Kamis, 27 September 2012

Proposal


Proposal
Malam itu aku duduk dengan awan disalah satu bangku ditaman kota. Awan bukanlah orang baru dalam kehidupanku. Dia sudah 18 bulan menemani hari-hariku walau harus dengan sebuah media yang memperingkat jarak dan waktu. Dia sebenarnya kawan lama, rekan kerja saat kami masih menjadi anak sekolahan. Dia pendiam dan penyendiri sama sepertiku namun itu mulai berubah ketika kami mulai intens berkomunikasi, walau terkadang dia masih suka irit dalam berbicara.
“cewe tuh ribet yah!” komentnya sambil menyendokan ice cream coklat kemulutnya
“nggak ah! Biasa aja tuh!” aku menyangkalnya karena aku ini perempuan
“tuh buktinya mesti ada acara bikin pipi, bibir, sama mata dimerah-merah segala ditambah tuh sepatu yang bikin jalan kaya keong aja kenapa nggakpake egrang aja sekalia!” sindirnya tepat sasaran. Malam itu memang aku berdadan ekstra ini juga karena dia yang mengajaku keacara pernikahan sepupunya.
“ini biasa kalau keacara formal” protesku
“tapikan bisa lebih simpelbiar nggak bikin orang nunggu lama” dia mengungkapkan penyebab dia menyindirku
“salahmu dateng kecepetan” aku tak mau disalahkan
“kamu tuh yang dandannya lama! Aku udah dateng mepet masih aja nunggu kamu!” dia tak mau kalah
“helo kamu mau gandeng cewe jelek didepan keluarga besar kamu?” aku tak memberi jawaban namun pertanyaan agar dia mengerti kenapa dia harus menunggu. Dia terdiam tak ada jawaban darinya.
“sepertinya seru kalau hidupku seperti di film” aku memecah suasana hening yang tercipta diantara kami.
“hei kamu nglindur?” dia menggoyang bahuku mencoba membangunkanku yang tak tertidur
“enak aja aku masih sadar ya..”
“kayaknya cewe punya hobi mengkhayal yah?” tanyanya
“emang “ jawabku ” hampir semua perempuan mempunyai khayalan yang sama. Selalu pingin punya cowo ganteng, alim, tajir. Pengen ketempat yang romantis. Pingin dilamar di tempat yang indah banget. Pingin dipernikahanya diiringi lagu romantis yang terkenal sepanjang masa dan pingin selalu bahagia”jelasku panjang lebar sampai-sampai aku tak sadar ada awan disampingku
“ah pasti itu khayalamu  saja kan?”
“kalau tak percaya tanya setiap perempuan yang ada di sini. Kalau aku pingin dilamar ditaman penuh dengan bunga pas malam hari yang penuh bintang sepertinya seru  deh” jawabku “oia satu lagi aku pengen punya suami yang nggak ngelarang aku buat kerja”
“aku ngebolehin kamu kerja tapi nggak boleh lebih dari jam kerja aku jadi setiap aku pulang kerja ada yang menyambutku dirumah”
“maksudnya?” aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan. Kulihat raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. Bungkus ice cream kini sudah berpindah tempat ke kotak sampah yang kebetulan ada disamping bangku yang kami duduki. Dia meraih tanganku dan digenggamnya. Ditatapnya mataku dalam-dalam.
“aku mau kau jadi istriku, jadi ibu dari anak-anaku nanti dan jadi ratu di istanaku kelak” katanya mantap
“tapi aku masih kuliah belum lulus lagian aku juga mau kerja dulu “ ujarku memberi pendapat
“kita nikah nggak sekarang tiga atau empat tahun lagi dan kamu boleh kerja seperti yang aku bilang tadi”ujarnya meyakinkan.
“kalau gitu aku mau”jawabku singkat. Dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah cincin dan menyematkan cincin itu dijari manisku.kulihat cincin perak atau emas putih atau monel aku tak tahu dari apa cincin itu terbuat yang jelas cincin itu melingkar cantik dijari manisku.
“ayo pulang, aku harus memberi tahu orang rumah dengan berita bahagia ini” kataku semangat sambil beranjak meninggalkan awa.
“nanti saja.., kita jalan-jalan dulu lagi pula ayahmu sudah mengetahuinya”katanya sambil mendahuluiku. Aku bengong dengan apa yang dia ucapkan dan berfikir kejutan apa lagi yang akan di berikan setelah ini.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...