Hari itu sabtu malam, aku
masih asik duduk didepan televisi dengan kaos oblong dan celana pendek yang
melekat ditubuhku. Adikku telah lama pergi kencan dengan gebetannya yan baru
dan aku tak akan kemana-mana karena dia tidak mengajaku pergi malam itu.
“aduh kok
masih begitu udah sana siap-siap” kata ibuku yang melihatku msih bergelung
didepan televisi
“mau
ngapain? Nggak kemana-man juga lagian ibu kenapa disini bukanya adaa tamu?”
bukannya menjawab aku malah bertanya
“kamu ini
bagaimana sih! Tuh yang didepan Awan. Dia sudah hampir satu jam ngobrol sama
ayah!” jelas Ibu. Aku kaget, dia memang sangat suka memberi kejutan yang tak
jelas. “sana siap-siap katanya mau ngajak kamu pergi” lanjut Ibu. Aku bergegas
kekamarku dan berganti baju secepat mungkin agar aku bisa segera terbebas dari
belenggu televisi yang begitu menggodaku.
Setengah jam berlalu. Aku
telah berganti dengan dress bunga-bunga selutut dankut tenteng tas yang
didalamnya kumasukan dompet, ponsel dan camera poketku yang jarang sekali
tertinggal.
“nah itu Asa..”
seru ayahku memecah konsentrasi Awan yang tengah memikirkan t=strategi untuk
mengalahkan ayahku
“eh udah
siap” kata Awan begitu melihatku. Aku hanya tersenyum
“Asa lain
kali jangan bikin orang lain nunggu, gak baik” ayah mulai menceramahiku
gara-gara membuat Awan menunggu lama
“lagian
nggak ngabarin dulu. Tapi ada untungnya jugakan? Ayah jadi punya lAwan main
catur” ayahku tersenyum begitu juga dengan Awan.
Dan disini, ditaman kota
dimana Awan melamarku, dibangku yang sama seperti dulu kami duduk. Kali ini
bukan ice cream coklat, vanilla atau strobery yang ada ditangan kami namu
segelas capuccino dan moccachino dingin yang ada dimasing-masing tangan kami.
Belum ada suara semenjak kami disini. Kami hanya menikamati suasana malam yang
penuh bintang dan sang bulan mengintip dari balik sela-sela pepohonan yang
menutupinya. Kulihat wajah Awan. Diwajahnya nampak raut keseriusan dan sebuah
kekecewaan
“aku akan
menikah” ucapnya begitu ia membuka mulut setelah sekian lama kami berada
ditaman kota
“dengan
siapa?” suaraku sedikit tercekat ada sebuah rasakaget dan kecewa menghalangi
“dengan
seorang gadis pilihan ibuku” jawabnya tenang
“seperti apa
dia? Cantik?” tanyaku sambil menyembunyikan rasa sedih dan kecewaku
“dia baru
kukenal, tak lama, dia cantik, periang, baru lulus kuliah dan langsung mendapat
kerja seperti kau. Kata sahabatnya dulu dia sangat cuek, tak ambil pusing
dengan omongan orang tentang apa yang dia pakaitapi yang kulihat dia seorang
perempuan yang cantik, anggun, bisa menempatkan diri dimanapun dia berada”
jelasnya panjang lebar seakan dia telah mengenal lama sosok perempuan itu. aku
mendengarkan dengan perasaan yang benar-benar ingin kuluapkan namun tak bisa
hanya satu pertanyaan yang ada dipikiranku “kenapa
ia melamarku jika untuk menikah dengan orang lain”
“kau tak
apa?” tanyanya begitu melihatku terdiam. Aku menjawab dengan sebuah gelengan
“kau marah?”
tanyanya kembali
“marahpun
rasanya percuma karena ku tahu kau pasti tak akan membatalkan pernikahan itu
karena aku tahu kau sangat sayang sekali dengan ibumu dan kau tak ingin membuat
ibumu kecewa” jelasku panjang
“terima
kasih utnuk waktumu selama ini” ucapnya
“selamat
semoga langgeng” aku mengulurkan tanganku. Ia menjabat tanganku singkat lalu
mengeluarkan secarik kertas yang terbungkus plastik. Kupikir itu undangan
pernikahannya
“ini untukmu
dan jaga dirimu baik-baik” ia menyerahkan undagan itu lalu beranjak dari sisiku dan pergi.
Ku pandang undangan itu .
tak ada inisial nama kedua calon pengantin hanya ada nama untuk siapa undangan
tersebut ditujukan. Ingin sekali kubuang undangan itu namun rasa penasaran
siapa gadis itu lebih mendominasi pikiranku saat itu. dengan berat hati kubuka
undanganyang didominasi warna coklat kayu. Kulihat nama calon pengantin dan aku
tak kuasa lagi menahan air mata yang sejak awal pembicaraan dimulai ingin
sekali aku tumpahkan. Aku terisak sambil memandangi undangan yang ada
ditanganku
“kau
kenapa?” kudengar suara Awan didekatku. Aku tak tau kapan ia menghampiriku lagi
“kau jahat
kenapa selalu seperti ini?”kuluapkan emosi yang tak tertahan lahi. “kenapa
selalu aku yang jadi orang terakhir yang kau beri tahu”
“karena aku
sayang kamu, aku cinta kamu, aku ingin orang tuamu menjadi orang pertama tahu
bahwa mereka mempunyai seorang perempuan secantik kamu, sepintar kamu, seanggun
kamu” katanya panjang
“Ina, Tami
dan Nay sudah tahu?”
“itu
bagianmu untuk memberi tahu mereka. Tugasku hanya memberi tahu kamu dan orang
tuamu” ia bangkit dari posisinya yang sejak tadi berlutut didepanku lalu
mengulurkan tangannya
“ayo pulang
ayah dan ibumu tak sabar mendengar cerita bagaimana reaksimu tadi” aku meraih
tangannya dan digenggamnya tanganku erat
“kenapa kau
selalu begitu?” tanyaku yang penasaran dengan dia yang selalu tak bicara pada
inti pembicaraan
“karena aku
suka melihat ekspresi kagetmu tadi seperti orang bingung yang kaget” aku
cemberut mendengar pengakuannya
“dan in aku lebih suka”
lanjutnya ”tapi lebih baik ketika kau tersenyum” aku tersenyum senang. Inilah Awan
orang yang selalu memberi kejutan dengan caranya sendiri
“kejutan apa
lagi setelah ini?”
“sepertinya
semuanya cukup sampai disini”
Ska, 3 november 2012