aku masih sibuk dengan komik yang baru aku beli tadi siang ketika ara, kembaranku masuk kekamarku dan mulai menjelajah setiap sudut. Aku biarkan dia karena itu kebiasaannya setiap dia datang kekamarku mungkin meneliti apa yang berubah dari area yang bisa dibilang pribadi bagi orang lain namun bukan untuk kami berdua. Aku masih asik dengan komik ditanganku ketika ara mulai menempatkan diri disampingku dan mulai membajak laptopku, aku biarkan, mungkin dia hanya ingin meminjam laptopku yang penuh dengan games atau mungkin ingin menumpang membuka jejaring sosial atau mungkin dia kesal karena dari tadi aku diam tak mengajaknya bicara. Aku masih sibuk dengan komiku kali ini dengan judul yang berbeda sedang ara semakin asik dengan jejaring sosialnya ya karena sewaktu aku menaruh dan mengambil komik yang baru aku sempat melihat ia membuka jejaring sosial yang punya warna khas biru mudanya. Ini salah satu cara kami menghabiskan waktu berdua, kumpul berdua dengan kesibukan masing-masing tanpa saling mengangu kecuali salah satu dari kami sedang ingin benar-benar sendiri. Aku mengubah posisiku menjadi telungkup disamping ara yang sibuk bercekikik ria dengan teman dijejaring sosial namu tiba-tiba saja ia berteriak seperti orang kesurupan
“maaaamiiiiiiiii.....” teriaknya tanpa ada sebab yang jelas yang aku ketahui dan tak lama mami membuka pintu kamarku
“kenapa ra? Dijahilin kakakmu lagi?” tanya mami yang hany berdiri di ambang pintu kamarku
“enak aja asa dari tadi baca komik gak ngapa-ngapain ara mih” aku membela diriku karena memang itu adanya, aku tak menjahili ara seperti biasanya
“gak pa-pa kolk mih Cuma kaget aja” jelasnya sambil tersenyum seperti tak bersalah
“mami kira ada apa-apa” kata mami lalu menutup pintu kamarku
‘lain kali klo kaget jangan lebay gitu” tegurku sambil melemparinya bantal berbentuk kepala kodok
“iya bawel” jawabnya dan kami kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Tak ada obrolan yang terlontar dari kami berdua hanya kikik ara yang terdengar sampai aku mengganti komik dengan judul baru. Aku beranjak dari sis ara sedang ara mengganti posisinya menjadi duduk bersila didepan laptop yang berada ditempat tidurku
“asa ternyata selama ini kamu tuh” katanya sambil geleng-geleng. Aku tak mengerti apa yang dia maksud
“maksudnya?” aku mencoba meminta penjelasan darinya
“aku setuju kamu dengan dia. Aku orang pertama yang akan paling bahagia jika kamu jadi sama dia” aku semakin tak mengerti. Kami memang kembar tapi kami tak bisa menebak isi kepala dari kembaran kami karena kami bukan kembar identik walau kami ini sama-sama perempuan. Ara putih sedang aku coklat terang. Ara berambut lurus, rambutku berombak. Tinggi kami berbeda, aku lebih tinggi dari dia dan hanya satu yang sama dari kami, kami sama-sama memiliki badan yang bisa dibilang langsing, kami sama-sama cuek, sama-sama suka memakai apa yang kami mau tapi kami saling perhatian dan saling menggantikan tempat jika salah satu dari kami berhalangan. Ara pernah menggantikanku bertanding basket ketika aku sedang mengalami dismenore dan aku juga pernah menggantikanya dalam ajang emilihan model yang dia ikuti gara-gara kakinya keseleo ketika menggantikanku tanding basket. Dan itulah kami.
“aku gak ngerti maksud kamu apa, cerewet” kataku dengan panggilan khasku untuknya karena dia lebih cerewet dibanding aku
“aku stuju punya kakak ipar sperti awan” tambahnya yang membuatkubingung namun satu kata dari ucapannya yang menarik bagiku untuk dibahas lebih lanjut
“awan yang mana yang kelasnya disebelah atau awan yang lain skoalh kita banyak yang namanya awan” aku mulai curiga dengan apa yang diucapkannya dan aku mencoba berkilah
“yang kelasnya dibawahku” ucapnya dan pikiranku saling tertuju dengan awan yang dimaksud oleh ara
“aku tak ada apa denganya dia Cuma temanku dimajalah sekolah” aku mencoba menjelaskan smua yang ada sebelum ara mengatakan semuanya padaku
“tapi tidak untuk besok dan seterusnya. Dan nanti malam kita double date, aku sama awanku, kamu sama awanmu” katanya santai dan bersiap pergi
“kamu jadian sama awan kelas sebelah?” tanyaku kaget. Dia tak menjawab hanya berlalu didepanku begitu saja dari kamarku
“jangan lupa nanti malam jam 7” katanya lalu menutup pintu kamarku. Aku mulai curiga apa yang telah dia lakukan dengan segera aku mengecek laptopku. Pikiranku langsung tertuju pada laptop kerena sewaktu ara kekamarku aku belum menutup jejaring sosial punyaku dan curigaku benar asa telah mengobrak – abrik jejaring sosial milikku tapi tentu saja bukan seperti yang hacker lakukan dan tiba saja nada peringatan berbunyi sebuah pesan pribadi masuk dari awan yang dimaksud oleh ara.
‘jangan lupa nanti malam jam 7 nanti aku jemput see you’ dia langsung offline sebelum aku sempat membalasnya. Aku semakin curiga dengan apa yang dilakukan ara. Aku membuka link pesan pribadi dan membuka pesan dari awan agar semua pesan yang saling terkirim terpampang semuanya
'hey kok gak dibales? Marah yah?’
'gak marah kok tadi habis dari kamar mandi'
'Oalah tak kira marah hmm... mumpung kamu online aku mau tanya apa?'
'Apa pendapat kamu klo ada orang nyatakan cinta lewat sebuah media mungkin sms telfon chating ato lainya intinya gak langsung ketemu?'
'Apa salahnya bukannya smuanya itu membantu mempersingkat jarak masalh tak ketemu itu sebuah kekurangan tapi yang terpenting kedua belah pihak uadah tahu satu sama'
'Ooo.. jd tak masalah bwt kamu '
'nggak :)'
'Ok deh klo gitu... lihat pemberitahuan komfirm klo iya klo gak biarkan saja'
Aku membuka profilku dan betapa kagetnya aku sebuah pernyataan terbaru
Asa hope mengganti status hubungan dari “lajang” menjadi “berpacaran dengan "cloud cloudy”
Dan kontan saja aku berteriak kesal
“aaaaaaaaarrrrraaaaaaaaaaaa............”
Ps: terima kasih buat RWU satu dari sekian banyak sahabatku yang telah memberiku inspirasi