sore itu aku telah menyelesaikan semua urusanku dengan beberapa temanku. aku beranjak kesudut ruangan dimana aku meletakan tas dan helm kesayanganku dan beranjak keluar berharap masih ada bis kota yang bisa mengantarku hingga depan komplek perumahan. aku berdiri disebrang jalan dari gedung dimana aku menyelesaikan sebuah urusan, ditempat yang sama selama hampir 4tahun yang lalu aku menati bus kota sepulang sekolah. kulirik jam dipergelangan tangan kiriku. sudah pukul 5 lewat sepertinya sudah tak ada lagi bus kota yang bisa aku tumpangi. aku merogoh tasku dan meraih ponsel untuk menghubungi hama agar dia mau menjemputku, namun belum sempat aku menghubungi hama seseorang berhenti tepat dihadapanku
"ayo naik" katanya. aku bingung tak biasanya dia seperti ini jika ada yang lain "udah ayo naik" ia mulai tak sabar
"kenapa tak seperti kau yang biasanya?"
"kau naik terlebih dahulu nanti aku ceritakan" aku menuruti perkataannya dan ia mulai menjalankan sepeda motornya
"aku khawatir denganmu meski aku tahu kau perempuan mandiri" jelasnya dan aku hanya ber Oo ria dan bertanya padanya dengan heran
"bukannya tadi kau masih asik ngobrol dengan yang lain? aku pulng secepat mungkin karena aku tahu ayah yg tadi siang mengantarku tak bisa menjemputku dan hama juga dia ada bimbel dan itu pulang malam" ah kenapa aku cerewet seperti ini, menceritakan semua yang aku alami
"aku pernah bilang padamu rasanya ingin sesekali aku menghilang dari mereka? mungkin ini saat yang tepat lagi pula tadi waktu aku keluar ruangan dan aku melihatmu masih menunggu bus jadi lebih baik aku mengantarmu pulang"
"terima kasih mau mengantarku pulang, aku tak tau harus bagaimana jika tak ada kau"
"sama2 tapi itu bukan alasan yang pertama itu alsan yang ketiga" ucapnya santai, dia mulai lagi dengan kejutannya
"lalu yang pertama dan kedu?"
"yang pertama ayahmu dan hama sama2 mengirimku pesan agar aku menemanimu karena ayah, ibu dqn hama tak ada dirumah sampai nanti malam dan kedua aku ingin menghabiskan waktu bersamamu hingga jam malammu tiba" ungkapnya sepertinya bagi dia selalu menyenangkan membuat orang lain terkejut.
kami menyusuri jalanan yang masih lenggang, keadaan masih dini untuk dibilang malam semburat merah masih menghiasi langit diujung barat sana
"aku boleh memelukmu?" kataku malu2
"kamu kenapa sepertinya sedang sedih sekali? kamu itu pintar sekali menyembunyikan apa yang kau rasa didepan yang lain kadang aku sendiri tertipu olehmu" ungkqpnya. aku tak menunggu persetujuan darinya, aku peluk dia dan aku mulai menangis dibahunya. dia diam sepertinya dia mengerti jika aku perlu waktu untuk mencurahkan air mata
"aku merasa bersalah dengan Ina, dia selalu menceritakan semua rasa bahagianya juga sesihnya padku sedang aku menyembunyikan semuanya darinya" kataku disela isak tangisku
"tapi bukannya kau sudah menceritakan semua padanya?" ia mencoba mengingatkanku bahwa aku sudah menceritakan semua pada Ina
"tapi tetap saja masih ada yang cerita bahagia yang aku sembunyikan darinya karena aku menceritkan hanya sedihku saja" aku menyangkal apa yang dia katakan sedangkan dia hanya diam disisa perjalanan kami.
kami berhenti ditempat parkir sebuah kaffe yang sangat aku kenal, dia menuntunku kearah meja yang biasa kami tempati jika kami kecaffe ini setelah menyruhku duduk dia beranjak kearah minibar mengambil segelas air putih untukku, semua pelayan di kaffe ini sudah tak asing jika dia selalu seperti itu tiba2 masuk dapur tiba2 dimini bar menyeduh sesuatu yang dia suka bahkan danu dan bian juga tak keberatan jika dia seperti itu
"minum dlu dan berhenti menangis lalu ceritakan kenapa kau seperti ini" katanya tegas sambil meletakan segelas air putih dihadapanku. aku menenggak air putih hingga setengah habis dan mulai bercerita
"aku merasa bersalah sama ina.dia selalu membagi ceritanya padaku baik itu bahagia atau sedih sedang aku terlalu egois aku selalu menikmati semuanya sendiri tanpa membagi bahagiaku dengan dia" aku kembali akan menangis
"bukanya kau sudah menceritakan pada dia semua tentang kita?" dia mengulang pertanyaan yang dia tanyakn dijalan
"aku menceritakan sedihku saja, aku bercerita bagaimana kita dekat sampai saat kita bubar jalan untuk sementara waktu" aku berhenti berkata dan menatap secangkir sesuatu yang danu taruh dimeja kami, sepertinya sesuatu yang dapat memperbaiki moodku yang sesang kacau "rasanya ingin aku memeluknya dan meminta maaf padanya" lanjutku
"kalau begitu besok kau temui ina dan ceritakan semuanya, semua tentang kita bagaimana kita dekat bagaimana kita break dan bagaimana kita kembali" katanya setelah menyesap yang dia suka
"iya akan aku ceritakan kalau kita kembali lagi" aku kembali menyesap coklat panas yang dia pesankan untukku
ska, 23 november 2013
-untukmu, salah satu sahabat terbaikku, kau harus siap dengan kejutan selanjutnya-