Proposal
Malam
itu aku duduk dengan awan disalah satu bangku ditaman kota. Awan bukanlah orang
baru dalam kehidupanku. Dia sudah 18 bulan menemani hari-hariku walau harus
dengan sebuah media yang memperingkat jarak dan waktu. Dia sebenarnya kawan
lama, rekan kerja saat kami masih menjadi anak sekolahan. Dia pendiam dan
penyendiri sama sepertiku namun itu mulai berubah ketika kami mulai intens
berkomunikasi, walau terkadang dia masih suka irit dalam berbicara.
“cewe tuh ribet yah!” komentnya sambil menyendokan ice cream
coklat kemulutnya
“nggak ah! Biasa aja tuh!” aku menyangkalnya karena aku ini
perempuan
“tuh buktinya mesti ada acara bikin pipi, bibir, sama mata
dimerah-merah segala ditambah tuh sepatu yang bikin jalan kaya keong aja kenapa
nggakpake egrang aja sekalia!” sindirnya tepat sasaran. Malam itu memang aku
berdadan ekstra ini juga karena dia yang mengajaku keacara pernikahan
sepupunya.
“ini biasa kalau keacara formal” protesku
“tapikan bisa lebih simpelbiar nggak bikin orang nunggu
lama” dia mengungkapkan penyebab dia menyindirku
“salahmu dateng kecepetan” aku tak mau disalahkan
“kamu tuh yang dandannya lama! Aku udah dateng mepet masih
aja nunggu kamu!” dia tak mau kalah
“helo kamu mau gandeng cewe jelek didepan keluarga besar
kamu?” aku tak memberi jawaban namun pertanyaan agar dia mengerti kenapa dia
harus menunggu. Dia terdiam tak ada jawaban darinya.
“sepertinya seru kalau hidupku seperti di film” aku memecah
suasana hening yang tercipta diantara kami.
“hei kamu nglindur?” dia menggoyang bahuku mencoba
membangunkanku yang tak tertidur
“enak aja aku masih sadar ya..”
“kayaknya cewe punya hobi mengkhayal yah?” tanyanya
“emang “ jawabku ” hampir semua perempuan mempunyai khayalan
yang sama. Selalu pingin punya cowo ganteng, alim, tajir. Pengen ketempat yang
romantis. Pingin dilamar di tempat yang indah banget. Pingin dipernikahanya
diiringi lagu romantis yang terkenal sepanjang masa dan pingin selalu
bahagia”jelasku panjang lebar sampai-sampai aku tak sadar ada awan disampingku
“ah pasti itu khayalamu
saja kan?”
“kalau tak percaya tanya setiap perempuan yang ada di sini.
Kalau aku pingin dilamar ditaman penuh dengan bunga pas malam hari yang penuh
bintang sepertinya seru deh” jawabku
“oia satu lagi aku pengen punya suami yang nggak ngelarang aku buat kerja”
“aku ngebolehin kamu kerja tapi nggak boleh lebih dari jam
kerja aku jadi setiap aku pulang kerja ada yang menyambutku dirumah”
“maksudnya?” aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan.
Kulihat raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. Bungkus ice cream kini
sudah berpindah tempat ke kotak sampah yang kebetulan ada disamping bangku yang
kami duduki. Dia meraih tanganku dan digenggamnya. Ditatapnya mataku
dalam-dalam.
“aku mau kau jadi istriku, jadi ibu dari anak-anaku nanti
dan jadi ratu di istanaku kelak” katanya mantap
“tapi aku masih kuliah belum lulus lagian aku juga mau kerja
dulu “ ujarku memberi pendapat
“kita nikah nggak sekarang tiga atau empat tahun lagi dan
kamu boleh kerja seperti yang aku bilang tadi”ujarnya meyakinkan.
“kalau gitu aku mau”jawabku singkat. Dia merogoh saku jasnya
dan mengeluarkan sebuah cincin dan menyematkan cincin itu dijari
manisku.kulihat cincin perak atau emas putih atau monel aku tak tahu dari apa
cincin itu terbuat yang jelas cincin itu melingkar cantik dijari manisku.
“ayo pulang, aku harus memberi tahu orang rumah dengan
berita bahagia ini” kataku semangat sambil beranjak meninggalkan awa.
“nanti saja.., kita jalan-jalan dulu lagi pula ayahmu sudah
mengetahuinya”katanya sambil mendahuluiku. Aku bengong dengan apa yang dia
ucapkan dan berfikir kejutan apa lagi yang akan di berikan setelah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar