Minggu, 28 Juni 2015

Karena Seperti Mereka Sudah Terlalu Biasa

Karena seperti mereka sudah terlalu biasa
Hari sudah mulai terang, para pencari sunrise sudah mulai resah apa yang dinanti sudah akan hilang pesona. Aku masih setia dengan sleepingbag pinjaman dari eko sehari hari sebelumnya, aku tak suka udara dingin dipagi hari itu akan membuatku tak berhenti untuk bersin. Aku bukan mereka para pencari sunrise yang datang jauh dari tempat mereka berada hanya untuk menikmati keindahan yang sekejap, aku lebih suka mentari yang bersinar penuh karena aku bisa menghangatkan tubuhku sepuas hatiku.
"Keluar bentar lg sunrise habis" ujar jali yang melihatku masih berbalut sleeping bag sambil duduk memeluk lututku. Tanpa banyak komentar aku keluar dr sleepingbagq, melipatnya dan memasukan kekantongnya kembali lalu menyambar ranselku mengambil sarung milik ayah yg kubawa kemana2 jika aku menginap dan dua kantong tisu basah dan kering.
Aku keluar tenda dan meregangkan tubuhku sejenak dan berlalu kearah lain jaih dari kumpulan tenda berdiri
"Kemana?" Ujar deni bertanya
"Nandain wilayah" jawabku asal mereka paham apa yang aku maksudkan
"PAntesan aja wajahnya suwung bgt dr tadi" sayup2 yg lain menimpali kespresiku ketika menahan pipis.
AKu kembali dengan wajah sumringah lega, apa yang seharusnya pergi sudah aku relakan dan tak berharap itu akan kembali
"Ayo brangkat" jali mengomando yang lain agar segera melanjutkan perjalanan kepuncak
"AKu belum sarapan" keluhku tanpa jawaban dr yg lain juli melempar sebuah ransel kecil padaku kubuka isinya satu bungkus roti, madu coklat, air kelapa dalam kemasan dan sebotol air minum. Aku tersenyum dan mulai mengikuti mereka.
Langkah demi langkah, aku semakin jauh. Tempatku menginap semalam terlihat seperti kumpulan titik warna warni dari jauh
"Semalam kita disana?" Aku bertanya pada jali yang duduk disampingku saat kami sampai dipuncak. Ia mengangguk tanpa sepatah kata yang terucap
"Kemana?" TAnyanya melihatku beranjak dari sisinya
"Cari tempat teduh panas nih"
AKu mendapat tempat berteduh bukan dibawah pohon rindang tapi semak belukar, aku merebahkan tubuhku dan memandang langit tak ada bisa cara lain menikmati keindahan ciptaan-NYA selain duduk dan merenung.
Aku terjaga dengan kaget, aku ketiduran diantara lamunanku. Tak perlu waktu lama aku menemukan gerembolanku, kuhampiri jali yg masih setia duduk dan menikmati pemandangan.
"Gak foto2?" Ia bertanya padaku dan aku mengalihkan pandanganku kesekitar
"Masim musim foto2 dipuncak gunung sambil bawa kertas yah?" Aku balik bertanya padanya, dia tertawa seketika
"Iya lg tren foto sambil bawa kertas, km gak ikutan biar punya bukti buat pamer kalo udah naik gunung"
"Tak perlu foto kau mau nunjukin bukti udah naik gunung"
"Tp km kan gak bisa uplod Foto klo km udah naik gunung apalagi ini yang pertama lho"
"Gak masalah klo gak bisa diuplod"
"Sepertinya apa yang jd alasanmu menarik, jelaskan padaku kenapa km gak seperti mereka yg berfoto dengan mententang tulisan2 itu"
Jali, seorang yg jauh lebih ekspert dalam mendaki gunung daripada aku meminta penjelasan kenapa aku tak seperti mereka
"Ini memang puncak gunung pertama yg kuinjak mungkin satu2 kalo aku tak punya kesempatan lagi. Kenapa aku tak mau berfoto seperti mereka? Karena ada beberapa alasan pertama semua itu merubah niatmu, niat yang awalnya melakukan perjalanan untuk menikmati keindahan ciptaannya berubah jd akan foto dipuncak gunung sambil bawa tulisan2 itu"
"Kau benar, rasa bersyukur yg spontan berubah dengan langsung mengeluarkan kamera"
"Kedua, jika aku seperti mereka, aku akan lupa dengan sekitarku, ada hamparan hijau yg luas yg bisa kita dilihat tanpa melalui kotak hitam kecil itu, ketiga mereka bisa kehilangan apa yg mereka abadikan sedang aku tidak"
"Maksudnya?"
"Seperti kita, merekam dengan mata dan menyimpan di otak kita. Kamera tercanggih yang tak bisa dikalahkan kamera manusia dan memory terbesar dari yang dibayangkan manusia. Keempat mereka tak punya cerita seperti kita, kalau ditanya dipuncak ngapain . Yg lain jawab denga satu kata dan kita jawab dengan satu cerita, kalau diminta bukti ajak langsung kesini biar juga bisa lihat langsung tak cuma lewat foto dan yang terakhir apa yg mereka lakukan terlalu mainstream. Mending yg kaya aku antimainstrem hahahahaa...." aku mengkahiri ceritaku
"Klo semua orang kaya kamu pasti puncak ini bersih gak kaya sekarang, penuh dengan kertas yang ditinggalkan begitu saja, tapi gak ada salahnyakan sekali atau dua kali foto?" Jali mengajakku foto bersama dengan gerombolan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pohon mangga depan rumah

Siang itu ada yang berbeda ketika aku sampai didepan rumah. Ayah tengah sibuk membongkar teras depan rumah untuk ditinggikan, karena suda...