Kamis, 12 Desember 2013

Kau

Hujan mengguyur kotaku sejak siang tadi, mereka menawanku disini, ditempat ternyaman aku melimpahkan semuanya yang kurasakan. Aku hanya memandang yang mereka menelusuri jendela kamarku, mereka mengingatkanku akan sesuatu, rasa sakitnya masih ada belum terlepas ketika terlintas begitu saja diotakku, ingin rasanya melepas kenangan itu tapi tak semudah yang dia katakan agar aku melupakannya.

Langit perlahan mulai bersih, awan tak sehitam sebelumnya namun hujan masih saja berjatuhan seakan tak peduli dengan semua itu, air tetap saja turun dari langit membasahi semua yang dijumpai. Aku masih duduk termangu ditepi jendela kamarku sudah lama aku seperti ini memandang jalanan yang sesekali dilewati oleh orang yang terpaksa harus menentang hujan, rasanya ingin bergabung dengan mereka agar tak ada yang tahu bahwa aku tengah menangis.

Perlahan pintu kamarku terbuka, ibuku datang membawakan dua gelas Sesuatu yang hangat dan satu toples kecil biskuit
  "Ada apa sayang? Soer ini kau melewatkan rutinitas minum teh kita?" Kata ibuku begitu beliau duduk dihadapanku setelah meletakan apa yang beliau bawa
  "Tak apa hanya ada yang sedang asa pikirkan" jawabku sedikit jujur
  "Awan?" Tebak ibuku
  "Sebagian kecilnya dia" jawabku singkat
  "Ceritakan saja, mungkin ibu bisa bantu"
  "Apa asa salah jika asa memilih teman dibanding orang yang dekat dengan asa?"
  "Orang dekat itu keluarga intimu maka kamu salah karena bagaimana keadaanmu keadaanmu mereka akan menerimamu dengan hati senang" kata ibu sambil menyeruput salah satu dari gelas yqng dibawa ibu tadi
  "Bukan bu, teman itu ina dan orang yang dekat dengan asa itu awan" jelasku
  "Ceritakan selangkapnya agar ibu paham"
  "Asa dekat dengan awan dan awan meminta asa agar tak bercerita kepada siapapun dan ibukan tahu bahwa asa tak bisa menyembunyikan sesuatu dari ina, sepandai2nya asa mengelak pasti ina bertanya siapa dia atau ina akan bilang aku yang ngomong atau kamua ngomong dluan" aku berhenti dan menarik nafas "dan beberapa hari yang lalu ina tahu dan asa cerifa semuanya, asa juga cerita keawan kalau ina sudah tahu lalu awan kecewa dia ngomong gini 'aku kecewa, kamu lebih memilih teman dibanding orang yang dekat dengan kamu, ingat tak selamanya teman peduli dengan kamu percayalah' hati kecil asa akui asa salah asa terima dia kecewa awan marah dengan asa tapi yang gak asa terima ina itu bukan sekedar teman, ina sahabat asa kami dekat hampir sepertiga hidup asa, sedang dia baru satu tahun belakangan ini dekat dengan asa walau kami kenal hampir 6tahun namun tak pernah sekalipun kami berhubungan selama 5thn"
  "Intinya awan kecewa karena kamh lebih memilih teman kamu" ibu menarik kesimpulan dari apa yang aku ceritakan dan aku mengangguk "awan marah itu pasti tapi awan juga harus tau bagaimana sifat perempuan yang selalu ingin berbagi dengan sahabatnya apalagi dalam hal bahagia" kata ibu bijak "kamu tau kenapa awan melarangmu cerita?!" Tanya ibu. Aku mengangguk lalu berkata
  "Awan tak ingin kejadian waktu dia dengan mantannya terulang, dia tak mau dia, terutama asa jadi bahan bullyan diantara teman2 komunitas karena mereka senang sekali membully awan, dan waktu bertanya apa asa dengan sengaja bercerita tentang kami kepada ina agar dia berada diposisi yang akan selalu disalahkan jika semua anggota komunitas tahu dan sudah tak ada sesuatu diantar kami. Nada suaranya sama ssperti waktu ayah menangis karena kecewa sama asa, sama persis" aku tak kuat menahan tangis, terlalu menyakitkan mengingat tentang itu terlebih dia mirip dengan ayah
  "Sudah tak perlu ditangisi smuanya hanya perlu diperbaiki, kamu siap menerima kemungkinan tweburuk jika semua teman2 kamu tahu?" Ibu bertanya dan aku mengangguk
  "Asa tahu akan jadi orng paling bersalah dan paling sedih jika awan dibully oleh yang lain dan asa akan jelas kan semuanya meski itu akan membuat asa kehilangan awan, asa lebih siap kehilangan awan dibanding harus kehilangan ina sahabat asa" jawabku panjang
  "Kamu harus siapkan segala kemungkinan apa yang akan terjadi meski itu terlalu menyakitkan kamu harus siap menerimanya. kamu ingat apa yang kamu ceritakan kepada ibu kesimpulan tentang dialog ina dan temannya?" Ibu bertanya lagi. Aku kembali memengangguk
  "Lebih milih sahabat atau pacar? Lebih baik memilih pacaran dengan sahabat" kataku mengulang dialog yang pernah ina ceritakan. Ibu mengangguk lalu berkata
  "Pikirkan itu baik-baik, jadikan awan sebagai sahabat sekaligus pacar atau sebaliknya" kata ibu tenang. Aku memeluknya menyenangkan sekali bercerita banyak tentang semua yang ada dikepala
  "Ini coklat hangat, tadinya coklat panas. Ibu tau kau sedang rindu awan yang beberapa hari ini kamu hindari bahkan kau tak mengiriminya pesan kecuali email kan?" Tebakan ibu benar aku sedang menghindarinya karena semuan ini ditambah semua phonebook diponselku menghilang secara mendadak dan aku tak hafal nomernya
  "Awan selalu menghubungi hama atau ibu, dia selalu menanyakan kabarmu memastikan kalau kau baik2 saja tapi sepertinya dia siap akn apa yg akan terjadi dan sekarang turunlah kebawah setidaknya kau bisa membantu hama membuat papercraft dari tadi ibu yang jadi korbannya" kata ibu sedikit memohon agar beliau bisa menyelesaikan pekerjaan yang lainnya. Aku menggeleng aku masih ingin disini menanti awan menghubungiku setelah aku bedkata seperti itu padanya.

Ska, 9 desember 2013
-secara tidak langsung kau membuatku gila, awan-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...