Minggu, 05 Agustus 2012

Setia



Hari itu bukan sabtu malam namun kotaku sangat ramai mungkin karena masih musim anak sekolah liburan. Mereka seperti aku yang sedang berlibur sejenak dari rutinitas diluar kota yang mulai semakin menggila. Malam itu aku iseng keluar rumah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku jadi kuputuskan untuk mencari suasana yang berbeda. Kususuri jalanan yang cukup ramai aku tak tau hendak kemana dipikiranku saat ini adalah keluar rumah. Tak lama aku terjebak disebuah pertigaan dan disitulah aku putuskan untuk ketempat makan yang biasa disambangi anak muda dikotaku, jaraknya tak jauh cukup butuh waktu 5 menit perjalanan naik motor dari pertigaan besar dikotaku. Tempat makan itu sebenarnya tak besar namun menawarkan suasana yang menenangkan walau letaknya ditepi jalan utama kotaku.
Aku memilih sebuah tempat dipojok ruangan semi outdoor karena masih ternaungi atap yang masih menyatu dengan bangunan utama hanya saja tak berdinding hanya tanaman dan kolam yang difungsikan untuk membatasi dengan area lainnya. Baru ku duduk di kursi yang tersedia dipojok ruangan itu dan ping sebuah pesan masuk keponselku
‘kau dimana?aku butuh teman curhat ina tak bisa pulang’
Isi pesan yang setia kirim. Setia disini tak ada sangkut pautnya dengan nama band atau sebuah komitmen untuk tak ada yang lain dalam sebuah hubungan, dia temanku semenjak aku kelas xi sekolah menengah atas dan dia murid pindahan dari luar kota.
‘disalah satu tempat makan didaerah ayani, paling selatan’
Ping tak lama pesan masuk lagi
’15 menit lagi aku sampai’
Kuletakan ponsel dimeja lalu kubuka buku menu yang disodorkan pelayan kepadaku. Milk shake vanilla dan otak-otak bakaar menggodaku untuk menemaniku sambil menunggu setia.
Sesuai yang tertulis dipesannya 15 menit kemudian setia datang bersamaan dengan pesananku. Dia memarkirkan motor balapnya, disamping 125ccku karena memang sebelah 125ku lah yang kosong. Dilepaskannya helm dan diletakannya di kaca spion lalu mengacak-acak rambutnya yang lepek karena helm yang dipakainya sepanjang perjalanan tadi lalu dia berjalan kearahku. Iseng kulihat segerombolan anak perempuan usia sekolah mereka saling berbisik tanpa mengalihkan pandangan dari setia, aku hanya tersenyum , wajar saja setia punya badan yang bagus, dia tinggi paling tidak 170 lebihlah, dadanya bidang, kulitnya coklat terang, wajahnya mulus tanpa ada bekas jerawat, rambutnya tidak panjang juga tidak pendek dan yang terpenting dia punya senyuman yang melelehkan perempuan yang memandangnya.
Dia duduk didepanku. Tak bicara. Akupun diam karena kali ini aku sebagai pendengar. 10menit berlalu kami masih berdiam satu sama lain sampai ia meminum softdrink pesanannya dan mulailah ia berbicara
“pacarku minta putus”keluhnya. Wajahnya menyiratkan bahwa ia tak rela dengan hal itu.
“ya udah terima aja lalu cari yang lain masih banyak yang cantik”kataku asal karena sebenarnya saat ini aku tak siap untuk jadi tempat curhat karena aku bukan penasehat yang baik, aku pendengar yang baik.
“nggak segampang itu”sergahnaya
“hey buka mata dan bercerminlah dengan penampilanmu dan wajahmu itu kau bisa dengan mudah mendapatkan yang baru, yang perlu kau lakukan samperin tuh perampuan ajak kenalan minta nomer telfon ato pin BB lalu ajak kencan beres”solusi yang sangat bagus bagi setia yang di kenal playboy semasa sekolah dulu
“hey tapi ini beda sangat jarang orang seperti dia mungkin sat-satunya didunia ini. Dia sangat spesial dan terlebih dia limited editon”ujarnya
“menurutku dina tak masuk semua yang kau bilang tadi bahkan bella masih lebih cantik dan baik dibanding dina”komentku santai
“hey aku nggak ngomongin dina aku ngomongin pacarku yang terakhir setelah dina”dia mulain gemes
“seingatku pacar terakhirmu itu dina setelah itu kau tak pernah cerita yang lain apalagi mengenalkannya padaku dan ina”aku mulai bingung siapa yang dimaksud pada pembicaraan ini
“aku lupa ngenalin kekamu sama ina”ekspresinya berubah seketika
“trus siapa dia sekarang dan bagaimana orangnya?”tanyaku
Dia tak menjawab namun mengambil ponselnya mengutak atik sebentar lalu menyodorkan ponselnya padaku. Aku menerimanya dan melihat foto yang ia tunjukan, foto dirinya dengan seseorang seusia kami namun sangat mesra bukan mesra yang sengaja dibuat oleh teman-temanku ini benar-benar mesra auranya terpancar dari kedua wajah yang sangat bahagia itu
“dia pacarku” katanya santai” namanya....”
Belum sempat ia menyebutkan nama pacarnya aku memotong bicaranya dengan suara yang kubuat sekecil mungkin agar hanya aku dan dia yang mendengar
“kamu gay?”
“bukan aku tapi pacarku”katanya cukup keras lalu meninggalkanku dengan wajahnya yang marah sedang aku masih duduk terdiam tak percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...