Selasa, 26 Februari 2013

@last

Hari itu sabtu malam, aku masih asik duduk didepan televisi dengan kaos oblong dan celana pendek yang melekat ditubuhku. Adikku telah lama pergi kencan dengan gebetannya yan baru dan aku tak akan kemana-mana karena dia tidak mengajaku pergi malam itu.
“aduh kok masih begitu udah sana siap-siap” kata ibuku yang melihatku msih bergelung didepan televisi
“mau ngapain? Nggak kemana-man juga lagian ibu kenapa disini bukanya adaa tamu?” bukannya menjawab aku malah bertanya
“kamu ini bagaimana sih! Tuh yang didepan Awan. Dia sudah hampir satu jam ngobrol sama ayah!” jelas Ibu. Aku kaget, dia memang sangat suka memberi kejutan yang tak jelas. “sana siap-siap katanya mau ngajak kamu pergi” lanjut Ibu. Aku bergegas kekamarku dan berganti baju secepat mungkin agar aku bisa segera terbebas dari belenggu televisi yang begitu menggodaku.
Setengah jam berlalu. Aku telah berganti dengan dress bunga-bunga selutut dankut tenteng tas yang didalamnya kumasukan dompet, ponsel dan camera poketku yang jarang sekali tertinggal.
“nah itu Asa..” seru ayahku memecah konsentrasi Awan yang tengah memikirkan t=strategi untuk mengalahkan ayahku
“eh udah siap” kata Awan begitu melihatku. Aku hanya tersenyum
“Asa lain kali jangan bikin orang lain nunggu, gak baik” ayah mulai menceramahiku gara-gara membuat Awan menunggu lama
“lagian nggak ngabarin dulu. Tapi ada untungnya jugakan? Ayah jadi punya lAwan main catur” ayahku tersenyum begitu juga dengan Awan.
Dan disini, ditaman kota dimana Awan melamarku, dibangku yang sama seperti dulu kami duduk. Kali ini bukan ice cream coklat, vanilla atau strobery yang ada ditangan kami namu segelas capuccino dan moccachino dingin yang ada dimasing-masing tangan kami. Belum ada suara semenjak kami disini. Kami hanya menikamati suasana malam yang penuh bintang dan sang bulan mengintip dari balik sela-sela pepohonan yang menutupinya. Kulihat wajah Awan. Diwajahnya nampak raut keseriusan dan sebuah kekecewaan
“aku akan menikah” ucapnya begitu ia membuka mulut setelah sekian lama kami berada ditaman kota
“dengan siapa?” suaraku sedikit tercekat ada sebuah rasakaget dan kecewa menghalangi
“dengan seorang gadis pilihan ibuku” jawabnya tenang
“seperti apa dia? Cantik?” tanyaku sambil menyembunyikan rasa sedih dan kecewaku
“dia baru kukenal, tak lama, dia cantik, periang, baru lulus kuliah dan langsung mendapat kerja seperti kau. Kata sahabatnya dulu dia sangat cuek, tak ambil pusing dengan omongan orang tentang apa yang dia pakaitapi yang kulihat dia seorang perempuan yang cantik, anggun, bisa menempatkan diri dimanapun dia berada” jelasnya panjang lebar seakan dia telah mengenal lama sosok perempuan itu. aku mendengarkan dengan perasaan yang benar-benar ingin kuluapkan namun tak bisa hanya satu pertanyaan yang ada dipikiranku “kenapa ia melamarku jika untuk menikah dengan orang lain”
“kau tak apa?” tanyanya begitu melihatku terdiam. Aku menjawab dengan sebuah gelengan
“kau marah?” tanyanya kembali
“marahpun rasanya percuma karena ku tahu kau pasti tak akan membatalkan pernikahan itu karena aku tahu kau sangat sayang sekali dengan ibumu dan kau tak ingin membuat ibumu kecewa” jelasku panjang
“terima kasih utnuk waktumu selama ini” ucapnya
“selamat semoga langgeng” aku mengulurkan tanganku. Ia menjabat tanganku singkat lalu mengeluarkan secarik kertas yang terbungkus plastik. Kupikir itu undangan pernikahannya
“ini untukmu dan jaga dirimu baik-baik” ia menyerahkan undagan itu lalu  beranjak dari sisiku dan pergi.
Ku pandang undangan itu . tak ada inisial nama kedua calon pengantin hanya ada nama untuk siapa undangan tersebut ditujukan. Ingin sekali kubuang undangan itu namun rasa penasaran siapa gadis itu lebih mendominasi pikiranku saat itu. dengan berat hati kubuka undanganyang didominasi warna coklat kayu. Kulihat nama calon pengantin dan aku tak kuasa lagi menahan air mata yang sejak awal pembicaraan dimulai ingin sekali aku tumpahkan. Aku terisak sambil memandangi undangan yang ada ditanganku
“kau kenapa?” kudengar suara Awan didekatku. Aku tak tau kapan ia menghampiriku lagi
“kau jahat kenapa selalu seperti ini?”kuluapkan emosi yang tak tertahan lahi. “kenapa selalu aku yang jadi orang terakhir yang kau beri tahu”
“karena aku sayang kamu, aku cinta kamu, aku ingin orang tuamu menjadi orang pertama tahu bahwa mereka mempunyai seorang perempuan secantik kamu, sepintar kamu, seanggun kamu” katanya panjang
“Ina, Tami dan Nay sudah tahu?”
“itu bagianmu untuk memberi tahu mereka. Tugasku hanya memberi tahu kamu dan orang tuamu” ia bangkit dari posisinya yang sejak tadi berlutut didepanku lalu mengulurkan tangannya
“ayo pulang ayah dan ibumu tak sabar mendengar cerita bagaimana reaksimu tadi” aku meraih tangannya dan digenggamnya tanganku erat
“kenapa kau selalu begitu?” tanyaku yang penasaran dengan dia yang selalu tak bicara pada inti pembicaraan
“karena aku suka melihat ekspresi kagetmu tadi seperti orang bingung yang kaget” aku cemberut mendengar pengakuannya
“dan in aku lebih suka” lanjutnya ”tapi lebih baik ketika kau tersenyum” aku tersenyum senang. Inilah Awan orang yang selalu memberi kejutan dengan caranya sendiri
“kejutan apa lagi setelah ini?”
“sepertinya semuanya cukup sampai disini”
Ska, 3 november 2012

Senin, 25 Februari 2013

And I'm in Love With You



Entah saat itu malam minggu atau malam jum’at mereka tak peduli. Saat itu asa dan awan tengah duduk menikmati malam disalah satu kafe di daerah ayani selatan. Keduanya masih terdiam. Asa mengaduk-aduk cola floatnya yang tak tersisa ice cream karena langsung ludes begitu minuman itu datang, sedang awan tak jauh beda dengan asa, dia mengaduk-aduk lemon squash, berusaha agar sari lemon yang ada didasar tercampur dengan soda. Setelah sekian lama akhirnya asa memulai pembicaraan
 “berharap ada seseorang bilang gini ‘I’m in love with you and all your little things’” kata asa penuh harap.
“ya udah biar aku aja” awan mengatur posisi duduk dan nafasnya seolah akan mengucapkan sesuatu yang sangat penting “I’m in love with you and all your little things”
Ekspresi asa tak berubah masih datar dan lebih terkesan kecewa.
“jangan becanda ah aku lagi serius nih” katanya sambil cemberut
“aku juga serius nggak becanda” awan tak mau kalah
“tetep nggak percaya” asa kekeh dengan pendiriannya
“mau aku ulangi biar kamu percaya?” awan berusaha meyakinkan asa bahwa dia serius
“udahlah gak usah kalau Cuma mau bikin aku seneng” asa masih tak percaya
“I’m in love with you and all yoour little things”
“udah jangan becanda, gak lucu masih lucuan shinchan walau aku udah jarang banget nonton”
“masih nganggep becanda? Yang aku bilang serius lho”
“makasih..” akhirnya asa luluh dari pada dia harus berantem dengan awan dikafe
“jadi suka nggak aku bilang gitu?”
“emang aku punya alasan untuk bilang nggak suka?”
“mana aku tahu? Seneng gak nih?”
“ya..” jawab asa singkat sambil tersenyum
“klo kamu seneng aku juga itu seneng kok klo kamu nggak ya masalah buatku...”kata awan santai. Asa hanya tersenyum
“kayaknya seneng banget nih, hayo kenapa?”
“helo cewe mana sih yang ggak seneng kalo ada cwo bilang I’m in love with you and all your little things meski bukan dari pacar.” Asa merubah ekspresinya dengan seketika
“kamu pengen punya pacar?” tanya awan
Asa hanya tersenyum lalu berkata “sudah terlalu lama sangat jomblo”
Awan hanya manggut2 lalu bertanay kembali ke asa “semisal ada yang bilang begitu dan dia suka sama kamu bagaimana?”
“ya senenglah..” asa menjawab singkat
“lalu klo orang itu bilang gini ‘kamu suka, lalu kenapa kita nggak jadian aja?’ jawabmu gaimana?”
“Ya lihat dulu siapa orangnya kalau baru kenal trus bilang gitu ya nggak maulah”
“klo itu orang udah kamu kenal seperti akulah ibaratkan apa kamu bilang iya?”
“selama aku kenal dia dengan baik dan dia baik sama aku sama mengerti aku kenapa nggak, tapi kalo kaya temanku waktu itu sih aku ogah”
“siapa? Memang siapa?”
“yang waktu itu tiba-tiba sms aku tiba-tiba juga langsung katakan cinta walau aku kenal dia sih.”
“tapi aku nggak giitu kan?”
“yaya... kamu baik dan nggak sombong tapi suka munji diri sendiri” asa tersenyum
“berarti suka dong sama aku?”
“iya karena kamu baik...”
Keduanya kmbali saling terdiam terlarut dengan apa yang ada dihadapan mereka.


curhatnya


Aku sedang sibuk dengan jejaring sosial ketika sebuah pesan masuk ke inbox ponsel
‘hay’ 
hanya tiga huruf isi pesan tersebut
‘hay juga’ 
balas aku, aku berpikir mungkin dia s ipengirim pesan sedang tak ada kerjaan
‘nggak malam mingguan sama pacar?’
pesan balasan yang aku dapat. Cukup menusuk bagiku karena diusiaku sekarang aku belum punya pacar
‘untuk sekarang cukup dengan laptop dan jejaring sosial, kamu sendiri?’
aku berkilah tak mau berbicara secara langsung jika aku sedang jomblo untuk sekarang.
‘saya jomblo jadi tak ada jadwal yang harus memaksa saya untuk malam mingguan’
aku tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh temanku ini, temanku yang satu ini memang sama sekali tak gengsi mengakui jika dia sedang jomblo
‘jadi sesama jomblo jangan saling ledek, so ada apa?’
balasku yang mulai ke inti ada apa gerangan temanku ini mengirimiku pesan
‘tak ada apa-apa, anggap saja keisengan jomblo dimalam minggu J
aku kembali tersenyum oleh temanku ini tak pernah kehabisan topik jika untuk bersms ria denganku. Aku tak langsung membalas pesan untuknya tapi mematikan laptop dan mencabut modem dan mengeluarkan kartu lalu aku masukkan ke ponsel kesayanganku
‘ ya dah klo gak da yang penting. Pulsaku habis ini nomer modemku. Asa.’
Tak sampai satu menit setelah pesan terkirim,sebuah panggilan masuk keponsel aku. Privat number tak ada keterangan siapa gerangan yang menelfon
“halo siapa ini, sekarang bukan jamanya privat number ya..” kata ku bengitu menekan tombol terima. Sebenarnya aku tahu siapa yang menelfonnya
“oh gitu ya gak kenal suaraku ok” suara disebrang sana merasa dikecewakan
“yaya aku tahu itu kamu jangan marah ya. Tumben nelfon biasane Cuma sms aja” kata aku sambil membuka buku yang sudah lama aku pending untuk dibaca
“hehee...” dia tertawa ”taulah kenapa aku nelfon alasan klise persamaan provider hahaa..” dia kembali tertawa
“itu dapat dimaklumi karena provider utamaku emang mahal. Sebenarnya ada apa nelfon” aku kembali kepokok pembicaraan ada gerangan
“ok langsung kepokok makulahnya aku mau minta maaf tentang dia yang melibatkanmu dalam urusanku dengannya”
“oo...makulah itu gak pa-pa kok mungkin resiko aku sering becandain kamu dijejaring sosial heehee..”
“tapi aku tetep aja gak enak sama kamu”
“benaran gak pa-pa kok lagian dia juga baik sama aku jadi gak mungkin aku jahat sama dia ditambah aku punya temen baru” jawabku mencoba untuk menenangkannya
“makasih oia aku boleh tahu dia ngapain aja?” aku mulai cerita semua yang terjadi antara orang yang mereka bicarakan dengan aku
“jadi dia penasaran banget tentang aku?” orang disebrang sana menarik kesimpulan
“iya banget malah.. ayo kamu harus tanggung jawab udah bikin anak orang penasaran” ledek aku. Bukan sebuah jawaban namun hanya sebuah tawa yang aku dapat
“sekarang gantian aku yang cerita” nada suarnya berubah dari awalnya yang terdengar ceria kini berubah menjadi serius dan dia mulai cerita bagaimana awalnya dia kenal dengan orang itu, kesan pertama dia berjumpa sampai akhirnya dia benar-benar dengan orang itu.
“oia dia pernah nanyain kamu lho..”
“hey aku tahu dia beberapa minggu yang lalu”
“iya, dia tanya ke aku gini ‘siapa asa? Pacar kamu?” jelasnya. Aku tertawa kaget kenapa sampai orang itu seperti ada kesan cemburu yang tertutupi
“ya bilang kamu temen aku tapi dia masih gak percaya dia malah tanya lagi aku suka sama kamu aku jawab iya suka karena kamu teman aku kita kan udah temenan dari lama lagian klo gak suka mana mungkin aku bakalan mau sms kamu telfon kamu nanggepin becandaan kamu yang kadang bikin kesel“ aku tertawa begitu mendengar kalimat terkahir yang dilontarkan temannya itu
“tenang aja ini bukan untuk pertama kalinya buat aku disangka pacar orang kok jadi santai saja selama sesuai dengan kenyataan tak masalah buatku. Hmm mungkin waktu dia tanya aku temen kamu atau pacar kamu trus aku bilang aku ini pacar kamu pasti bakalan rame yah kamu pasti dikejar-kejar sama temen-temen dia” aku tertawa, dia suka sekali bercanda dengan temannya yang satu ini
“kamu ini gitu banget sih, tapi satu yang gak aku suka kenapa selama aku deket dia selalu cerita sedih  diginiin temene digituin pacarelah pokoknya gak pernah cerita seneng”
“berarti dia nganggap kamu itu istimewa bisa jadi tempat berbagi susah tahu cwe nemuin tempat curhat apalagi buat cerita yang sedih-sedih” jelasku
“tapi kenapa sekarang dia menghindar dari aku, aku telfon tak diangkat lalu aku coba pake nomer lain pasti diangkat tapi langsung mati begitu dengar suaraku apa aku ini emang nakutin?” dia mencoba mencari penjelakun
“iya kamu nakutin aku dulu aja gak berani ngomong sama kamu” aku tertawa lalu melanjutkan lagi bicaraku “cwe itu sukanya cerita kesiapa aja lagi deket sama orang diceritain ketemen-temene, lah mungkin dia cerita dan teman-temannya nagsih saran lalu dia menarik kesimpulan dengan menjauhi kamu itu bisa saja tapi saranku coba terus hubungi dia jangan berhenti setelah kamu tahu orangnya seperti apa” aku menyarankan begitu
“ribet jadi pengen balik lagi kemaku SMA walaupun ketemu orang-orang yang sama tapi pasti punya cerita berbeda setiap harinya”
“iya benar aku juga sering banget pengen balik kemaku SMA dulu”
Obralan kini berubah topik menjadi reuni dadakan via telepon mengenang masa-masa sekaloh dulu
“makasih udah mau ndengerin penjelasanku sama makasih udah jadi teman berbagi kenangan waktu SMA”
“iya sama-sama mungkin itu resiko jadi orang yang suka ngisengin kamu” aku tertawa menandakan aku hanya bercanda
“udah malam barangkali kamu mau tidur”
“akhirnya kamu ngerti juga dari tadi udah ngantuk banget”
“ya udah selamat tidur jangan lupa mimpiin aku”
“yang ada kamu yang mimpiin aku karena selalu terbanyang dengan suaraku yang seksi dan wajahku yang manis ini” aku tertawa rasanya menyenangkan sekali menggoda dia.

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...