Senin, 03 September 2012

Sabtu malam dikedai kopi


Sabtu malam dikedai kopi
Sabtu malam sebelum hari keberangkatanku. Aku pergi menenangkan diri bukan kaarena dia yang pergi meninggalkanku sendiri dikota ini namun aku hanya menikmati suasana kotaku saat sabtu malam. Akhirnya aku duduk disebuah hamapran tikar dikedai kopi yang ada disalah satu emperan toko dikota ini. Kedai ini kedai kopi pertama dan terramai dikotaku. Pengunjungnya hampir dari segala kalangan namun umumnya anak muda yang memang benar-benar suka akan kopi atau hanya mengikuti tuntutan gaya hidup saja. kupesan iced vanilla latte dan otak-otak goreng setelah bimbang apa yang harus kutuliskan pada kertas kosong yang disodorkan oleh penjual. Jalanan sangat ramai berbanding terbalik dengan diriku yang sedang merindukan dia. Aku kembali teringat kenangan aku dan dia saat dikedai ini. Sebelumya aku tak pernah sendiriketika kedai ini  dia atau sahabatku selalu menemaniku. Jika dikedai ini dia selalu mmemesan mocchacino entah itu panas atau dingin yang penting baginya dia mendapatkan dua hal yang dia suka yaitu kopi dan coklat.
Malam semakin larut, meja disbelah kanan semakin ramai dengan obrolan khas anak muda dan aku semakin sendiri. Aku benar-benar sendiri. Semua pengunjung datang dengan pasukan masing-masing berbeda denganku yang datang dengan diriku sendiri.
Dering ponsel menghentikan kegiatanku mengaduk-aduk iced vanilla latte dihadapanku. Sebuah pesan datang dari dia yang berada diluar kota sana.
Hai sedang apa?
Aku tersenyum membaca pesan daarinya walau ia tak menyapa dengan sapaan khasnya
‘lagi ngopi dikedai kopi biasa’
kutulis pesan balasan untuknya. Tak lebih dari 5 menit pesan kembali memasuki inbox ponselku
sama siapa?  Sama nay atau sendiri?  Aku kangen mocchacino tempat itu walau tak seenak buatanmu
kukembali tersenyum oleh pujian yang berikan. Dia selalu menganggap mocchacino buatanku selalu yang terenak entah itu terlalu pahit atau terlalu manis.
‘sendiri, nay tak bisa menemani, kau sedang apa?’
‘bbq sama anak-anak diatap kontrakan tapi kurang lengkap tak ada kau disini’
‘sama sepertiku tak lengkap tak ada kau. Aku rindu minum kopi bersamamu dikedai ini’
‘i miss you so much. Jadi berangkat besok? Sudah packing?’
‘iya. Aku malas packing klo untuk kekota itu.’
‘jangan begitu, semua demi masa depan kamu. Besok aku jemput atau tidak?’
‘hmmm..liat situasi saja dulu kalo tak memungkinkan kekost sendiri ya terpaksa aku minta bantuanmu’
Dia tak membalas pesan dariku. Kualihkan perhatianku ke segelas ice vanilla latte dihadapanku yang kini tinggal setengah penuh. Jalanan sudah mulai lengang karena malam sudah mulai larut. Aku masih enggan untuk beranjak dari kedai itu. Ponselku berdering kembali sebuah pesan kembali memenuhi inbox.
‘masih dikedai kopi?’
'Masih belum bosan aku menikmati sabtu malam walau sendiri.’
‘sudah malam pulang saja nanti ketempat itu lagi bersamaku ketika kita kembali kekota kita.’
Kulirik jam dipergelangan tangan kiriku, hampir pukul 11 malam pantas saja dia menyuruhku untuk segera pulang. Kumasukan segala isi tas yang tak sengaja aku keluarkan semua itu kembali ketasku. Kukenakan jaket dan kuhampiri berobak yang disulap menjadi dapur dadakan kedai kopi itu lalu kestarter motor dan menuju arah jalan pulang dengan senyum diwajahku.
Sabtu malam ini tak lagi menjadi sabtu malam yang sepi. Sabtu malam yang penuh senyum karena aku tahu dia menungguku dikota itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...