Kamis, 12 Desember 2013

Kejutan Untuk Mereka

Aku kembali menmandangi undangan yang datang satu minggu lalu dengan bimbang tak tau apa yang harus aku lalukan. Akankah aku menghadirinya atau tidak semuanya masih abu-abu diotakku?
  “so jadi datang?” katanya memecah kehaningan diantara kami, setelah aku bercerita panjang lebar kepadanya via telefon
  “aku masih bingung kalaupun datang pasti mereka mengajukan satu pertenyaan wajib setiap kali kami bertemu kalau tidak datang sudah terlalu lama aku tak bertemu mereka” aku kembali berkeluh kesah padanya dan dia hanya menenangkan aku yang sudah terlalu sering bingung dengan apa yang harus aku ambil
  “ya sudah kita datang saja sekalian kau ceritakan pada mereka sebenarnya” katanya mengambil keputusan
  “kenapa gak kamu saja yang cerita pada mereka? Hey kamu dirumah?” aku kaget seperti ini lagi kejutan tak terduga
  “iya aku dirumah dan bagian ina ima ike dan lainnya itu jatah kamu aku gak mau tahu itu udah jadi tugasmu” dia ngotot tak mau menggantikan aku untuk memberitahu sahabatku
  “katanya lusa baru balik eh skarang udah dirumah gak bilang-bilang lagi” kataku dengan nada bete
  “aku ambil cuti beberapa hari lebih cepat biar bisa kencan sama kamu untuk terakhir kalinya lagian kalau balik lusa udah bakalan gak boleh ketemu kamu” katanya menjelaskan alasan kepulangannya yang dipercepat
  “oo.. tadinya aku fikir aku akan mengejutkan mereka  seorang diri” kataku lega
  “aku tak bisa membayangkan kamu dibully mereka aku lebih suka melihat langsung kau dibully mereka haaaahahaaaa.....”katanya senang
  “kau jahat” aku kesal. Kenapa dia tak berubah selalu bercanda denganku
  “untuk terakhir kalinya gak pa-palah. Jadi besok jam berapa?”
  “kalau bisa datang lebih awal dari kemarin hama menanyakanmu terus katanya minta dibantuin bikin papercraft”
  “tak perlu bawa coklatkan?” ia mempertanyakan sesuatu yang aku suka
  “seharuskan kamu yang minta dari dia bukan dia yang minta kamu tapi kalau kamu bawa juga gak pa-pa tapi bawa dua yah biar kakaknya gak ngiri. Ok bye” aku memutus perbincangan kami tanpa menunggu persetujuan darinya

****

Dihari yang dijadwalkan dia datang tepat waktu ya sesuai yang ku bilang ditelfon dia datang langsung bertemu dengan hama dan terlarut didunia mereka yang terkadang tak aku mengerti kenapa semua mengasikkan bagi mereka walau hanya memotong melipat dan merekatkan lembaran kertas yang telah cetak dengan pola-pola tertentu
  “ok semuanya lanjut nanti sekarang waktunya awan bareng aku” aku menarik awan yang asik dengan kerjaannya
  “yah nanggung nih bentar lagi jadi” protes hama karena kehilangan patner andalannya setelah ayahku
  “kau siap?” katanya membuka percakapan kami
  “tak yakin aku bisa lakukan dengan mulutku sendiri” kataku dengan wajah ngeri
  “kau tak mengatakannya hanya perlu memberikannya” ia menangkan seperti yang sudah-sudah selalu tenang dalam segala kondisi
  “ya.. kenapa kau baru memberitahukan mereka dari dulu?” tanyaku yang ingin mengetahui alasan kenapa ia menyembunyikan semuanya
  “karena aku inginn menikmati semuanya hanya berdua denganmu tak perlu diumbar kepada yang lain kalau aku sedang bahagia” jelasnya
  “jadi kau hanya ingin cerita saat kau sedih saja?” aku menarik sebuah kesimpulan
  “kalau itu aku simpan lebih rapat lagi dan kenapa kau tak ceritakan pada semuanya?” dia mempertenyakan yang sama
  “jawabannya sama sepertimu dan aku selalu tak punya kesempatan untuk cerita saat bersama mereka tapi secara tidak langsung aku sudah menuliskan semua tentang kita kepada mereka” kataku dengan sedikit sedih
  “ok sekarang turun dan kita nikmati semuanya” katanya begitu selesai memakirkan crv hitam kesayangannya
Aku melangkah memasuki aula sekolahku, mencari-cari segelintirr orang yang selalu meyenangkan disegala suasana. Ini saatnya acara bersama teman dan sahabatku bukan acara aku dengan dia jadi kulupakan saja dia yang kini mungkin sudah larut dengan dunianya
  “ina ima ike” kataku histeris begitu melihat sahabatku tengah bercanda ria. Sahabatkuyang sudah hampir sepuluh tahun menamaniku lewat jejaring sosial atau lainya
  “asa...”kata mereka tak kalah histeris. Kami saling berpelukan melepas kangen yang tertunda selama beberapa bulan yang tak terhitung
  “sama siapa?” tanya ike
  “seperti yang kau lihat, seperti biasa bersama diri sendiri” kataku santai
  “tak kira sama orang yang kamu tuliskan kepada kami?” ima menggoda
  “yang itu masih dalam perjalanan” aku kembali memberi alasan
  “ya bilang suruh cepetlah tinggal kamu yang belum lho dan mereka butuh seorang lagi untuk memperseru obrolan” kata ina sambil menunjuk pasangan mereka yang tengah asik ngobrol seru seperti kami, pasangan mereka lebih memilih untuk ngobrol sendiri dari pada harus mendengarkan kami bergosip ria
  “ya nanti aku bilang dengan dia yang tengah dalam perjalanan” kataku menanggapi perkata ina “kalian sudah bertemu dengan teman sekelas?” tanyaku
  “ini baru akan mencari mereka” kata ike
  “ok nanti jangan pulang dulu aku tunggu dipintu masuk ya dan kamu ina, hari aku mau jadi orang ketiga diantara kamu dan kamu” kataku sambil menunjuk seseorang yang kin sudah ada disamping ina. Masing-masing dari kami pergi mencari teman-teman kami yang lain yang juga lama tak kami jumpai beberpa waktu ini. Ima dengan pasangannya begitu juga dengan ike sedang ina kali ini dapat pengganggu yaitu aku.
Suasana kini mulai lenggang hanya segelintir dari kami yang masih ingin menikmati suasana sekolah yang mulai sepi, yang seolah membawa kami ke beberapa tahun silam yang selalu suka suasana sekolah ketika hanya ada kami, sangat menyenangkan. Aku, ina, ima dan ike tengah asik berbicara didepan aula disitu pula ada dia bersama kawan seperjuangannya dulu yang terkenal kompak hingga saat ini, aku juga kenal baik dengan mereka walau tak baik dia. Aku mengalihkan perhatiaku dari ike yang asik bercerita keposel digenggamanku, sebuah pesan menghampiri poselku

From awan
Aku ambil mobil dulu kamu dan yang lain tunggu di depan aula, kita kejutkan mereka

Dia kembali dengan kawanya yang berkurang satupun seperti semuanya tak ingin hari itu berakhir sambil  membawa sesuatu yang  teman-temannya tak sadari apa itu, aku melihatnya sekilas dan dia memberikan tanda tatapan matanya seperti berkata sekarang waktunya. Aku mengeluarkan sesuatu dari tasku dan mulai membagikannya ke sahabatku begitu pula dengan dia
  “apa ini?” tanya ina yang bingung dengan apa yang aku berikan padanya
  “dari siapa?” ike penasaran
  “ini titipan dari dia” kataku sambil menunjuk sesorang yang tengah membagikan sesuatu keteman-temannya dan dia juga menjawab yang sama saat salah seorang temannya bertanya yang sama. Mereka mulai membuka undangan dengan warna dominan coklat, tak ada inisial siapa yang akan mengadakan acara hanya ada nama teman kami dan pasangannya
  “jadi selama ini kalian!!” seru mereka hampir bersamaan
  “kalian wajib datang tak mau tau alasan apapun dan kami pulang dulu” kata awan dan kami segera memasuki mobil dan meninggalkan mereka yang masih setengah syok tak menyangka aku dan dia merencanakan untuk bersama dan beginilah dia seseorang yang selalu memberikan kejutan dengan caranya sendiri.

Ska, 1 september 2013
-untuk pertama kalinya terlepas dan aku mulai menikmatinya-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...