raut wajahnya tak berubah semenjak perdebatan terakhir mereka, awan masih dengan emosinya yang sebisa ditahan agar tak meledak ditempat mereka berada sedang asa masih tertunduk menahan tangis agar tak tertumpah, asa tak suka situasi seperti ini, sangat menakutkan, ekspresi awan yang seperti ini selalu membuat asa takut untuk menatap mata awan yang selalu ia suka karena dari sana asa bisa melihat keteduhan yang menenangkan
"sudah aku bilang jangan samakan aku dengan tokoh dalam khayalanmu itu" awan sedikit meledak. asa masih terdiam. awan menarik nafas dan menghembuskan dengan berat
"aku hanya berkata sekali kalau kau semakin mirip dengan tokoh khayalanku, hanya sekali" bela asa
"tapi tetap saja kau menyamakan aku dengan awan tokoh khayalanmu itu lagi pula apa sih romantisnya?"
"khayalanku selalu punya cara sendiri dalam memberi kejutan ke perempuannya" asa kembali membela sendiri, asa paham tak bisa ia melawan awan dalam keadaan yang seperti ini
"jadi kau ingin aku ingin aku seperti awan dikhayalanmu itu?" tantang awan
"tidak karena aku yakin setiap orang punya sisi romantisnya sendiri begitupun kau"
"jadi kalu begitu jangan samakan aku dengan dia kami beda" ucapnya tegas. kali ini giliran asa yang menarik nafas panjang. raut wajah asa berubah seperti ribuan keberanian datang seketika dalam dirinya
"kalau kau tak mau aku samakan dengan awan khayalanku berhenti berlaku seperti dia karena aku telah memberimu semua tulisanku" kata asa dengan sedikit emosi lalu pergi beranjak dari hadapan awan.
pemalang, 15 januari 2014
awan, berhentilah menangis dan coba tersenyum agar semua orng tahu bagaimana hangatnya dirimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar