Jumat, 17 Januari 2014

Hujan

Sudah 10 menit asa memandang kearah luar dari beranda lanatai dua rumahnya. Tangan nya terlipat didadanya berusaha agar badannya tetap hangat dari hawa dingin akibat cuaca yang kurang mendukung. Asa selalu kesal ketika hujan turun, bukan karena cucian yang tak akan kering dengan cepat atau bukan karena ada air dimana
“sudahlah jangan kesal terus” awan menghampiri asa dan menyodorkan segelas teh hangat kepada asa. Asa menerimanya dan dengan segera ia menangkupkan kedua telapak tangannya di mug yang hangat itu
“aki bukan kesal tapi aku hanya tak suka ketika hujan” jelas asa lalu menyeruput teh hangatnya
“pembelaan yang sama. Dari kenal kamu dulu sampai sekarang kamu tuh selalu kesal ketika hujan, kenapa?” tanya awan yang belum tahu kenapa asa tak suka akan hujan
“hujan itu tak menyenangkan” jawab asa singkat
“kenapa?” awan kembali penasaran
“semuanya basah air dimana-mana, dingin, semuanya serba repot, semuanya terhambat dan tak ada matahari ketika hujan” jelas
“oo hanya kerena semua itu kamu tak suka hujan” awan kembali menimpali jawaban asa tanpa lepas pandangannya dari hujan yang mengguyur rumah mereka
“bukan hanya itu karena hujan aku tak bisa menikmati matahari aku tak bebas berjalan diluar semauku” tambah asa
“tak selamanya hujan itu tak indah, bagi sebagian mereka dapat menghasilkan sesuatu ketika hujan katanya suara tetesan air dapat membuat pikiran tenang” jelas aawan
“itu bagi orang lain kalau bagiku beda” sanggah asa “jika disuruh memilih lebih baik mana hujan atau hari penuh dengan matahari?”
“yang jelas kau akan memilih hari yang penuh akan matahari” awan melirik asa dan asa mengangguk “aku lebih memilih hujan karena..” awan tak melanjutkan perkataannya. Ia menarik tangan asa menuju sofa yang menghadap keluar, kearah hujan yang masih setia membasahi bumi, lalu duduk disana “karena aku bisa menikmati lebih banyak waktu bersamamu. Berdua bersamamu tanpa ada yang lain tanpa hingar bingar hanya ada kamu aku dan ketenangan” lanjut awan yang disambut senyum dari asa.

Pemalang, 18 januari 2014
Rindu akan hangat mentari

Rabu, 15 Januari 2014

Kau yg numpang singgah

kau, kau yang sempat singgah untuk beberapa waktu ditahun yang lalu, terima kasih untuk semua obrolan kita
waktu itu. terhitung singkat memang namun mempunyai makna tersendiri yang terkadang membuatku terpojok
oleh apapun yang kita bicarakan, aku juga tak mengerti kenapa sampai seperti itu mungkin karena aku terlalu terbawa akan suasana obrolan kita.

kini, aku mulai berbenah setelah obrolan kita selesai dan kau mulai lagi melanjutkan pencarian. aku berbenah
untuk siapa saja yang akan mampir singgah ditempatku untuk ngobrol sambil minum teh dan menikmati peralihan yang penuh akan jingga.

selamat jalan, semoga kau berhasil dalam pencarianmu. tetap ingat untuk sesekali berhenti karena ada pemberhentian dalam setiap pencarian kau bisa duduk sejenak menikmati pagi dengan secangkir kopi ditempat singgahmu yang lain atau kau bisa datang dipersinggahanku jika kau mau karena aku akan selalu menerimamu dengan senang hati.

ska, 8 januari 2014
ingat ada pemberhentian dalam pencarian

Semua seimbang

mungkin tak banyak orang yang mengalami yang aku alami, 3x hari yang seimbang, bukan hari yang selalu sial atau hari yang selalu beruntung tapi benar2 hari yang seimbang antara keduanya.

hari pertama, aku pikir hari itu sial, aku dan temanku pergi kesebuah biaskop disalah satu mall untung mendapatkan voucher gratis nonton. kami berangkat
menerjang gerimis yang tak kunjung henti dari pagi dan mengantri cukup lama namun kami keabisan voucher tapi
ternyata tidak aku mendapatkan apa yang aku cari untuk kado ibuku kami mendapat kesempatan untuk menikmati
waktu promosi salah satu fastfood dan kami juga berkesempatan bagaimana para penggiat sekaten mempersiapkan semua peralatan yang diperlukan untuk
memeriahkan acara itu.

hari kedua, berbekal poin dari salah satu provaider ponselku aku mencoba lagi ketempat yang sama, kali ini dengan mudahnya kami mendapat voucher nonton, tak perlu mengantri panjang seperti sebelumnya. hari yang beruntung? ternyata tidak. kami kehabisan bus dan angkutan kota, kami harus berjalan jauh untuk mendapatkan taksi yang lebih murah dibandingkan
ditempat kami nonton.

hari ketiga, kami kembali berniatan untuk nonton lagi kali ini kami tak mengandalkan voucher gratisan lagi karena film yang akan kami tonton tidak masuk syarat yang diperbolehkan oleh voucher nonton, namun film yang akan kami tonton telah tergusur dari list pemutaran, sial tidak juga, kami malah menonton film dengan setting sebagian besar dikota paling romantis, paris, katanya.

semuanya seimbang tak ada yang lebih disalah satu sisi dan ada makna dibalik semuanya seperti hari pertama kami mengerti bagaimana harus berjuang demi kehidupan. hari kedua kami diberi kesempatan untuk menikmati suasana malam, mulai dari sepi ramai dan sepi
lagi. dan dihari ketiga kami diberi kesempatan agar orang lain berbuat kebaikan ketika dengan tak sengaja aku meninggalkan roti untuk ulang tahun temanku disalah satu halte bis kota dan dengan baik hatinya penjaga itu
mengantarkan roti itu untuk kami serta kami juga diberi waktu untuk menikmati senja dengan jingganya dan lalulalang lalu lintas sore itu.

Berhenti jadi dia

raut wajahnya tak berubah semenjak perdebatan terakhir mereka, awan masih dengan emosinya yang sebisa ditahan agar tak meledak ditempat mereka berada sedang asa masih tertunduk menahan tangis agar tak tertumpah, asa tak suka situasi seperti ini, sangat menakutkan, ekspresi awan yang seperti ini selalu membuat asa takut untuk menatap mata awan yang selalu ia suka karena dari sana asa bisa melihat keteduhan yang menenangkan
"sudah aku bilang jangan samakan aku dengan tokoh dalam khayalanmu itu" awan sedikit meledak. asa masih terdiam. awan menarik nafas dan menghembuskan dengan berat
"aku hanya berkata sekali kalau kau semakin mirip dengan tokoh khayalanku, hanya sekali" bela asa
"tapi tetap saja kau menyamakan aku dengan awan tokoh khayalanmu itu lagi pula apa sih romantisnya?"
"khayalanku selalu punya cara sendiri dalam memberi kejutan ke perempuannya" asa kembali membela sendiri, asa paham tak bisa ia melawan awan dalam keadaan yang seperti ini
"jadi kau ingin aku ingin aku seperti awan dikhayalanmu itu?" tantang awan
"tidak karena aku yakin setiap orang punya sisi romantisnya sendiri begitupun kau"
"jadi kalu begitu jangan samakan aku dengan dia kami beda" ucapnya tegas. kali ini giliran asa yang menarik nafas panjang. raut wajah asa berubah seperti ribuan keberanian datang seketika dalam dirinya
"kalau kau tak mau aku samakan dengan awan khayalanku berhenti berlaku seperti dia karena aku telah memberimu semua tulisanku" kata asa dengan sedikit emosi lalu pergi beranjak dari hadapan awan.

pemalang, 15 januari 2014
awan, berhentilah menangis dan coba tersenyum agar semua orng tahu bagaimana hangatnya dirimu

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...