahu embun sudah turun atau belum saat itu karena aku tak pernah menginjak rumput basah semenjak berada dikota ini tak seperti dulu saat semasa SMA yang selalu kuijakkan rumput basah yang berada didepan kelasku. aku suka dengan hal itu bagiku ini membangkitkan segumpal memory yang tersimpan otakku entah dibagian mana.
aku suka bau rumput basah yang terinjak semuanya membangkitkan memory tentang tempat dimana kami menghabiskan waktu entah untuk bicara yang tak penting atau hanya sekedar duduk. aku rindu saat itu, saat dimana kami membuat orang didepan kami kesal dengan jawaban yang kami berikan atau karena kami yang selalu saja ribut saat mereka yang didepan tengah bicara.
aku ingat kelakuan iseng kami dibawah pohon dibelakang kelas sepuluh kami yang dulu. disitu kami membuat semua janji yang mungkin akan dilakukan sampai saat ini walau kami sudah tak bersama sesering dulu, tapi maafkan aku, aku sering melanggar hal itu aku sering diam-diam menangis.
kembali ku buka buku harianku waktu SMA. kubaca lembar demi lembar kisah kita yang kutulis disitu walaupun tak ada bau rumput basah yang terinjak menyertainya aku masih ingat dengan hal itu.
aku suka bau rumput basah yang terinjak semuanya membangkitkan memory tentang tempat dimana kami menghabiskan waktu entah untuk bicara yang tak penting atau hanya sekedar duduk. aku rindu saat itu, saat dimana kami membuat orang didepan kami kesal dengan jawaban yang kami berikan atau karena kami yang selalu saja ribut saat mereka yang didepan tengah bicara.
aku ingat kelakuan iseng kami dibawah pohon dibelakang kelas sepuluh kami yang dulu. disitu kami membuat semua janji yang mungkin akan dilakukan sampai saat ini walau kami sudah tak bersama sesering dulu, tapi maafkan aku, aku sering melanggar hal itu aku sering diam-diam menangis.
kembali ku buka buku harianku waktu SMA. kubaca lembar demi lembar kisah kita yang kutulis disitu walaupun tak ada bau rumput basah yang terinjak menyertainya aku masih ingat dengan hal itu.
