Sabtu malam dikedai kopi
Sabtu malam sebelum hari keberangkatanku. Aku
pergi menenangkan diri bukan kaarena dia yang pergi meninggalkanku sendiri
dikota ini namun aku hanya menikmati suasana kotaku saat sabtu malam. Akhirnya
aku duduk disebuah hamapran tikar dikedai kopi yang ada disalah satu emperan
toko dikota ini. Kedai ini kedai kopi pertama dan terramai dikotaku.
Pengunjungnya hampir dari segala kalangan namun umumnya anak muda yang memang
benar-benar suka akan kopi atau hanya mengikuti tuntutan gaya hidup saja.
kupesan iced vanilla latte dan otak-otak goreng setelah bimbang apa yang harus
kutuliskan pada kertas kosong yang disodorkan oleh penjual. Jalanan sangat
ramai berbanding terbalik dengan diriku yang sedang merindukan dia. Aku kembali
teringat kenangan aku dan dia saat dikedai ini. Sebelumya aku tak pernah
sendiriketika kedai ini dia atau sahabatku
selalu menemaniku. Jika dikedai ini dia selalu mmemesan mocchacino entah itu
panas atau dingin yang penting baginya dia mendapatkan dua hal yang dia suka
yaitu kopi dan coklat.
Malam semakin larut, meja disbelah kanan
semakin ramai dengan obrolan khas anak muda dan aku semakin sendiri. Aku
benar-benar sendiri. Semua pengunjung datang dengan pasukan masing-masing
berbeda denganku yang datang dengan diriku sendiri.
Dering ponsel menghentikan kegiatanku
mengaduk-aduk iced vanilla latte dihadapanku. Sebuah pesan datang dari dia yang
berada diluar kota sana.
Hai sedang apa?
Aku tersenyum membaca pesan daarinya walau ia
tak menyapa dengan sapaan khasnya
‘lagi ngopi dikedai kopi biasa’
kutulis pesan balasan untuknya. Tak lebih
dari 5 menit pesan kembali memasuki inbox ponselku
sama siapa? Sama nay atau sendiri? Aku kangen mocchacino tempat itu walau tak
seenak buatanmu
kukembali tersenyum oleh pujian yang berikan.
Dia selalu menganggap mocchacino buatanku selalu yang terenak entah itu terlalu
pahit atau terlalu manis.
‘sendiri, nay tak bisa menemani, kau sedang
apa?’
‘bbq sama anak-anak diatap kontrakan tapi
kurang lengkap tak ada kau disini’
‘sama sepertiku
tak lengkap tak ada kau. Aku rindu minum kopi bersamamu dikedai ini’
‘i miss you so
much. Jadi berangkat besok? Sudah packing?’
‘iya. Aku malas
packing klo untuk kekota itu.’
‘jangan begitu,
semua demi masa depan kamu. Besok aku jemput atau tidak?’
‘hmmm..liat
situasi saja dulu kalo tak memungkinkan kekost sendiri ya terpaksa aku minta
bantuanmu’
Dia
tak membalas pesan dariku. Kualihkan perhatianku ke segelas ice vanilla latte
dihadapanku yang kini tinggal setengah penuh. Jalanan sudah mulai lengang
karena malam sudah mulai larut. Aku masih enggan untuk beranjak dari kedai itu.
Ponselku berdering kembali sebuah pesan kembali memenuhi inbox.
‘masih dikedai kopi?’
'Masih belum bosan aku menikmati sabtu malam walau sendiri.’
‘sudah malam
pulang saja nanti ketempat itu lagi bersamaku ketika kita kembali kekota kita.’
Kulirik
jam dipergelangan tangan kiriku, hampir pukul 11 malam pantas saja dia
menyuruhku untuk segera pulang. Kumasukan segala isi tas yang tak sengaja aku
keluarkan semua itu kembali ketasku. Kukenakan jaket dan kuhampiri berobak yang
disulap menjadi dapur dadakan kedai kopi itu lalu kestarter motor dan menuju
arah jalan pulang dengan senyum diwajahku.
Sabtu
malam ini tak lagi menjadi sabtu malam yang sepi. Sabtu malam yang penuh senyum
karena aku tahu dia menungguku dikota itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar