Dua isan asik duduk termangu di sebuah meja disalah satu restoran yang cukup romantic dikawasan itu. Keduanya masih berkutat dengan pikiran mereka masing-masing . akhirnya sang perempuan mulai angkat bicara
“bolehlah aku tahu salah satu alasanya?”
“seperti yang didambakan setiap manusia, cinta. Sebab cinta adalah sesuatu yang begitu indah, suci dan memesona. Cukuplah aku merasakannya lewat Nida dan Michael. Dalam imajinasi dalam khayalanku yang mungkin tak terwujud dalam hidupku”
“bagaimana bila terwujud apakah kau akan menolaknya?”
“cinta takan bermakna tanpa keberanian untuk perjuangan. Dan untuk memperjuangkan cinta harus diawali dengan kejujuran hati untuk mengaku pada diri sendiri. Tidak Dian! Sudah kukatakan, hidupku bukan hanya untuk mengakui bahwa aku memang mencintai, bahwa aku memang merindui, bahwa aku memang menyanyangi, mengasihi, dengan segenap ahti dan diri. Sudah kukatakan aku tak berani menyebut namanya, mendengarkan suaranya, menatap wajahnya, membisikan kata cinta agar ia tahu bahwa cinta ini lahir dari hati, sesuci embun pagi, seputih bidadari,cinta ini kubutuhkan untuk melengkapi hidup, menjadikanku manusia sesungguhnya, manusia yang tercipta karena madu cinta”
“katakana, siapa namanya?”
fatih diam, pandangannya tak tentu. Dan ….dalam sekali hembusan nafas kalimat itu meluncur “Engkau…. Engkau yang kucintai”
Sebuah gelombang dahsyat menghempaskan dian kedimensi lain.belum pernah ia merasakan ungkapan cinta yang seekspresif, setulus, sejujur dan seindah ini. Hawa dingin menyelimuti dinding hatinya merembes kepori-pori, menetes dari sudut matanya yang berkaca-kaca.
disadur daari novel derap-derap tasbih dengan sedikit perubahan
“bolehlah aku tahu salah satu alasanya?”
“seperti yang didambakan setiap manusia, cinta. Sebab cinta adalah sesuatu yang begitu indah, suci dan memesona. Cukuplah aku merasakannya lewat Nida dan Michael. Dalam imajinasi dalam khayalanku yang mungkin tak terwujud dalam hidupku”
“bagaimana bila terwujud apakah kau akan menolaknya?”
“cinta takan bermakna tanpa keberanian untuk perjuangan. Dan untuk memperjuangkan cinta harus diawali dengan kejujuran hati untuk mengaku pada diri sendiri. Tidak Dian! Sudah kukatakan, hidupku bukan hanya untuk mengakui bahwa aku memang mencintai, bahwa aku memang merindui, bahwa aku memang menyanyangi, mengasihi, dengan segenap ahti dan diri. Sudah kukatakan aku tak berani menyebut namanya, mendengarkan suaranya, menatap wajahnya, membisikan kata cinta agar ia tahu bahwa cinta ini lahir dari hati, sesuci embun pagi, seputih bidadari,cinta ini kubutuhkan untuk melengkapi hidup, menjadikanku manusia sesungguhnya, manusia yang tercipta karena madu cinta”
“katakana, siapa namanya?”
fatih diam, pandangannya tak tentu. Dan ….dalam sekali hembusan nafas kalimat itu meluncur “Engkau…. Engkau yang kucintai”
Sebuah gelombang dahsyat menghempaskan dian kedimensi lain.belum pernah ia merasakan ungkapan cinta yang seekspresif, setulus, sejujur dan seindah ini. Hawa dingin menyelimuti dinding hatinya merembes kepori-pori, menetes dari sudut matanya yang berkaca-kaca.
disadur daari novel derap-derap tasbih dengan sedikit perubahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar