Kamis, 07 September 2017

pohon mangga depan rumah


Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena sudah beberapa kali dimusim penghujan tahun ini, air hujan yang dulu tak sampai teras rumah kini sudah muali masuk rumah. Ini terjadi semenjak peninggian jalan depan rumah yang tak dibarengi dengan perbaikan selokan yang mulai menyempit ditambah selokan disebrang jalan yang mulai terbendung
"Ditinggiin brapa cm yah?" Aku yang selalu penasaran dengan apa yang ayahku lakukan tak melewatkan kesempatan "10cm, nanti halaman sekalian biar sehabis banjir gak ada lumpur" "Nanti pinggir dikasih resapan air pake kerikil kecil gitu" usulku "Dan nanti skalian ini pohon ditebang aja, udah terlalu tua, terlalu besar juga klo ada angin bahaya" lanjut ayah menanggapi usulanku
Aku mendengar perkataan ayah hanya diam, ada rasa gak rela, pohon mangga terenak yang pernah makan akan tak ada lagi jejaknya.

Belasan tahun yang lalu, ya belasan tahun yang lalu sebelum aku mendapat sepeda pertamaku, Saat pohon mangga depan rumah masih sangat rindang dan sepenggal kisah lucu itu terjadi. Aku masih kecil entah usia berapa aku saat itu. Pohon mangga depan rumah berbuah lebat, pohon mangga yg usianya jauh lebih tua dari umurku atau mungkin lebih tua dari ayahku. Seperti anak kecil lainya, aku yang selalu pergi bermain sepulang sekolahdan pualng disore harinya. Namun hari itu ditengah permainnya ibu memanggilku atau aku yang pulang sendiri aku tak terlalu ingat yang selalu aku ingat aku menangis sejadi2nya melihat pohon mangga didepan rumah yang tengah berbuah lebat ditebas buahnya, bahasa lainnya dijual begitulah. Aku menangis sampai mengancam akan membunuh tukang tebasnya, bisa dibayangkan bagaimana marahnya aku saat itu sampai akhirnya aku capek menangis dan diungsikan ke pasar ke tempat neneku berjualan waktu itu dan akhirnya esok paginya aku mendapat sepeda pertamaku, sepeda warna ungu yang sampai sekarang masih tersimpan meski ada digudang, ibu tak berani menjual sepeda pertamaku mungkin takut melihat aku yang menangis histeris tak rela mangga paling enak dari semua mangga yang pernah aku makan sampai saat ini dijual.

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...