Kami
berkumpul, ya aku dan teman2ku suka sekali berkumpul entah itu untuk
pergi ke suatu tempat atau hanya untuk sekedar mengobrol dan saling
tukar pikiran. Kali ini kami berkumpul untuk merayakan sesuatu yang
patut dirayakan, ada semuanya dari perkumpulan kami, dari yang baru
bergabung hingga yang bisa dibilang terlalu senior. Ada satu orang yang
baru sekali aku lihat mungkin beberapa kali ikut berkumpul bersama kami,
seseorang membawanya kemari, sebut saja dia arya, cwo yang tak terlalu
tinggi namu lebih tinggi dari diriku, badannya tak gendut juga tak
kurus, kaca mata berframe hitam tebal selalu bertengger dihidung
mancungnya, senyumnya menawan sampai aku sempat terpesona olehnya, dia
dibawa oleh jali atau mungkin lebih tepatnya diseret oleh jali masuk
keperkumpulan kami.
Hari itu, prisa datang terlambat. Dia datang terburu dengan sekotak makanan ditangannya, sudah menjadi kebiasaannya saat bertemu dengan kami. Kali ini ia datang jalan kaki, ia tak ditemani matic putih kesayangannya
"Kok jalan kaki sa?" Tanyaku ke prisa, aku melihatnya mengatur nafasnya
"Tadi aku lihat jalan depan kantor macet jadi jalan deh untung aja deket" jawabnya begitu nafasnya mulai teratur, prisa menyerahkan kotak yang dibawanya kesalah satu dari kami dan disabut suka cita oleh yang lain
"Mas arya kok kesini lagi" tanya afmi yang melihat arya kembali setelah beberapa saat yang lalu pamit pergi. Prisa yang mendengar nama arya disebut langsung membalikkan badan dan salah tingkah, semua yang ada paham apa yang terjadi. Prisa yang selalu mengungkapkan apa yang dia rasakan itu terpesona dengan senyum arya yang menawan. Wajahnya merah padam dan mulai mencubit siapa saja yang mencoba menggodanya termasuk afmi yang mencoba memberi tahu arya kalau prisa tertarik padanya
"Mau kasih tahu sama semuanya kalau ditunggu jali dtempat makan biasa" kata arya sambil tersenyum melihat apa yang terjadi, mungkin arya paham dengan situasi yang terjadi dan prisa semakin salah tingkah, ia sudah jatuh hati pada senyuman arya saat pertama melihat arya tersenyum dibalik kemudi saat kami berlibur bersama.
Semua bersiap dengan kendaraan masing2 termasuk arya dengan motor pinjaman
"Mas arya, mba prisa minta diboncengin nih" celetuk afmi yang tak kapok dengan cubitan prisa masih tetap menggoda prisa, prisa yang sudah terlanjur malu mendekati aman
"Aman, anterin aku balik kekantor ya?" Pinta prisa
"Ini baru mau berangkat kenapa harus balik kekantor?" Aku yang didekat prisa mencoba meyakinkan untuk ikut
"Ini sabtu lho?" Uni juga menambahkan dengan menyebutkan hari itu hari libur, karena hampir semua dari kami memiliki waktu 5 hari kerja termasuk prisa
"Ada pelatihan dikantor dan aku penanggung jawab pelatihan" prisa beralasan agar semua paham akan kondisinya sekarang
"Kalau gitu kenapa kesini?" Aman yang bingung kenapa prisa cabut dari tangung jawabnya
"Aku hanya gak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu kalian minggu ini dan setengah jam lagi pelatihan dimulai jadi antar aku sekarang" kata prisa yang sudah siap dibocengan motor aman
"Kamu sama siapa?" Arya yang ada didekatku bertanya dengan siapa aku akan pergi ketujuan
"Aku dengan siapa aja yang masih kosong" jawabku karena aku seorang nebenger jadi harus siap siapa saja yang akan menjadi sopir relawan untukku
"Sama aku saja, aku kosong kok" aku kaget mendengar jawaban arya yang menawarkan boncengan kepadaku. Aku tak tahu harus senang atau tidak, aku senang ya karena ada yang sukarela menjadi supirku hari itu, aku tidak senang karena aku merebut kesempatan prisa untuk lebih dekat dengan arya
Kami melaju, prisa dan aman berada didepan sedang aku dan arya dibelakang mereka, lalu lintas yang padat membuat siapapun yang jeli bisa mendahului yang lain begitupun aku dan arya begitu melihat kesempatan arya mempercepat gas motornya dan mendahului prisa dan aman. Prisa kaget melihatku dibonceng arya sedang aman tersenyum melihat ekspresi prisa dari kaca spion. Aku yang duduk menyamping karena aku menggunakan rok panjanh dengan leluasa menghadap keprisa dan tersenyum kearah prisa. Akumemberikan kode agar aku dan dia bertukar tempat agar dia bisa dibonceng arya namun ia menolak tanggung jawabnya memaksanya merelakan kesempatan emas untuk dibonceng orang yang membuatnya terpesona meski ia sudah punya kekasih.
Kami sampai dirumah makan langganan kami saat kami berkumpul untuk makan. Aku berdiri disamping arya, menunggu yang lain
"Kalian berdua kaya pasangan aja" celetuk afmi yang tak kupahami siapa kalian disini "bajunya sampai couple gitu" aku mencari tahu siapa yang memakai baju yang mirip hari itu. Aku dandan arya tertawa menyadari apa yang diucapkan afmi, kemeja arya senada dengan long dress yang aku pakai hari itu
"Jangan bilang gitu nanti ada yang kecewa berat tadi aja pas lihat udah kaya mau pingsan kok" ujarku yang disambut tawa oleh yang lain yang paham dengan apa yang aku ucapkam
Hari itu, prisa datang terlambat. Dia datang terburu dengan sekotak makanan ditangannya, sudah menjadi kebiasaannya saat bertemu dengan kami. Kali ini ia datang jalan kaki, ia tak ditemani matic putih kesayangannya
"Kok jalan kaki sa?" Tanyaku ke prisa, aku melihatnya mengatur nafasnya
"Tadi aku lihat jalan depan kantor macet jadi jalan deh untung aja deket" jawabnya begitu nafasnya mulai teratur, prisa menyerahkan kotak yang dibawanya kesalah satu dari kami dan disabut suka cita oleh yang lain
"Mas arya kok kesini lagi" tanya afmi yang melihat arya kembali setelah beberapa saat yang lalu pamit pergi. Prisa yang mendengar nama arya disebut langsung membalikkan badan dan salah tingkah, semua yang ada paham apa yang terjadi. Prisa yang selalu mengungkapkan apa yang dia rasakan itu terpesona dengan senyum arya yang menawan. Wajahnya merah padam dan mulai mencubit siapa saja yang mencoba menggodanya termasuk afmi yang mencoba memberi tahu arya kalau prisa tertarik padanya
"Mau kasih tahu sama semuanya kalau ditunggu jali dtempat makan biasa" kata arya sambil tersenyum melihat apa yang terjadi, mungkin arya paham dengan situasi yang terjadi dan prisa semakin salah tingkah, ia sudah jatuh hati pada senyuman arya saat pertama melihat arya tersenyum dibalik kemudi saat kami berlibur bersama.
Semua bersiap dengan kendaraan masing2 termasuk arya dengan motor pinjaman
"Mas arya, mba prisa minta diboncengin nih" celetuk afmi yang tak kapok dengan cubitan prisa masih tetap menggoda prisa, prisa yang sudah terlanjur malu mendekati aman
"Aman, anterin aku balik kekantor ya?" Pinta prisa
"Ini baru mau berangkat kenapa harus balik kekantor?" Aku yang didekat prisa mencoba meyakinkan untuk ikut
"Ini sabtu lho?" Uni juga menambahkan dengan menyebutkan hari itu hari libur, karena hampir semua dari kami memiliki waktu 5 hari kerja termasuk prisa
"Ada pelatihan dikantor dan aku penanggung jawab pelatihan" prisa beralasan agar semua paham akan kondisinya sekarang
"Kalau gitu kenapa kesini?" Aman yang bingung kenapa prisa cabut dari tangung jawabnya
"Aku hanya gak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu kalian minggu ini dan setengah jam lagi pelatihan dimulai jadi antar aku sekarang" kata prisa yang sudah siap dibocengan motor aman
"Kamu sama siapa?" Arya yang ada didekatku bertanya dengan siapa aku akan pergi ketujuan
"Aku dengan siapa aja yang masih kosong" jawabku karena aku seorang nebenger jadi harus siap siapa saja yang akan menjadi sopir relawan untukku
"Sama aku saja, aku kosong kok" aku kaget mendengar jawaban arya yang menawarkan boncengan kepadaku. Aku tak tahu harus senang atau tidak, aku senang ya karena ada yang sukarela menjadi supirku hari itu, aku tidak senang karena aku merebut kesempatan prisa untuk lebih dekat dengan arya
Kami melaju, prisa dan aman berada didepan sedang aku dan arya dibelakang mereka, lalu lintas yang padat membuat siapapun yang jeli bisa mendahului yang lain begitupun aku dan arya begitu melihat kesempatan arya mempercepat gas motornya dan mendahului prisa dan aman. Prisa kaget melihatku dibonceng arya sedang aman tersenyum melihat ekspresi prisa dari kaca spion. Aku yang duduk menyamping karena aku menggunakan rok panjanh dengan leluasa menghadap keprisa dan tersenyum kearah prisa. Akumemberikan kode agar aku dan dia bertukar tempat agar dia bisa dibonceng arya namun ia menolak tanggung jawabnya memaksanya merelakan kesempatan emas untuk dibonceng orang yang membuatnya terpesona meski ia sudah punya kekasih.
Kami sampai dirumah makan langganan kami saat kami berkumpul untuk makan. Aku berdiri disamping arya, menunggu yang lain
"Kalian berdua kaya pasangan aja" celetuk afmi yang tak kupahami siapa kalian disini "bajunya sampai couple gitu" aku mencari tahu siapa yang memakai baju yang mirip hari itu. Aku dandan arya tertawa menyadari apa yang diucapkan afmi, kemeja arya senada dengan long dress yang aku pakai hari itu
"Jangan bilang gitu nanti ada yang kecewa berat tadi aja pas lihat udah kaya mau pingsan kok" ujarku yang disambut tawa oleh yang lain yang paham dengan apa yang aku ucapkam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar