Minggu, 15 Desember 2013

Pengakuan dosa

sore itu aku telah menyelesaikan semua urusanku dengan beberapa temanku. aku beranjak kesudut ruangan dimana aku meletakan tas dan helm kesayanganku dan beranjak keluar berharap masih ada bis kota yang bisa mengantarku hingga depan komplek perumahan. aku berdiri disebrang jalan dari gedung dimana aku menyelesaikan sebuah urusan, ditempat yang sama selama hampir 4tahun yang lalu aku menati bus kota sepulang sekolah. kulirik jam dipergelangan tangan kiriku. sudah pukul 5 lewat sepertinya sudah tak ada lagi bus kota yang bisa aku tumpangi. aku merogoh tasku dan meraih ponsel untuk menghubungi hama agar dia mau menjemputku, namun belum sempat aku menghubungi hama seseorang berhenti tepat dihadapanku
"ayo naik" katanya. aku bingung tak biasanya dia seperti ini jika ada yang lain "udah ayo naik" ia mulai tak sabar
"kenapa tak seperti kau yang biasanya?"
"kau naik terlebih dahulu nanti aku ceritakan" aku menuruti perkataannya dan ia mulai menjalankan sepeda motornya
"aku khawatir denganmu meski aku tahu kau perempuan mandiri" jelasnya dan aku hanya ber Oo ria dan bertanya padanya dengan heran
"bukannya tadi kau masih asik ngobrol dengan yang lain? aku pulng secepat mungkin karena aku tahu ayah yg tadi siang mengantarku tak bisa menjemputku dan hama juga dia ada bimbel dan itu pulang malam" ah kenapa aku cerewet seperti ini, menceritakan semua yang aku alami
"aku pernah bilang padamu rasanya ingin sesekali aku menghilang dari mereka? mungkin ini saat yang tepat lagi pula tadi waktu aku keluar ruangan dan aku melihatmu masih menunggu bus jadi lebih baik aku mengantarmu pulang"
"terima kasih mau mengantarku pulang, aku tak tau harus bagaimana jika tak ada kau"
"sama2 tapi itu bukan alasan yang pertama itu alsan yang ketiga" ucapnya santai, dia mulai lagi dengan kejutannya
"lalu yang pertama dan kedu?"
"yang pertama ayahmu dan hama sama2 mengirimku pesan agar aku menemanimu karena ayah, ibu dqn hama tak ada dirumah sampai nanti malam dan kedua aku ingin menghabiskan waktu bersamamu hingga jam malammu tiba" ungkapnya sepertinya bagi dia selalu menyenangkan membuat orang lain terkejut.

kami menyusuri jalanan yang masih lenggang, keadaan masih dini untuk dibilang malam semburat merah masih menghiasi langit diujung barat sana
"aku boleh memelukmu?" kataku malu2
"kamu kenapa sepertinya sedang sedih sekali? kamu itu pintar sekali menyembunyikan apa yang kau rasa didepan yang lain kadang aku sendiri tertipu olehmu" ungkqpnya. aku tak menunggu persetujuan darinya, aku peluk dia dan aku mulai menangis dibahunya. dia diam sepertinya dia mengerti jika aku perlu waktu untuk mencurahkan air mata
"aku merasa bersalah dengan Ina, dia selalu menceritakan semua rasa bahagianya juga sesihnya padku sedang aku menyembunyikan semuanya darinya" kataku disela isak tangisku
"tapi bukannya kau sudah menceritakan semua padanya?" ia mencoba mengingatkanku bahwa aku sudah menceritakan semua pada Ina
"tapi tetap saja masih ada yang cerita bahagia yang aku sembunyikan darinya karena aku menceritkan hanya sedihku saja" aku menyangkal apa yang dia katakan sedangkan dia hanya diam disisa perjalanan kami.

kami berhenti ditempat parkir sebuah kaffe yang sangat aku kenal, dia menuntunku kearah meja yang biasa kami tempati jika kami kecaffe ini setelah menyruhku duduk dia beranjak kearah minibar mengambil segelas air putih untukku, semua pelayan di kaffe ini sudah tak asing jika dia selalu seperti itu tiba2 masuk dapur tiba2 dimini bar menyeduh sesuatu yang dia suka bahkan danu dan bian juga tak keberatan jika dia seperti itu
"minum dlu dan berhenti menangis lalu ceritakan kenapa kau seperti ini" katanya tegas sambil meletakan segelas air putih dihadapanku. aku menenggak air putih hingga setengah habis dan mulai bercerita
"aku merasa bersalah sama ina.dia selalu membagi ceritanya padaku baik itu bahagia atau sedih sedang aku terlalu egois aku selalu menikmati semuanya sendiri tanpa membagi bahagiaku dengan dia" aku kembali akan menangis
"bukanya kau sudah menceritakan pada dia semua tentang kita?" dia mengulang pertanyaan yang dia tanyakn dijalan
"aku menceritakan sedihku saja, aku bercerita bagaimana kita dekat sampai saat kita bubar jalan untuk sementara waktu" aku berhenti berkata dan menatap secangkir sesuatu yang danu taruh dimeja kami, sepertinya sesuatu yang dapat memperbaiki moodku yang sesang kacau "rasanya ingin aku memeluknya dan meminta maaf padanya" lanjutku
"kalau begitu besok kau temui ina dan ceritakan semuanya, semua tentang kita bagaimana kita dekat bagaimana kita break dan bagaimana kita kembali" katanya setelah menyesap yang dia suka
"iya akan aku ceritakan kalau kita kembali lagi" aku kembali menyesap coklat panas yang dia pesankan untukku

ska, 23 november 2013
-untukmu, salah satu sahabat terbaikku, kau harus siap dengan kejutan selanjutnya-

Dibalik Semuanya part2

aku tiba didepan rumah asa namun aku tak segera turun untuk menemuinya. aku merogoh kantung celana ku dan mencari nama ina lalu menelfonnya
"ina kaubyakin dengan perkataanmu?" aku kembali ragu, aku tak yakin asa mau kembali bersamaku
"sudah aku katakan kau itu paket komplit bagi asa dan ingat ini kesempatanmu yang terakhir" ancam ina lalu memutus telfonku. kukantongi kembali ponselku dan aku beranjak keluar. aku mengetuk pintu rumah berharap bukan asa yang membukanya karena jika benar mungkin aku akan sangat tidak enak
"eh kak awan" kata hama begitu melihatku dibalik pintu. aku bernafas lega bukan asa langsung yang membukakan pintu
"masuk kak, lama banget gak main kak aku jadi kehilangan patner terbaik merangkai papercraft stelah ayah tentunya" curhat hama yang kebetulan saja mempunyai hobby yang sama denganku
"sibuk de kerjaan numpuk" jawabku sekenanya, pasti asa belum memceritakan apa yang terjadi antara aku dan asa "ayah ibu kemana? kok sepi lah kamu gak kencan de?" tanyaku akhirnya mencoba menetralisir rasa gugupkul
"ayah sama ibu lg mengenang masa muda dulu, klo aku sih lagi jomblo, mungkin mas awan mau cariin atau mau nyomblangin aku sama bulan juga gak papa kok" candanya
"bulan tak akan aku serahkan kepada orang sepertimu" candaku "oia bisa tolong panggilin mba asa?" pintaku pada hama
"gak mau ah orang mas awan gak mau nyomblangin aku sama bulan" ia ngambek tapi aku tahun dia telak serius dengan ucapannya
"nanti aku emailin model terbaru deh" tawarku, aku paham dia akan lebih memilih pappercraft model terbaru dari pada pacar baru.
hama beranjak masuk dan berteriak memnaggil kakaknya tak ada yang berubah dari kebiasaan hama memanggil asa. tak lama asa muncul. malam ini ia cantik sekali dengan dress bunga-bunga selutut dan sebuah tas kecil yang dia selempangkan dibahu kanannya, ia mengucir rambutnya menjadi satu seperti terakhir kami bertemu namun kali ini lebih pendek dan dahinya tertutup poni, ia terlihat seperti anak kecil
"lho kok kamu? bukan ina?" ia kaget melihat aku berada diruang tamu rumahnya untuk menjemputnya
"iya aku tadi aku bertemu ina dan ia menyuruhku menjemputmu. ayo kita pergi sepertinya yang lain sudah menunggu" dia menngikutiku keluar dan masuk kemobilku, akhirnya kursi itu kembali diduduki olehnya setelah berminggu-minggu orang lain menggantikannya.
perjalanan ini terkesan jauh, tak ada suara darinya tak seperti sebelumnya, ia selalu bercerita tentang apa yang terjadi saat kita tak bersama kali ini benar2 sunyi dia diam, sesekali mengecek ponselnya lalu menatasp lurus jalanan dan aku tak tahan dengan kesunyian ini. aku beloknya arah mobil kearah taman kota tempat biasa kami menghabiskan waktu selain dimilik danu
"kok kesini? kita semuabjanjian bukan disinikan?" dia bingung kenapa aku membawanya ketaman kota
"ada yang harus aku bicarakan denganmu" aku turun tanpa memintanya turun secara otomatis dia mengikutiku turun dari mobil
"cepat bicara aku tak enak jika yang lain menunggu terlalu lama" katanya kesal sambil mengambil posisi duduk disampingku disalah satu bangku taman
"ada yang lebih penting dari janji kita dengan yang lainnya" aku berhenti berbicara menunggu ia tenang. kami diam beberapa saat, aku meliriknya sepertinya dia sudah kembali kekeadaan saat pertama kali kami bertemu tadi
"ada yang harus aku bicarakan denganmu hanya denganmu tanpa ada yang lain" aku memulai pembicaraan
"kau sudah mengatakannya dan sekarang kita hanya berdua tak ada yang lain" jelasnya, tebakanku salah ia masih dengan emosinya seperti saat dia tahu aku membawanya ke taman bukan tempat kami berjanji dengan yang lainnya
"aku kangen kamu aku kangen wajahmu yang sulit ditebak apa kau sedih atau marah, aku kangen suaramu yang selalu menyamarkan ada apa2 menjadi tak apa2 saat kuhubungi dan aku kangen pesanmu yang kadang muncul diwaktu yang tak terduga yang bisa membuatku tersenyum disela kesibukanku" kataku
"lalu?"
"aku minta maaf sudah merusak sisa hari bahagiamu" aku terdiam, dia juga "bagaimana kalau kita ulang semua?" akhirnya tujuan utamaku tersampaikan
"kenapa kau ingin mengulang semuanya denganku?" bukan sebuah jawaban yang kudapat namun sebuah pertanyaan yang membuatku bingung jawaban seperti apa yang harus aku berikan
"aku tak punya jawaban untuk pertanyaanmu itu namun aku punya tujuan yaitu membahagiakan orang yang aku sayabg dan kau orangnya"
"jika itu alasan yang berikan bahagiakan dlu ibu, ayahmu dan adikmu jika mereka sudah bahagia dengan apa yang kau lakukan baru kau bisa capai tujuanmu yang terakhir"
"aku sudah bahagiakan mereka" ucapku mantap
"buktikan jika keluargamu sudah bahagia dengan apa yang kau berikan untuk mereka"
aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi ibuku
"halo.." telfonku tersambung aku langsung mengloudspeker ponselku
"ada apa wan?"
"ibu ada seseorang butuh jawaban apa ibu bahagia denga  apa yang telah awan lakukan untuk ibu ayah dan bulan? awan butuh jawaban ibu ayah dan bulan sekarang"
"ayah ibu dan bulan bangga dan bahagia dengan apa yang telah awan lakukan untuk keluarga tapi kurang satu.." aku menggigit bibir ada kata tapi yang ibuku keluarkan dan asa kurang suka dengan suatu penawaran "kau carilah kekasih yang baik dan yang serius tapi jangan seperti evi, dia cantik baik juga tapi terlalu centil ibu kurang setuju"
"iya bener mas jangan kaya mba evi main kerumah yang diajak ngobrol cuma mas awan doank padahal pas itu liat bulan lagi bikin pr minimal nanyain ngerjain pr apa atau nawarin bantuan kek pas ditinggal mas awan pergi bentar" kali ini bulan angkat bicara tentang sikap evi saat dia datang kerumahku
"kalau bisa sih kaya asa dia manis cantik lagi walaupun gak pandai masak paling nggak punya niatan buat bantuin ibu walau cuma motongin sayur" jelas ibu, kulirik dia wajahnua tersipu malu
"iya mas cari yang seperti mba asa atau mas awan balikan sama mba asa lagi aja" bulan mengutarakan pendapatnya dan aku yakin dia semakin tersipu malu
"makasih, mendengar semua yang ibu sama bulan katakan mungkin harapan kalian sebentar lagi akan terwujud"
"ok deh mas awan good luck" bulan mematikan telfon
"kau dengar semuanya tak ada alasan lagi untuk kau menolakku" kataku tajam. aku beranjak meninggalkannya aku tak perlu jawaban darinya karena aku telah mengetahu jawabannya
"kemana?" dia panik aku tinggalkan
"kaffe danu" jawabku santai
"kau kan belum dengar jawabanku" katany agemas sambil mengejarku
"qku tak perlu jawabanmu karena aku sudah tau jawabannya, kau sering datang kerumah walau kita sudah putus. bulan cerita semuanya termasuk cerita ketika dia mengatakan apa kamu mau mengulanh semua lagi dan kau jawab iya, satu rahasia yang tak kau ceirtakan ke ina" kataku sambil terus berjalan kearah mobilku aku parkirkan. aku tak tau ekspresinya sekarang mungkin senang, kaget dan marah yang bercampur jadi satu dan aku sangat suka membuat dia seperti itu.

ska, 25 november 2013
-untuk seseorang yang kukenal namun sebenarnya tak kukenal-

Jumat, 13 Desember 2013

Coklat

Kuarahkan 125ku kearah coffeshop dimana aku dan dia selalu menghabiskan waktu bersama, walau hanya sekedar duduk dan saling diam karena pekerjaan masing-masing. Aku pakirkan 125 disalah satu sudut ditempat coffeshop ini, sudut yang jarang terjamah oleh pengendara lain karena letaknya sedikit jauh dari bangunan kafe. Aku duduk ditempat biasa aku dan dia duduk, disalah satu sudut coffeshop dekat dengan taman serta kolam yang gemricik airnya, kali ini aku tidak menghabiri mini bar tempat barista yang sudah lama aku kenal meracik minuman andalannya. Aku hanya duduk dan diam menunggu seseorang menghampiriku.
  “eh mba asa sendirian aja, mas awannya kemana?” danu pastry chef, pemilik coffeshop yang terkadang merangkap sebagai pelayan coffeshop ini menghampiriku
  “lagi dines keluar kota” kataku singkat. Aku sedang tak ingin banyak bicara tentang awan yang beberapa hari ini terlalu dekat dengan pekerjaannya
  “sepertinya mba asa sedang galau kangen mas awan ya?” godanya , ia berusaha mencairkan senyuman diwajahku dan itu cukup berhasil aku tersenyum mengiyakan apa yang danu tanyakan
  “kalau begitu tunggu sebentar ya mba” danu pergi tanpa menanyakan apa yang ingin aku pesan tapi sudahlah ia hapal apa yang selalu aku pesan jika aku kesini. Aku membuka agendaku dan mulai mencatat perjalan beberapa hari lalu.
Danu datang, dia membawa sesuatu dinampan sepertinya sesuatu yang hangat dan manis serta sesuatu yang selalu membuatku tersenyum
  “ini spesial buat mba asa” danu menyodorkan coklat panas dan sepotong stroberry cake lalu duduk didepanku
  “kenapa coklat panas? Kan biasanya cappuchino?” aku bingung
  “ini bisa merubah suasana hati dan ini juga minuman faforit mas awan” katanya, sepertinya dia lebih paham tentang awan dari pada diriku
  “ya coklat panas, tapi dia selalu memesan moccachino jika bersamaku” aku berkata sambil memandang secangkir coklat panas dihadapanku
  “itu karena mas awan dapat dua sekaligus. Kopi yang mba asa suka dengan coklat yang dia suka” jelas danu
  “sepertinya kau lebih tahu banyak tentang awan?” tanyaku akhirnya
  “kemarin mas awan kesini sendirian. Raut wajahnya sama sperti mba asa sekarang galau seperti ada sesuatu yang tak rela untuk ditinggalkan dan mas awan cerita semuanya kenapa mas awan suka coklat, betapa mas awan suka mba asa sampai kekhawatiran mas awan ketika mau pergi keluar kota. Mas awan takut mba asa bakalan kesepian saat sabtu malam seperti ini. Mas awan juga minta aku sama bian untuk menemani mba asa ngobrol jika mba asa kesini” danu bicara panjang lebar sepertinya apa yang awan katakan akan dia sampaikan padaku. Aku memotong stroberry cake dan danu mulai bercerita, dia mengatakan semua yang awan katakan padanya kepadaku
  “..begitu mba kata mas awan” danu mengakhiri ceritanya tepat saat aku menghabiskan stroberry cake miliku
  “terima kasih untuk malam ini, untuk cakenya yang selalu enak serta coklat panasnya” kataku sambil tersenyum
  “sama-sama kalau coklat panasnya itu pesenan mas awan dia pesan kalau mba asa datang jangan kasih capuccino kasih coklat panas saja biar bisa tidur nyenyak malam ini” kata danu lagi. Aku tersenyum
  “tak apa kau ngobrol denganku kafe sedang rame lho?”
  “nggak apa mba, saya kan paling berkuasa disini” ia mulai mengeluarkan kesombongannya
  “terima kasih” aku tersenyum lagi. Tak lama ia pergi seseorang memanggilnya untuk menyiapkan sesuatu dibalik layar dari kafe ini tepat seseorang menelfonku. Layar ponselku  dipenuhi  gambar wajahnya yang berhelm dan masker benar-benar tak terlihat wajah hanya sepasang matanya yang mempunyai tatapan yang tajam namun meneduhkan
  “hay..” kataku gembira ya hatiku senang walau tak melihat wajahnya, suaranya pun cukup menangkan hati
  “pasti lagi dikaffe biasa?”
  “iya..”
  “sendiri?”
  “nggak kok, tadi danu nemenin dia crita semuanya yang kamu ceritakan ke dia”
  “terima kasih untuk malam ini, aku pikir aku akan sendirian ternyata tidak dan terima kasih juga coklat panasnya setidaknya bisa mengobati kangenku dengan seseorang yang selama ini menyembunyikan sesuatu yang disukainya”
  “sama-sama”

Pemalang, 15 oktober 2013
-untukmu penyuka coklat seperti aku-

Rindu Awan

  "ara" panggilku ketika aku duduk dihadapan cermin besar yang sengaja kupasang disalah satu dinding kamarku. perlahan cermin itu memburam dan menampilkan sosok serupa diriku yang tengah lesu
  "tak perlu cerita aku sudah tau apa yang kau rasakan" katanya begitu ia muncul
  "sekali saja dengarkan ceritaku walau kau sudah tau semua yang kurasakan" kataku memelas
  "buat apa mendengar cerita yang sudah aku tau bahkan bisa aku rasakan" katanya jutek
  "kau tau terkadang kau yang membuatku frustasi kau sendiri semua sahabatku tak ada didekatku setidaknya kau bisa jadi pendengar walau kau sudah tau" kataky ngotot
  "om baiklah untuk kali ini saja" akhirnya dia pasrah
  "kau tahu awan?" tanyaku membuka cerita
  "hmm.." jawabnya
  "orang yang melibatkanku dalam urusannya dengan gebetannya. setelah aku pikir-pikir ternyata aku ini hanya pelarian baginya buktinya saat gebetannya menjauh dia mendekat denganku dan disaat dia mendapat gebetan baru dia kembali menjauh"
  "lalu kamu mau apa?" tanyanya
  "aku tak mau apa-apa aku tak bisa berharap lebih aku hanya bisa memposisikan diriku sebagai teman sebagai sahabat yang baik walau kadang rasa ini berharap lebih dari itu"
  "kau rindu dia?" tanyanya lagi
  "iya aku rindu dia. aku rindu bercanda dengan dia.aku rindu candaan kami yang terkadang tidak jelas. aku rindu saat bersama dia" ungkapku jujur
  "aku tak tau harus bagaimana" katanya pasrah
  "hmm sudalah biarkan rindu ini berbunga dihati saja tanpa perlu perlihatkan betapa indahnya kepada yang lainnya"
  "satu yang dari dulu selalu mengganggu pikiranku" kini ia yang mulai bercerita
  "otakku selalu berkata kau yang akan bersamanya nanti bukan dia, dia, dia, dan dia yang bersamanya sekarang. ya walaupun mereka jauh jauh jauh lebih cantik dari pada kamu tapi mereka tak punya sesuatu yang kau punya aku pun tak tau apa itu" kata ara panjang lebar
  "semoga yang terbaik yang akan terwujud sesuai dengan pikiranmu atau pun tidak semuanya akan menjadi yang terindah" kataku bijak
  "semoga" katanya sambil perlahan menghilang dan berganti bayanganku yang selalu meniruka apapyn gerakanku.

pemalang, 11 agustus 2013
-semoga hanya pikiranku saja-

Kejutan Pagi Hari

hari masih pagi dan aku masih santai didepan televisi dirumah, belum mandi bahka kekamar mandi untuk cuci muka pun belum aku lakukan. pagi dirumah memang seperti itu jika tak ada kegiatan menantiku berbeda dengan saat aku dikota perantauan, begitu aku membuka mata yang kupikirkan bagaimana agar aku bisa mendapat giliran mandi paling dahulu.
pagi itu, pagi yang menyenangkan. pagi dengan ayah yang telah bersiap dengan segala ceritanya yang tak bisa diceritakan ketika aku berada dikota perantauan, tak lupa camilan kesukaan ayah juga menemani kami diruang tengah rumah.
kami bercerita diiringi musik dari tetangga sebelah rumah yang kebetulan hari itu menikahkan anaknya dan tanpa kuduga ayah menceritakan sebuah cerita menyangkut kejadian yang terjadi dengan tetangga sebelaha. ayahku berkata
  "kalau ayah dan ibu memaksa kehendak kami mungkin bulan ini ayah akan punya hajat lagi" kata ayahku santai
  "maksudnya yah?" aku mengutarakan kebingunganku
  "kalau ayah memaksa kehendak ayah, bulan ini kamu akan menikah. teman baik ayah memintam jadi menantunya" kata ayah tenang
  "kok bisa? lah trus?"
  "ayah ibumu hanya bisa jawab semuanya tergantung kamu lagi pula kamu masih kuliah dan ayah tak mau memaksamu, walau ayah tahu maksud teman ayah itu baik dia ingin keluarga kita lebih dekat lagi" jelas ayah, untuk pertama kalinya ayah menolak seseorang yang meminta putrinya, aku tersenyum. rasanya lega sekali tak perlu menjelaskan sesuatu kepada dia walau sempat terpikir apa yang akan terjadi antara aku dan dia jika semua itu terjadi.

pemalang, 11 oktober 2013
-ayah, pilihanmu untukku tepat sekali dan suatu hari nanti kau harus tahu putri kecilmu ini sudah punya seseorang yang disayang selain ayah dan ibu-

Kamis, 12 Desember 2013

Kejutan Untuk Mereka

Aku kembali menmandangi undangan yang datang satu minggu lalu dengan bimbang tak tau apa yang harus aku lalukan. Akankah aku menghadirinya atau tidak semuanya masih abu-abu diotakku?
  “so jadi datang?” katanya memecah kehaningan diantara kami, setelah aku bercerita panjang lebar kepadanya via telefon
  “aku masih bingung kalaupun datang pasti mereka mengajukan satu pertenyaan wajib setiap kali kami bertemu kalau tidak datang sudah terlalu lama aku tak bertemu mereka” aku kembali berkeluh kesah padanya dan dia hanya menenangkan aku yang sudah terlalu sering bingung dengan apa yang harus aku ambil
  “ya sudah kita datang saja sekalian kau ceritakan pada mereka sebenarnya” katanya mengambil keputusan
  “kenapa gak kamu saja yang cerita pada mereka? Hey kamu dirumah?” aku kaget seperti ini lagi kejutan tak terduga
  “iya aku dirumah dan bagian ina ima ike dan lainnya itu jatah kamu aku gak mau tahu itu udah jadi tugasmu” dia ngotot tak mau menggantikan aku untuk memberitahu sahabatku
  “katanya lusa baru balik eh skarang udah dirumah gak bilang-bilang lagi” kataku dengan nada bete
  “aku ambil cuti beberapa hari lebih cepat biar bisa kencan sama kamu untuk terakhir kalinya lagian kalau balik lusa udah bakalan gak boleh ketemu kamu” katanya menjelaskan alasan kepulangannya yang dipercepat
  “oo.. tadinya aku fikir aku akan mengejutkan mereka  seorang diri” kataku lega
  “aku tak bisa membayangkan kamu dibully mereka aku lebih suka melihat langsung kau dibully mereka haaaahahaaaa.....”katanya senang
  “kau jahat” aku kesal. Kenapa dia tak berubah selalu bercanda denganku
  “untuk terakhir kalinya gak pa-palah. Jadi besok jam berapa?”
  “kalau bisa datang lebih awal dari kemarin hama menanyakanmu terus katanya minta dibantuin bikin papercraft”
  “tak perlu bawa coklatkan?” ia mempertanyakan sesuatu yang aku suka
  “seharuskan kamu yang minta dari dia bukan dia yang minta kamu tapi kalau kamu bawa juga gak pa-pa tapi bawa dua yah biar kakaknya gak ngiri. Ok bye” aku memutus perbincangan kami tanpa menunggu persetujuan darinya

****

Dihari yang dijadwalkan dia datang tepat waktu ya sesuai yang ku bilang ditelfon dia datang langsung bertemu dengan hama dan terlarut didunia mereka yang terkadang tak aku mengerti kenapa semua mengasikkan bagi mereka walau hanya memotong melipat dan merekatkan lembaran kertas yang telah cetak dengan pola-pola tertentu
  “ok semuanya lanjut nanti sekarang waktunya awan bareng aku” aku menarik awan yang asik dengan kerjaannya
  “yah nanggung nih bentar lagi jadi” protes hama karena kehilangan patner andalannya setelah ayahku
  “kau siap?” katanya membuka percakapan kami
  “tak yakin aku bisa lakukan dengan mulutku sendiri” kataku dengan wajah ngeri
  “kau tak mengatakannya hanya perlu memberikannya” ia menangkan seperti yang sudah-sudah selalu tenang dalam segala kondisi
  “ya.. kenapa kau baru memberitahukan mereka dari dulu?” tanyaku yang ingin mengetahui alasan kenapa ia menyembunyikan semuanya
  “karena aku inginn menikmati semuanya hanya berdua denganmu tak perlu diumbar kepada yang lain kalau aku sedang bahagia” jelasnya
  “jadi kau hanya ingin cerita saat kau sedih saja?” aku menarik sebuah kesimpulan
  “kalau itu aku simpan lebih rapat lagi dan kenapa kau tak ceritakan pada semuanya?” dia mempertenyakan yang sama
  “jawabannya sama sepertimu dan aku selalu tak punya kesempatan untuk cerita saat bersama mereka tapi secara tidak langsung aku sudah menuliskan semua tentang kita kepada mereka” kataku dengan sedikit sedih
  “ok sekarang turun dan kita nikmati semuanya” katanya begitu selesai memakirkan crv hitam kesayangannya
Aku melangkah memasuki aula sekolahku, mencari-cari segelintirr orang yang selalu meyenangkan disegala suasana. Ini saatnya acara bersama teman dan sahabatku bukan acara aku dengan dia jadi kulupakan saja dia yang kini mungkin sudah larut dengan dunianya
  “ina ima ike” kataku histeris begitu melihat sahabatku tengah bercanda ria. Sahabatkuyang sudah hampir sepuluh tahun menamaniku lewat jejaring sosial atau lainya
  “asa...”kata mereka tak kalah histeris. Kami saling berpelukan melepas kangen yang tertunda selama beberapa bulan yang tak terhitung
  “sama siapa?” tanya ike
  “seperti yang kau lihat, seperti biasa bersama diri sendiri” kataku santai
  “tak kira sama orang yang kamu tuliskan kepada kami?” ima menggoda
  “yang itu masih dalam perjalanan” aku kembali memberi alasan
  “ya bilang suruh cepetlah tinggal kamu yang belum lho dan mereka butuh seorang lagi untuk memperseru obrolan” kata ina sambil menunjuk pasangan mereka yang tengah asik ngobrol seru seperti kami, pasangan mereka lebih memilih untuk ngobrol sendiri dari pada harus mendengarkan kami bergosip ria
  “ya nanti aku bilang dengan dia yang tengah dalam perjalanan” kataku menanggapi perkata ina “kalian sudah bertemu dengan teman sekelas?” tanyaku
  “ini baru akan mencari mereka” kata ike
  “ok nanti jangan pulang dulu aku tunggu dipintu masuk ya dan kamu ina, hari aku mau jadi orang ketiga diantara kamu dan kamu” kataku sambil menunjuk seseorang yang kin sudah ada disamping ina. Masing-masing dari kami pergi mencari teman-teman kami yang lain yang juga lama tak kami jumpai beberpa waktu ini. Ima dengan pasangannya begitu juga dengan ike sedang ina kali ini dapat pengganggu yaitu aku.
Suasana kini mulai lenggang hanya segelintir dari kami yang masih ingin menikmati suasana sekolah yang mulai sepi, yang seolah membawa kami ke beberapa tahun silam yang selalu suka suasana sekolah ketika hanya ada kami, sangat menyenangkan. Aku, ina, ima dan ike tengah asik berbicara didepan aula disitu pula ada dia bersama kawan seperjuangannya dulu yang terkenal kompak hingga saat ini, aku juga kenal baik dengan mereka walau tak baik dia. Aku mengalihkan perhatiaku dari ike yang asik bercerita keposel digenggamanku, sebuah pesan menghampiri poselku

From awan
Aku ambil mobil dulu kamu dan yang lain tunggu di depan aula, kita kejutkan mereka

Dia kembali dengan kawanya yang berkurang satupun seperti semuanya tak ingin hari itu berakhir sambil  membawa sesuatu yang  teman-temannya tak sadari apa itu, aku melihatnya sekilas dan dia memberikan tanda tatapan matanya seperti berkata sekarang waktunya. Aku mengeluarkan sesuatu dari tasku dan mulai membagikannya ke sahabatku begitu pula dengan dia
  “apa ini?” tanya ina yang bingung dengan apa yang aku berikan padanya
  “dari siapa?” ike penasaran
  “ini titipan dari dia” kataku sambil menunjuk sesorang yang tengah membagikan sesuatu keteman-temannya dan dia juga menjawab yang sama saat salah seorang temannya bertanya yang sama. Mereka mulai membuka undangan dengan warna dominan coklat, tak ada inisial siapa yang akan mengadakan acara hanya ada nama teman kami dan pasangannya
  “jadi selama ini kalian!!” seru mereka hampir bersamaan
  “kalian wajib datang tak mau tau alasan apapun dan kami pulang dulu” kata awan dan kami segera memasuki mobil dan meninggalkan mereka yang masih setengah syok tak menyangka aku dan dia merencanakan untuk bersama dan beginilah dia seseorang yang selalu memberikan kejutan dengan caranya sendiri.

Ska, 1 september 2013
-untuk pertama kalinya terlepas dan aku mulai menikmatinya-

Datang dan Pergi

aku duduk dengan gelisah ditempat biasa aku dan awan menghabiskan malam minggu jika kami ingin. sesekali aku melirik jam yang melingkar manis dipergelangan tangan kiriku. masih ada waktu 3jam untuk merayakan hari bahagianya namun aku takut tak bisa merayakan dengannya. aku kembali melirik pergelangan tanganku, 9.30, sudah setengah jam aku menanti dia. baru setengah jam yang lalu aku mendapat dari ayah untuk keluar rumah untuk menemuainya dan yang aku takutkan jika sampai pukul 10 ia tak datang maka hilanglah kesempatan kami untuk merayakan hari bahagianya bersama. 9.40 dia datang dengan tergesa-gesa, seperti biasanya
  "maaf pekerjaanku menuntutku pulang malam" katanya begitu duduk dihadapanku dan menenggak minumanku. ah bukan seperti dia yang biasanya yang tak suka merebut sesuatu milik yang lain mungkin kali ini benar-benar butuh sesuatu untuk meredakan keadaan
  "iya aku mengerti ada sesuatu yang harus aku bicara hari ini juga saat ini juga" kataku penuh ragu
"tak usah terburu kita masih punya cukup waktu untuk bersama malam ini" katanya menangkanku lalu memesan sesuatu untukku dan untuk dirinya sendiri
  "tapi kamu janji kamu tak akan marah setelah aku mengatakan semuanya" aku kembali ragu dan dia mengangguk. aku melirik jam dipergelangan tanganku. 09.50
  "selamat ulang tahun dan aku harus mengninggalkanmu sekarang juga" akhirnya aku berkata namun tak ingin beranjak pergi
  "terima kasih dan sepertinya itu kado yang sama seperti yang ku beri padamu beberapa waktu lalu" katanya tenang
  "bukan itu maksud aku benar2 harus pergi ayah hanya mengijinkanku sampai pukul 10" kataku sambil bersiap untuk meninggalkannya. dia menggenggam tanganku mencoba menahanku sambil tertawa kecil, aku bingung seperti ada sesuatu yang disembunyikannya
  "jangan pergi kita nikmati malam ini beberapa waktu lagi" katanya
  "ayah tak mengijinkanku" aku
  "ayah memang tidak mengijinkanmu tapi beliau mengijinkanku untuk bersamamu sampai tengah malam nanti" kata awan pada akhirnya, aku kaget "sebelum kesini aku kerumahmu meminta ijin ke ayah agar memperbolehkanmu pulang satu jam lebih larut dari biasanya namu tak kusangka beliau mengijinkanmu pulang dua jam lebih larut dibanding malam minggu sebelumnya" jelasnya
  "maaf aku tak sempat membelikanmu hadiah" kataku penuh penyesalan
  "tak perlu aku tak butuh hadiah darimu" katanya santai
  "lalu apa yang kau minta dariku dihadiah ulang tahunmu?" aku mempertanyakan sesuatu sebagai hadiah
  "aku hanya minta kau selalu disampingku hari ini, besok, lusa dan seterusnya itu lebih dari sesuatu didunia ini, kamu maukan?" ungkapnya. aku mengangguk mengiyakan pertanyaanya
awanku, awan yang selalu memberikan kejutan kepada siapapun mesti dihari ulang tahunnya sendiri, awan yang tak akan pernah mendung yang akan mengiringi perjalanan hidupku.

ska, 17 november 2013
-kupersembahkan untuk awanku yang berbanding terbalik dengan dia yang dia sana-

Tau Diri

aku kembali dilingkaran teman-temanku namun kali ini bukan hanya ada ina ima dan ike namun ada yang lain yang tak mungkin aku sebutkan satu persatu. kami akan mengadakan sebuah acara, acara rutin yang selalu kami ada setiap tahunnya untum emengenang kebersamaan kami dulu. kali ini kami berkumpul disalah satu tempat bukan kaffe danu yang selalu menjadi tujuanku dan awan jika ingin bertemu. aku duduk disalah satu kursi yang melingkari meja panjang, aku tak banyak terlibat pembicaraan seru mereka aku hanya sesekali menimpali omongan mereka dan kembali sibuk dengan ponselku menulis kisah perjalananku beberapa waktu yang lalu
  "awan mana kok gak datang2 katane harus tepat waktu ternyata sendirinya telat" iya salah seorang dari kami menanyakan awan. aku kaget namun aku tak memalingkan wajahku dari ponselku
'dia datang juga aku pikir tidak, ayo asa kau telah berjanji semuanya baik baik saja setelah kejadian dihari bahagiamu walau terkadang kau menangisi nasib sialmu itu' ara sisi lain dari diriku mulai berdialog dengan diriku namun kali ini berbeda ia mengingatkanku.
Tak lama seseorang yang iya nanti datang, ia paling akhir diantara kami semua. aku masih dengan sibuk dengan ponselku masih mengetik rangkaian cerita yang akan kukirimkan ke ina sebagai ganti pertemuan aku dengan dia
  "hey" kata seseorang sambil mengulurkan tangannya. aku kaget "apa kabar" tanyanya
  "baik" aku menyalaminya lalu kembali sibuk dengan poselku, menyimpan apa yang telah ku tulis agar aku bisa mengirimnya ke ina lain waktu dan betapa kagetnya aku dia duduk tepat didepanku. aku lirik kesekeliling oia hanya kursi itu yang kosong dan ara mulai lagi
'hey selamat bertemu lagi sudah lama aku menghindarimu sialku kau ada disini' ara bernyayi senang sepertinya dia senang melihatku bertatap mata langsung dengan awan yang beberapa waktu lalu menyakitiku
'selamat asa nikmati saja selagi kamu bisa menikmati wajah orang yang berhasil membuatmu berotak jahat disisa hari bahagiamu' ara kembali kesifatnya yang selalu mengejek apa yang terjadi
'sudahlah ara kami berjanji tak ada yang tau tentang semuanya walau dia pernah berkata untuk menceritakan semua yang dia lakukan padaku ke yang lain' aku menanggapi ara setenang mungkin
'harusnya kau ceritakan saja pada yang lain agar semua tahu kalau dia tak sebaik yang mereka kira'
'ara, aku tak sejahat kau. aku masih mau punya hubungan baik dengan dia lagi pula aku akan selalu ingat dia' sebisa mungkin aku tak terbawa emosi ara kalau iya mungkin mereka akan menganggapku gila
'iya kau akan ingat karena disisa hari bahagiamu dia mengubahmu menjadi seperti aku ahahaha'
'bukan, aku akan ingat dia bukan sebagai seseorang yang menyakitku tapi sebagai teman baik yang memberiku banyak kisah' hatiku mantap sedang ara berlalu pergi meninggalkanku dengan wajah sedihnya 'ara kapan kau akan benar2 benaf pergi aku lelah berdialog dengan diriku sendiri' aku menghela nafas panjang
  "kamu kenapa asa?" tama yang sedari tadi menanyakan keadaanku mungkin dia menyadari ada yang berubah dari raut wajahku dan mungkin dia mendengar saat aku menghela nafas panjang seperti rasa kecewa yang terbaca
  "tak apa2" aku mencoba menutupinya. kursi depanku telah berganti orang dia sudah perpindah kesalah satu kursi yang berada diunjung meja. otaku mulai berspekuliasi mungkin tama mengira aku kecewa dengan kepindahan dia dan ara kini bersiap kembali dengan senyum jahat diwajahnya. tiba2 saja aku berdiri
"teman2 maaf aku harus pulang duluan ada acara" aku beralasan dan berpamitan pada semua tanpa terkecuali dia. aku tak mau sesuatu yang tak kuinginkan terjadi karena aku tahu jika ara sudah tersenyum senang dengan senyum jahatnya semua akan dilhar kendaliku dan aku tak mau itu terjadi diantara aku dan yang lainnya.

ska, 25 november 2013
-untukmu, seseorang yang kuhindari dan tiba saja kau hadir dihadapanku waktu itu-

Ayah dan Kau

Dulu aku selalu bermimpi untuk mendapatkan seseorang yang hebat seperti ayahku, orang yang selalu memandang dari segi positif, orang yang selalu mengajariku dari apa yang telah terjadi pada diri kita, sosok yang selalu mengajariku tentang kehidupan dari apa yang terjadi disekitar kami, bagaimana seharusnya kita berlaku terhadap seseorang, bagaimana jika semua tak sesuai yang kita harapkan dan yang terpenting beliau ngajariku bagaimana menjadi "orang kaya yang sebenar-benarnya". ya orang kaya, orang yang selalu kuat, orang yang selalu ikhlas menerima apa yang terjadi pada kita

Dan kini aku temukan sosok yang selama ini aku kagumi ada pada dia , bukan berarti aku berlebihan hanya saja
dia mirip dengan sosok yang kukagumi. beliau baik dia juga, beliau selalu menangkan aku dia sama, nada suaranya ketika dia kecewa denganku sama seperti nada suara beliau ketika kecewa denganku bahkan isak tangis
mereka berduapun hampir serupa.
sosok serupa ayah dalam diri dia seakan mendapat guru kedua dalam belajar memandang kehidupan yang lebih
baik dari sekarang walau aku sering mengecewakan dua sosok yang serupa tapi tak sama.

ska, 7 desember 2013
terima kasih untuk semuanya dan maaf untuk sikapku selama ini dan kau memang seperti ayahku

Definisikan Kita

Sabtu malam memang menyenangkan untuk menghabiskan waktu diluar rumah tapi tidak denganku aku lebih memilih menghabiskan waktu diruang baca rumah yang penuh berpuluh-puluh buku yang tersusun rapi mulai dari bacaan berat milik ayah tentang kehidupan yang sempat aku baca namun aku tak tahu maksud buku itu samapi sekarang hingga tumpukan koleksi komikku yang aku kumpulkan beberapa tahun terakhir tak lupa jaringan internef yang selalu terhubung 24 jam nonstop dikomputer rumah. Tak heran aku lebih memilih menghabiskan malam minggu disini dari pada diluar sana, bagiku berada diruang baca itu berasa berada disurga dunia sama saperti halnya ketika aku berada ditoko buku.
Aku bergelung diatas karpet tebal diruang baca dengan sertumpuk komik yang belum sempat aku buka segel plastiknya, tak lupa komputer portabel yang mengakses semua jejaring sosial yang aku punya,kuletakan disamping tumpukan komik. Aku menikmati malam minggu yang indah ini, akupun tak peduli dia yang terkadang ngapel lewat telfon malam ini tak ada kabar memang kami terkadang seperti itu, saling tak ada kabar beberapa hari namun kami berdua menikmati hubungan jarak jauh kami yang menurumenurut orang lain menyiksa untuk dijalani tapi bagi kami semuanya menyenangkan selama kami saling percaya.
Aku menyeruput coklat panas, minuman yang beberapa waktu lalu dia kenalkan padaku sebelumnya aku menikmati coklat dengan caraku sendiri begitu dia hadir dan mengenalkan coklat panas aku langsung jatuh cinta, aku dapat dua sekaligus, yang membuatku kenyang serta yang menghilangkan hausku. Sudah dua komik yang aku baca dengan sesekali menanggapi celoteh temanku didunia maya, namun tiba-tiba sahabat yang lama dihidupku menngirimiku pesan
X: asa sebenarnya ada apa antara kamu dan awan?
Sahabtku bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu
A: ada apa? Kami berteman baik
X: kamu ada sesuatukan sama dia?
A: sssuatu apa?
X: sesuatu yang spesial
Aku tahu apa yang dia maksud tapi aku tak mau berterus terang
A: dapat gosip dari mana?
X: sudahlah jujur sama kamu pacarankan sama dia?
A: pacarankan sama dia? Ketemu aja bisa setahun sekali
X: tp km pernh kencankan sama dia
A: kcn oia sekali waktu itu aq berhutng menraktirnya segelas es potjong
X: nah itu kalian kencan brarti kalian pacaran
A: hey definisi kencan itu janjian untuk bertemu di suatu tempat dan tak ada penjelasan kalau kencan juga berarti pacaran
Aku mencoba mengeles sebisaku
X: lalu? Apa hubungan kalian berdua kalau bukan pacaran, aku lihat kalian begitu dekat
A: kami teman baik, kami bersahabat kami juga berkomitmen yang lebih dari sekedar sahabat
X: ah sudahlah aku kadang gak ngerti sama jalan pikiranmu.
Dia langsung off tapi emang seperti itulah kami, pacaran namun tak pernah pergi berdua hanya sekali ketika aku memenuhi janjiku padanya, kami berkirim pesan pun hanya sehari dua kali seperti orang mandi hanya sekedar say helo dan menanyakan kabar bahkan beberapa hari kami tak berkirim pesan, kami berpacaran namun kami tak punya panggilan khusus untuk mengebut masing-masing dari kami. nama kontak diponsel kamipun masih berhubungan dengan komunitas yang kamj ikuti. Hanya kami yang menngerti definisi dari hubungan yang kami jalani dan kami nikmati walau terkadang orang tak paham dan melihat kami aneh dibilang pacaran kami terkadang cuek satu sama lain dan begitupun sebaliknya.

Ska 8 desember 2013
-untuk awan, teman, sahabat, pacar, korba keisenganku, makasih untuk kisah yang berwarna-

Kau

Hujan mengguyur kotaku sejak siang tadi, mereka menawanku disini, ditempat ternyaman aku melimpahkan semuanya yang kurasakan. Aku hanya memandang yang mereka menelusuri jendela kamarku, mereka mengingatkanku akan sesuatu, rasa sakitnya masih ada belum terlepas ketika terlintas begitu saja diotakku, ingin rasanya melepas kenangan itu tapi tak semudah yang dia katakan agar aku melupakannya.

Langit perlahan mulai bersih, awan tak sehitam sebelumnya namun hujan masih saja berjatuhan seakan tak peduli dengan semua itu, air tetap saja turun dari langit membasahi semua yang dijumpai. Aku masih duduk termangu ditepi jendela kamarku sudah lama aku seperti ini memandang jalanan yang sesekali dilewati oleh orang yang terpaksa harus menentang hujan, rasanya ingin bergabung dengan mereka agar tak ada yang tahu bahwa aku tengah menangis.

Perlahan pintu kamarku terbuka, ibuku datang membawakan dua gelas Sesuatu yang hangat dan satu toples kecil biskuit
  "Ada apa sayang? Soer ini kau melewatkan rutinitas minum teh kita?" Kata ibuku begitu beliau duduk dihadapanku setelah meletakan apa yang beliau bawa
  "Tak apa hanya ada yang sedang asa pikirkan" jawabku sedikit jujur
  "Awan?" Tebak ibuku
  "Sebagian kecilnya dia" jawabku singkat
  "Ceritakan saja, mungkin ibu bisa bantu"
  "Apa asa salah jika asa memilih teman dibanding orang yang dekat dengan asa?"
  "Orang dekat itu keluarga intimu maka kamu salah karena bagaimana keadaanmu keadaanmu mereka akan menerimamu dengan hati senang" kata ibu sambil menyeruput salah satu dari gelas yqng dibawa ibu tadi
  "Bukan bu, teman itu ina dan orang yang dekat dengan asa itu awan" jelasku
  "Ceritakan selangkapnya agar ibu paham"
  "Asa dekat dengan awan dan awan meminta asa agar tak bercerita kepada siapapun dan ibukan tahu bahwa asa tak bisa menyembunyikan sesuatu dari ina, sepandai2nya asa mengelak pasti ina bertanya siapa dia atau ina akan bilang aku yang ngomong atau kamua ngomong dluan" aku berhenti dan menarik nafas "dan beberapa hari yang lalu ina tahu dan asa cerifa semuanya, asa juga cerita keawan kalau ina sudah tahu lalu awan kecewa dia ngomong gini 'aku kecewa, kamu lebih memilih teman dibanding orang yang dekat dengan kamu, ingat tak selamanya teman peduli dengan kamu percayalah' hati kecil asa akui asa salah asa terima dia kecewa awan marah dengan asa tapi yang gak asa terima ina itu bukan sekedar teman, ina sahabat asa kami dekat hampir sepertiga hidup asa, sedang dia baru satu tahun belakangan ini dekat dengan asa walau kami kenal hampir 6tahun namun tak pernah sekalipun kami berhubungan selama 5thn"
  "Intinya awan kecewa karena kamh lebih memilih teman kamu" ibu menarik kesimpulan dari apa yang aku ceritakan dan aku mengangguk "awan marah itu pasti tapi awan juga harus tau bagaimana sifat perempuan yang selalu ingin berbagi dengan sahabatnya apalagi dalam hal bahagia" kata ibu bijak "kamu tau kenapa awan melarangmu cerita?!" Tanya ibu. Aku mengangguk lalu berkata
  "Awan tak ingin kejadian waktu dia dengan mantannya terulang, dia tak mau dia, terutama asa jadi bahan bullyan diantara teman2 komunitas karena mereka senang sekali membully awan, dan waktu bertanya apa asa dengan sengaja bercerita tentang kami kepada ina agar dia berada diposisi yang akan selalu disalahkan jika semua anggota komunitas tahu dan sudah tak ada sesuatu diantar kami. Nada suaranya sama ssperti waktu ayah menangis karena kecewa sama asa, sama persis" aku tak kuat menahan tangis, terlalu menyakitkan mengingat tentang itu terlebih dia mirip dengan ayah
  "Sudah tak perlu ditangisi smuanya hanya perlu diperbaiki, kamu siap menerima kemungkinan tweburuk jika semua teman2 kamu tahu?" Ibu bertanya dan aku mengangguk
  "Asa tahu akan jadi orng paling bersalah dan paling sedih jika awan dibully oleh yang lain dan asa akan jelas kan semuanya meski itu akan membuat asa kehilangan awan, asa lebih siap kehilangan awan dibanding harus kehilangan ina sahabat asa" jawabku panjang
  "Kamu harus siapkan segala kemungkinan apa yang akan terjadi meski itu terlalu menyakitkan kamu harus siap menerimanya. kamu ingat apa yang kamu ceritakan kepada ibu kesimpulan tentang dialog ina dan temannya?" Ibu bertanya lagi. Aku kembali memengangguk
  "Lebih milih sahabat atau pacar? Lebih baik memilih pacaran dengan sahabat" kataku mengulang dialog yang pernah ina ceritakan. Ibu mengangguk lalu berkata
  "Pikirkan itu baik-baik, jadikan awan sebagai sahabat sekaligus pacar atau sebaliknya" kata ibu tenang. Aku memeluknya menyenangkan sekali bercerita banyak tentang semua yang ada dikepala
  "Ini coklat hangat, tadinya coklat panas. Ibu tau kau sedang rindu awan yang beberapa hari ini kamu hindari bahkan kau tak mengiriminya pesan kecuali email kan?" Tebakan ibu benar aku sedang menghindarinya karena semuan ini ditambah semua phonebook diponselku menghilang secara mendadak dan aku tak hafal nomernya
  "Awan selalu menghubungi hama atau ibu, dia selalu menanyakan kabarmu memastikan kalau kau baik2 saja tapi sepertinya dia siap akn apa yg akan terjadi dan sekarang turunlah kebawah setidaknya kau bisa membantu hama membuat papercraft dari tadi ibu yang jadi korbannya" kata ibu sedikit memohon agar beliau bisa menyelesaikan pekerjaan yang lainnya. Aku menggeleng aku masih ingin disini menanti awan menghubungiku setelah aku bedkata seperti itu padanya.

Ska, 9 desember 2013
-secara tidak langsung kau membuatku gila, awan-

Sahaba atau Pacar

Sahabat atau pacar
Sebuah pesan memasuki ponselku ketika aku masih asik mendentingkan senar gitar kesayanganku yang baru saja aku ganti

From ina
:’(
Tempat biasa

Pesan singkat yang membuatku langsung saja menyambar kunci motorku yang terletak dimeja dekatku. Tak seperti biasanya malam minggu sperti ini ina mengirimiku sebuah pesan mungkin ini yang pertama kalinya semenjak 6bulan yang lalu tepatnya semenjak ia mendapat kekasih yang baru.
Aku menyusuri jalanan yang padat tujuanku satu tempat aku dan ina biasa menghabiskan waktu bersama, sebuah kaffe yang cukup jauh dari pusat kota namun sangat terkenal akan racikan kopinya.  Aku parkirkan motorku begitu saja dan terburu-buru memasuki tempat itu mencari sosok yang sangat kukenal dan aku bernafas lega begitu aku melihatnya, dia duduk termenung dimeja faforit kami, aku menghampiri sahabatku itu sahabat yang telah sekian lama aku cintai namun tak berani aku mengatakannya karena aku terlalu takut semuanya menghancurkan apa yang telah terjadi selama ini.
Aku duduk dihadapannya tanpa berkata apapun. Dimeja sudah ada dua minuman faforit kami segelas capuccino hangat dengan sebotol soda dan segelas batu ice. ‘ini passti ada sesuatu yang terjadi’ batinku. Ina selalu melarangku meminum soda namun kali ini dia menyediakannya untuk pasti sesuatu terjadi
  “ada apa?” kataku sambil menuangkan soda dari botol kegelas. Tak ada jawaban dari ina, dia hanya menatap lampu kota yang terlihat indah dari ketinggian
  “ok kalau tak mau bicara aku juga tak mau memaksa” kataku mengambil ponsel dan memulai sesuatu dengan ponselku
  “seperti yang kau lihat” katanya sambil tak lepas dari pandangan kota malam hari
  “aku hanya bisa melihat kau yang melamun tak mengerti apa yang terjadi” aku jujur memang seperti itu. aku membiarkan dia agar bercerita dengan sendirinya
  “bagas, hari ini dia mendadak membatalkan janji kami” akhirnya dia memberitahuku apa yang meyebabkannya seeperti ini
  “ya sudahlah biarkan saja” kataku enteng
  “dia janji lebih dari seminggu yang lalu dan dia membatalkan semuanya 10menit sesudah aku berada disini dengan alasan dia diajak futsal oleh sahabatnya”
  “jadi ini yang membuatmu seperti ini?” aku menarik kesimpulan
  “kalau disuruh milih, antara pacar dan sahabat kau pilih mana?” pertanyaan klise yang sering terjadi saat hubungan dengan seseorang tercampuri oleh kata sahabat
  “kamu sendiri milih mana?” aku tidak memberikan jawaban namun pertanyaan agar ina menjawab apa yang dia tanyakan
  “sahabatlah. Sahabat tuh akan selalu ada buat kita. Sedang pacar terkadang Cuma datang kalau kebelet kangen”
  “berarti kamu dan bagas punya pemikiran yang sama lalu kenapa kamu mesti marah?” aku membalikan pertanyaan itu ke ina. Dia terdiam mungkin membenarkan semua perkataanku
  “kamu sendiri? Milih mana? Sahabat atau pacar?” pertanyaan yang sudah aku duga akan keluar dari mulut ina. Dengan satu tarikan nafas aku menjawab
  “antara sahabat dan pacar? Emm...” sejenak aku memutar otak “aku lebih memilih pacaran dengan sahabatku”

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...