Hari
itu bukan sabtu malam namun kotaku sangat ramai mungkin karena masih musim anak
sekolah liburan. Mereka seperti aku yang sedang berlibur sejenak dari rutinitas
diluar kota yang mulai semakin menggila. Malam itu aku iseng keluar rumah. Ada
sesuatu yang mengganggu pikiranku jadi kuputuskan untuk mencari suasana yang
berbeda. Kususuri jalanan yang cukup ramai aku tak tau hendak kemana
dipikiranku saat ini adalah keluar rumah. Tak lama aku terjebak disebuah
pertigaan dan disitulah aku putuskan untuk ketempat makan yang biasa disambangi
anak muda dikotaku, jaraknya tak jauh cukup butuh waktu 5 menit perjalanan naik
motor dari pertigaan besar dikotaku. Tempat makan itu sebenarnya tak besar
namun menawarkan suasana yang menenangkan walau letaknya ditepi jalan utama
kotaku.
Aku
memilih sebuah tempat dipojok ruangan semi outdoor karena masih ternaungi atap
yang masih menyatu dengan bangunan utama hanya saja tak berdinding hanya
tanaman dan kolam yang difungsikan untuk membatasi dengan area lainnya. Baru ku
duduk di kursi yang tersedia dipojok ruangan itu dan ping sebuah pesan masuk
keponselku
‘kau dimana?aku butuh teman curhat ina tak bisa
pulang’
Isi
pesan yang setia kirim. Setia disini tak ada sangkut pautnya dengan nama band
atau sebuah komitmen untuk tak ada yang lain dalam sebuah hubungan, dia temanku
semenjak aku kelas xi sekolah menengah atas dan dia murid pindahan dari luar
kota.
‘disalah satu tempat makan didaerah ayani,
paling selatan’
Ping
tak lama pesan masuk lagi
’15 menit lagi aku sampai’
Kuletakan
ponsel dimeja lalu kubuka buku menu yang disodorkan pelayan kepadaku. Milk
shake vanilla dan otak-otak bakaar menggodaku untuk menemaniku sambil menunggu
setia.
Sesuai
yang tertulis dipesannya 15 menit kemudian setia datang bersamaan dengan
pesananku. Dia memarkirkan motor balapnya, disamping 125ccku karena memang
sebelah 125ku lah yang kosong. Dilepaskannya helm dan diletakannya di kaca
spion lalu mengacak-acak rambutnya yang lepek karena helm yang dipakainya sepanjang
perjalanan tadi lalu dia berjalan kearahku. Iseng kulihat segerombolan anak
perempuan usia sekolah mereka saling berbisik tanpa mengalihkan pandangan dari
setia, aku hanya tersenyum , wajar saja setia punya badan yang bagus, dia
tinggi paling tidak 170 lebihlah, dadanya bidang, kulitnya coklat terang,
wajahnya mulus tanpa ada bekas jerawat, rambutnya tidak panjang juga tidak
pendek dan yang terpenting dia punya senyuman yang melelehkan perempuan yang
memandangnya.
Dia
duduk didepanku. Tak bicara. Akupun diam karena kali ini aku sebagai pendengar.
10menit berlalu kami masih berdiam satu sama lain sampai ia meminum softdrink
pesanannya dan mulailah ia berbicara
“pacarku
minta putus”keluhnya. Wajahnya menyiratkan bahwa ia tak rela dengan hal itu.
“ya
udah terima aja lalu cari yang lain masih banyak yang cantik”kataku asal karena
sebenarnya saat ini aku tak siap untuk jadi tempat curhat karena aku bukan
penasehat yang baik, aku pendengar yang baik.
“nggak
segampang itu”sergahnaya
“hey
buka mata dan bercerminlah dengan penampilanmu dan wajahmu itu kau bisa dengan
mudah mendapatkan yang baru, yang perlu kau lakukan samperin tuh perampuan ajak
kenalan minta nomer telfon ato pin BB lalu ajak kencan beres”solusi yang sangat
bagus bagi setia yang di kenal playboy semasa sekolah dulu
“hey
tapi ini beda sangat jarang orang seperti dia mungkin sat-satunya didunia ini.
Dia sangat spesial dan terlebih dia limited editon”ujarnya
“menurutku dina tak masuk semua yang kau bilang tadi
bahkan bella masih lebih cantik dan baik dibanding dina”komentku santai
“hey
aku nggak ngomongin dina aku ngomongin pacarku yang terakhir setelah dina”dia
mulain gemes
“seingatku
pacar terakhirmu itu dina setelah itu kau tak pernah cerita yang lain apalagi
mengenalkannya padaku dan ina”aku mulai bingung siapa yang dimaksud pada
pembicaraan ini
“aku
lupa ngenalin kekamu sama ina”ekspresinya berubah seketika
“trus
siapa dia sekarang dan bagaimana orangnya?”tanyaku
Dia
tak menjawab namun mengambil ponselnya mengutak atik sebentar lalu menyodorkan
ponselnya padaku. Aku menerimanya dan melihat foto yang ia tunjukan, foto
dirinya dengan seseorang seusia kami namun sangat mesra bukan mesra yang
sengaja dibuat oleh teman-temanku ini benar-benar mesra auranya terpancar dari
kedua wajah yang sangat bahagia itu
“dia
pacarku” katanya santai” namanya....”
Belum
sempat ia menyebutkan nama pacarnya aku memotong bicaranya dengan suara yang
kubuat sekecil mungkin agar hanya aku dan dia yang mendengar
“kamu
gay?”
“bukan
aku tapi pacarku”katanya cukup keras lalu meninggalkanku dengan wajahnya yang
marah sedang aku masih duduk terdiam tak percaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar