Jumat, 25 Maret 2011

tanpa judul

sekali lagi aku berfikir lebih baik hidup sendiri dari pada seperti ini. ya apapun aku harus kuat tanpa orang lain aku tak bisa nikmati dunia ini. jujur sekali saja kalian bisa menghargaiku ketika aku sedang bicara aku capek jadi pendengar aku capek harus selalu mengerti terus aku capek. sekali saja aku ingin didengar aku ingin dimengerti. aku bisa jadi boom waktu yang bisa kalian tebak kapan aku bisa ledakan semua amarahku. tapi mungkin hanya aku saja yang merasa itu tapi sudah semua akan terjawab nanti

Sabtu, 19 Maret 2011

sepotong episod

Dua isan asik duduk termangu di sebuah meja disalah satu restoran yang cukup romantic dikawasan itu. Keduanya masih berkutat dengan pikiran mereka masing-masing . akhirnya sang perempuan mulai angkat bicara
“bolehlah aku tahu salah satu alasanya?”
“seperti yang didambakan setiap manusia, cinta. Sebab cinta adalah sesuatu yang begitu indah, suci dan memesona. Cukuplah aku merasakannya lewat Nida dan Michael. Dalam imajinasi dalam khayalanku yang mungkin tak terwujud dalam hidupku”
“bagaimana bila terwujud apakah kau akan menolaknya?”
“cinta takan bermakna tanpa keberanian untuk perjuangan. Dan untuk memperjuangkan cinta harus diawali dengan kejujuran hati untuk mengaku pada diri sendiri. Tidak Dian! Sudah kukatakan, hidupku bukan hanya untuk mengakui bahwa aku memang mencintai, bahwa aku memang merindui, bahwa aku memang menyanyangi, mengasihi, dengan segenap ahti dan diri. Sudah kukatakan aku tak berani menyebut namanya, mendengarkan suaranya, menatap wajahnya, membisikan kata cinta agar ia tahu bahwa cinta ini lahir dari hati, sesuci embun pagi, seputih bidadari,cinta ini kubutuhkan untuk melengkapi hidup, menjadikanku manusia sesungguhnya, manusia yang tercipta karena madu cinta”
“katakana, siapa namanya?”
fatih diam, pandangannya tak tentu. Dan ….dalam sekali hembusan nafas kalimat itu meluncur “Engkau…. Engkau yang kucintai”
Sebuah gelombang dahsyat menghempaskan dian kedimensi lain.belum pernah ia merasakan ungkapan cinta yang seekspresif, setulus, sejujur dan seindah ini. Hawa dingin menyelimuti dinding hatinya merembes kepori-pori, menetes dari sudut matanya yang berkaca-kaca.

disadur daari novel derap-derap tasbih dengan sedikit perubahan

Kamis, 17 Maret 2011

Indahnya hidupku

Selama ini aku sering mengeluh kenapa hidup mereka lebih seru tapi setelah kudengar cerita mereka aku tersenyum aku benar-benar bersyukur dengan hidup dengan hidup yang telah digariskan untuk aku dapat teman yang bukan sekedar teman bukan hanya satu tapi banyak walau kadang mereka bikin aku bete tapi itu lah hidup kadang asam kadang manis mereka selalu mendukungku apapun yang kulakukan walaupun mereka tak setuju tapi aku terima karna mereka selalu memberi tahuku akibat dari semua yang kupilih selain itu aku dapat keluarga yang sangat, sangat, sangat mendukungku bukan hanya kedua orang tuaku tapi semuanya, semuanya yang masih dapat aku sebut mereka om-omku tante-tanteku sepupu-sepupuku simbah-simbahku dan kakakku yang paling kucinta yang sekarang masih sibuk dengan mainan barunya dhamar izyan probowo tante sangat iri dengan kau dhamar kau bruntung sekarang walau kau belum mengerti arti rindu mereka lebih banyak disampingmu tapi tante tahu kau lebih butuh dari pada tante.

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...