Teringat
kembali akan kejadian sehari tepat sebelum bulan puasa tahun lalu. Aku tak tahu
setan apa yang merasukiku pagi itu yang ku tahu begitu aku bangun dari tidurku
kudapati rumah dalam keadaan sepi hanya ada mbahku yang tiduran dikursi depan
televisi. entah kenapa aku langsung tak berminat membagi suaraku dengan
siapapun dengan mbahku sekalipun. benar-benar yang sepatah katapun keluar dari
mulutku. Itu akhir dari hari-hariku yang penuh kebosanan. Setahun berselang
ramadhan ke 21 aku mendapat telepon agar aku cepat kembali kekota asalku entah
kenapa sepertinya ada sesautu yang seharusnya aku tahu namun mereka tak
menceritakan padaku. sesampainya dikota asalku, aku dijemput sepupuku, sepupuku
yang malam sebelumnya berjanji akan menjemputku walaupun aku tahu saat itu dia
hanya bercanda denganku saja. dan betapa terkejutnya aku begitu sampai aku
dipelataran rumah. Banyak orang didepan rumahku dan aku aku tahu ketika aku
memasuki rumah. beliau yang biasanya menyambutku sambil duduk dibangku
didepan televisi kini tak ada. beliau menyembutku sambil tidur dengan
wajah yang yang tenang sangat tenang bahkan melebihi ketenangannya saat tidur
tak kuasa kubendung air mata ini ya beliau sudah sempurna dalam menjalani hidup
ini. beliau sudah menjalani takdir terkahirnya sebagai manusia. semoga beliau
tenang disisi Dia. Dia penguasa seluruh isi alam ini.
sebuah blog yang bisa dibilang tak bermanfaat bagi pembaca tapi sangat bermanfaat bagi sipenulis
Kamis, 27 September 2012
Proposal
Proposal
Malam
itu aku duduk dengan awan disalah satu bangku ditaman kota. Awan bukanlah orang
baru dalam kehidupanku. Dia sudah 18 bulan menemani hari-hariku walau harus
dengan sebuah media yang memperingkat jarak dan waktu. Dia sebenarnya kawan
lama, rekan kerja saat kami masih menjadi anak sekolahan. Dia pendiam dan
penyendiri sama sepertiku namun itu mulai berubah ketika kami mulai intens
berkomunikasi, walau terkadang dia masih suka irit dalam berbicara.
“cewe tuh ribet yah!” komentnya sambil menyendokan ice cream
coklat kemulutnya
“nggak ah! Biasa aja tuh!” aku menyangkalnya karena aku ini
perempuan
“tuh buktinya mesti ada acara bikin pipi, bibir, sama mata
dimerah-merah segala ditambah tuh sepatu yang bikin jalan kaya keong aja kenapa
nggakpake egrang aja sekalia!” sindirnya tepat sasaran. Malam itu memang aku
berdadan ekstra ini juga karena dia yang mengajaku keacara pernikahan
sepupunya.
“ini biasa kalau keacara formal” protesku
“tapikan bisa lebih simpelbiar nggak bikin orang nunggu
lama” dia mengungkapkan penyebab dia menyindirku
“salahmu dateng kecepetan” aku tak mau disalahkan
“kamu tuh yang dandannya lama! Aku udah dateng mepet masih
aja nunggu kamu!” dia tak mau kalah
“helo kamu mau gandeng cewe jelek didepan keluarga besar
kamu?” aku tak memberi jawaban namun pertanyaan agar dia mengerti kenapa dia
harus menunggu. Dia terdiam tak ada jawaban darinya.
“sepertinya seru kalau hidupku seperti di film” aku memecah
suasana hening yang tercipta diantara kami.
“hei kamu nglindur?” dia menggoyang bahuku mencoba
membangunkanku yang tak tertidur
“enak aja aku masih sadar ya..”
“kayaknya cewe punya hobi mengkhayal yah?” tanyanya
“emang “ jawabku ” hampir semua perempuan mempunyai khayalan
yang sama. Selalu pingin punya cowo ganteng, alim, tajir. Pengen ketempat yang
romantis. Pingin dilamar di tempat yang indah banget. Pingin dipernikahanya
diiringi lagu romantis yang terkenal sepanjang masa dan pingin selalu
bahagia”jelasku panjang lebar sampai-sampai aku tak sadar ada awan disampingku
“ah pasti itu khayalamu
saja kan?”
“kalau tak percaya tanya setiap perempuan yang ada di sini.
Kalau aku pingin dilamar ditaman penuh dengan bunga pas malam hari yang penuh
bintang sepertinya seru deh” jawabku
“oia satu lagi aku pengen punya suami yang nggak ngelarang aku buat kerja”
“aku ngebolehin kamu kerja tapi nggak boleh lebih dari jam
kerja aku jadi setiap aku pulang kerja ada yang menyambutku dirumah”
“maksudnya?” aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan.
Kulihat raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. Bungkus ice cream kini
sudah berpindah tempat ke kotak sampah yang kebetulan ada disamping bangku yang
kami duduki. Dia meraih tanganku dan digenggamnya. Ditatapnya mataku
dalam-dalam.
“aku mau kau jadi istriku, jadi ibu dari anak-anaku nanti
dan jadi ratu di istanaku kelak” katanya mantap
“tapi aku masih kuliah belum lulus lagian aku juga mau kerja
dulu “ ujarku memberi pendapat
“kita nikah nggak sekarang tiga atau empat tahun lagi dan
kamu boleh kerja seperti yang aku bilang tadi”ujarnya meyakinkan.
“kalau gitu aku mau”jawabku singkat. Dia merogoh saku jasnya
dan mengeluarkan sebuah cincin dan menyematkan cincin itu dijari
manisku.kulihat cincin perak atau emas putih atau monel aku tak tahu dari apa
cincin itu terbuat yang jelas cincin itu melingkar cantik dijari manisku.
“ayo pulang, aku harus memberi tahu orang rumah dengan
berita bahagia ini” kataku semangat sambil beranjak meninggalkan awa.
“nanti saja.., kita jalan-jalan dulu lagi pula ayahmu sudah
mengetahuinya”katanya sambil mendahuluiku. Aku bengong dengan apa yang dia
ucapkan dan berfikir kejutan apa lagi yang akan di berikan setelah ini.
Senin, 03 September 2012
Sabtu malam dikedai kopi
Sabtu malam dikedai kopi
Sabtu malam sebelum hari keberangkatanku. Aku
pergi menenangkan diri bukan kaarena dia yang pergi meninggalkanku sendiri
dikota ini namun aku hanya menikmati suasana kotaku saat sabtu malam. Akhirnya
aku duduk disebuah hamapran tikar dikedai kopi yang ada disalah satu emperan
toko dikota ini. Kedai ini kedai kopi pertama dan terramai dikotaku.
Pengunjungnya hampir dari segala kalangan namun umumnya anak muda yang memang
benar-benar suka akan kopi atau hanya mengikuti tuntutan gaya hidup saja.
kupesan iced vanilla latte dan otak-otak goreng setelah bimbang apa yang harus
kutuliskan pada kertas kosong yang disodorkan oleh penjual. Jalanan sangat
ramai berbanding terbalik dengan diriku yang sedang merindukan dia. Aku kembali
teringat kenangan aku dan dia saat dikedai ini. Sebelumya aku tak pernah
sendiriketika kedai ini dia atau sahabatku
selalu menemaniku. Jika dikedai ini dia selalu mmemesan mocchacino entah itu
panas atau dingin yang penting baginya dia mendapatkan dua hal yang dia suka
yaitu kopi dan coklat.
Malam semakin larut, meja disbelah kanan
semakin ramai dengan obrolan khas anak muda dan aku semakin sendiri. Aku
benar-benar sendiri. Semua pengunjung datang dengan pasukan masing-masing
berbeda denganku yang datang dengan diriku sendiri.
Dering ponsel menghentikan kegiatanku
mengaduk-aduk iced vanilla latte dihadapanku. Sebuah pesan datang dari dia yang
berada diluar kota sana.
Hai sedang apa?
Aku tersenyum membaca pesan daarinya walau ia
tak menyapa dengan sapaan khasnya
‘lagi ngopi dikedai kopi biasa’
kutulis pesan balasan untuknya. Tak lebih
dari 5 menit pesan kembali memasuki inbox ponselku
sama siapa? Sama nay atau sendiri? Aku kangen mocchacino tempat itu walau tak
seenak buatanmu
kukembali tersenyum oleh pujian yang berikan.
Dia selalu menganggap mocchacino buatanku selalu yang terenak entah itu terlalu
pahit atau terlalu manis.
‘sendiri, nay tak bisa menemani, kau sedang
apa?’
‘bbq sama anak-anak diatap kontrakan tapi
kurang lengkap tak ada kau disini’
‘sama sepertiku
tak lengkap tak ada kau. Aku rindu minum kopi bersamamu dikedai ini’
‘i miss you so
much. Jadi berangkat besok? Sudah packing?’
‘iya. Aku malas
packing klo untuk kekota itu.’
‘jangan begitu,
semua demi masa depan kamu. Besok aku jemput atau tidak?’
‘hmmm..liat
situasi saja dulu kalo tak memungkinkan kekost sendiri ya terpaksa aku minta
bantuanmu’
Dia
tak membalas pesan dariku. Kualihkan perhatianku ke segelas ice vanilla latte
dihadapanku yang kini tinggal setengah penuh. Jalanan sudah mulai lengang
karena malam sudah mulai larut. Aku masih enggan untuk beranjak dari kedai itu.
Ponselku berdering kembali sebuah pesan kembali memenuhi inbox.
‘masih dikedai kopi?’
'Masih belum bosan aku menikmati sabtu malam walau sendiri.’
‘sudah malam
pulang saja nanti ketempat itu lagi bersamaku ketika kita kembali kekota kita.’
Kulirik
jam dipergelangan tangan kiriku, hampir pukul 11 malam pantas saja dia
menyuruhku untuk segera pulang. Kumasukan segala isi tas yang tak sengaja aku
keluarkan semua itu kembali ketasku. Kukenakan jaket dan kuhampiri berobak yang
disulap menjadi dapur dadakan kedai kopi itu lalu kestarter motor dan menuju
arah jalan pulang dengan senyum diwajahku.
Sabtu
malam ini tak lagi menjadi sabtu malam yang sepi. Sabtu malam yang penuh senyum
karena aku tahu dia menungguku dikota itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
pohon mangga depan rumah
Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...
-
Kami sampai disebuah taman didataran tinggi dikota kami. Aku, mika dan 12 orang team asuhan mika mengadakan piknik merayakan kemenangan s...
-
Selama ini aku sering mengeluh kenapa hidup mereka lebih seru tapi setelah kudengar cerita mereka aku tersenyum aku benar-benar bersyukur de...
-
Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...
